{"id":46282,"date":"2026-09-11T19:56:01","date_gmt":"2026-09-11T12:56:01","guid":{"rendered":"https:\/\/kadin.id\/?post_type=kabar&#038;p=46282"},"modified":"2026-09-14T13:59:19","modified_gmt":"2026-09-14T06:59:19","slug":"james-riady-indonesia-tak-kekurangan-destinasi-tapi-kemampuan-mengubah-potensi-menjadi-devisa","status":"publish","type":"kabar","link":"https:\/\/kadin.id\/en\/kabar\/james-riady-indonesia-tak-kekurangan-destinasi-tapi-kemampuan-mengubah-potensi-menjadi-devisa\/","title":{"rendered":"James Riady: Indonesia Does Not Lack Destinations, but Lacks the Capacity to Turn Potential into Foreign Exchange Earnings"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Jakarta<\/strong> &#8211; Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang sulit ditandingi negara lain, tetapi belum sepenuhnya mampu mengubah keunggulan tersebut menjadi kunjungan wisatawan, devisa, investasi, dan lapangan kerja. Karena itu, pembangunan pariwisata harus difokuskan pada penguatan ekosistem yang menghubungkan destinasi dengan transportasi, akomodasi, promosi, layanan, serta pengalaman wisata berkualitas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal itu disampaikan Wakil Ketua Umum Koordinator (WKUK) Bidang Luar Negeri Kadin Indonesia James T. Riady dalam pembukaan Kadin Monthly Diplomatic Economic Breakfast bertajuk &#8220;Tourism: Indonesia&#8217;s Next Growth Engine Jobs, Investment, Region and The World&#8221; di Kantor Kementerian Pariwisata, Jakarta, Jumat (11\/09\/2026).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Forum itu mencatat kehadiran perwakilan dari 67 negara, terdiri atas 39 duta besar dan 28 anggota korps diplomatik lainnya. Menurut James, jumlah tersebut merupakan partisipasi diplomatik terbesar sejak Kadin menyelenggarakan forum sarapan ekonomi bulanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIndonesia sesungguhnya tidak memiliki masalah dengan aset pariwisata. Kita menghadapi persoalan konversi,\u201d kata James.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persoalan yang dimaksud adalah bagaimana Indonesia mengubah keindahan alam menjadi destinasi yang mudah dijangkau, aksesibilitas menjadi pengalaman berwisata, pengalaman menjadi belanja wisatawan, belanja menjadi investasi, serta investasi menjadi lapangan kerja dan kesejahteraan masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">James menegaskan, sebagian besar modal dasar pariwisata Indonesia telah tersedia. Indonesia memiliki pantai, laut, lokasi selam dan selancar kelas dunia, ribuan pulau, gunung berapi, hutan, kekayaan budaya, keragaman kuliner, serta masyarakat yang dikenal ramah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, kekayaan tersebut belum selalu ditopang ekosistem pariwisata yang memadai. Indonesia masih perlu memperkuat konektivitas penerbangan, kapasitas hotel, transportasi publik, pusat perbelanjaan, restoran, penyelenggaraan acara, kebersihan destinasi, kemudahan perjalanan, konektivitas digital, dan konsistensi promosi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPotensi itu sudah kita bicarakan selama puluhan tahun. Tantangannya sekarang adalah bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi jumlah kedatangan wisatawan, masa tinggal yang lebih panjang, belanja yang lebih besar, investasi, lapangan kerja, dan kunjungan berulang,\u201d ujarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah tekanan pertumbuhan ekonomi global, tingginya biaya modal, dan terbatasnya ruang fiskal pemerintah, James menilai Indonesia harus menemukan sektor-sektor yang dapat bergerak dan memberikan hasil lebih cepat. Selain kecerdasan buatan dan teknologi serta sektor perumahan, pariwisata merupakan salah satu peluang utama yang harus mendapat tempat lebih besar dalam strategi pertumbuhan nasional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dari pembangunan industri baru, Indonesia tidak perlu menciptakan aset pariwisata dari awal. Yang diperlukan adalah keberanian membangun infrastruktur pendukung, menyederhanakan regulasi, memperbaiki pelayanan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta mengemas kekayaan alam dan budaya menjadi produk wisata yang menarik bagi pasar internasional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut James, pembangunan pariwisata tidak selalu harus dimulai dengan proyek berskala besar. Perubahan cara mengemas sebuah stasiun MRT, pembukaan satu rute penerbangan baru, pembangunan marina, penyempurnaan kebijakan visa, kampanye media sosial, pengembangan kawasan belanja, atau perbaikan akses dari bandara dapat memberikan dampak ekonomi yang besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Forum tersebut juga menghadirkan sejumlah pelaku usaha untuk menyampaikan masukan praktis. Pendiri Tomorrow Retail Group Kenny Koesoemo membahas perkembangan wisata perkotaan di Jakarta, terutama meningkatnya kunjungan wisatawan Asia Tenggara, khususnya dari Malaysia, untuk menikmati pusat kuliner, kawasan Blok M, pusat perbelanjaan, gaya hidup, serta perjalanan menggunakan kereta cepat Whoosh menuju Bandung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fenomena tersebut, kata James, memperlihatkan perubahan cara wisatawan memilih destinasi. Arus wisata tidak lagi hanya digerakkan kampanye konvensional, tetapi juga oleh konten yang tersebar melalui TikTok dan Instagram. Ketika sebuah tempat, makanan, atau pengalaman menjadi viral, ribuan orang dapat terdorong untuk datang dan merasakan pengalaman serupa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perspektif industri perjalanan wisata internasional disampaikan Wakil ketua Umum (WKU) Bidang Pariwisata Kadin Indonesia sekaligus CEO Pacto Raty Ning. Sementara itu, perwakilan diplomatik Singapura dan Qatar diharapkan berbagi pengalaman mengenai pembangunan pariwisata di negara masing-masing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">James mengatakan, Singapura berhasil membangun salah satu ekonomi pariwisata paling maju di dunia meskipun memiliki sumber daya alam yang terbatas. Keberhasilan itu ditopang kemampuan mengemas pengalaman, konektivitas, penyelenggaraan acara, infrastruktur, dan pelayanan. Qatar juga dinilai berhasil memanfaatkan penerbangan, infrastruktur, perhotelan, acara internasional, dan strategi pencitraan global untuk meningkatkan visibilitasnya sebagai destinasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam forum tersebut, Gubernur Sumatra Barat Mahyeldi Ansharullah memaparkan potensi daerahnya yang mencakup kuliner, warisan budaya, pegunungan, pantai, kepulauan, serta kawasan selancar bertaraf internasional. Sumatera Barat dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat hubungannya dengan perekonomian Samudra Hindia dan memosisikan diri sebagai destinasi internasional, bukan hanya tujuan wisata domestik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa membawa perspektif pembangunan destinasi di provinsi baru yang memiliki kekayaan alam dan bentang alam luar biasa. Papua Tengah menghadapi tantangan membangun institusi pemerintahan, infrastruktur, konektivitas, serta sumber daya manusia hampir secara bersamaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut James, kehadiran kedua gubernur itu menegaskan bahwa masa depan pariwisata Indonesia tidak hanya dibangun di Jakarta dan Bali, melainkan di berbagai daerah. Karena berada paling dekat dengan destinasi, persoalan lapangan, dan pelaku usaha lokal, Kadin Daerah mempunyai peran penting dalam menjembatani peluang investasi dengan kebutuhan konkret masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pariwisata, lanjut James, mempunyai daya ungkit yang luas dan dapat langsung dirasakan masyarakat. Pembangunan hotel menciptakan pekerjaan, restoran menyerap tenaga kerja, dan pembukaan rute penerbangan baru menggerakkan transportasi serta jasa pendukung. Bahkan, secangkir kopi yang dibeli wisatawan dapat menghasilkan pendapatan bagi kedai, distributor, pengolah kopi, hingga petani.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Demikian pula, usaha wisata selam menciptakan pekerjaan bagi pemandu, awak kapal, penyedia penginapan, dan masyarakat pesisir. Ketika sebuah destinasi berkembang, peluang ikut terbuka bagi sektor transportasi, kuliner, ritel, kerajinan, hiburan, dan usaha mikro, kecil, dan menengah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPariwisata bukan semata-mata mengenai wisatawan. Pariwisata adalah tentang lapangan kerja, pertumbuhan daerah, devisa, kewirausahaan, dan kepercayaan diri bangsa,\u201d tegas James.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">James menambahkan, Indonesia tidak kekurangan potensi pariwisata. Menurutnya, yang diperlukan adalah membuka dan mengembangkan potensi tersebut dalam skala yang lebih besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPariwisata adalah salah satu cara paling nyata untuk mengubah apa yang Tuhan sudah anugerahkan kepada Indonesia alam, budaya, manusia, dan keberagaman menjadi lapangan kerja, investasi, dan kemakmuran bagi rakyat,\u201d ujarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia berharap pertemuan yang mempertemukan pemerintah, korps diplomatik, kepala daerah, investor, pengusaha, praktisi, serta jajaran Kadin tersebut menghasilkan gagasan yang dapat segera diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Seluruh masukan dalam forum itu selanjutnya disampaikan kepada Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana untuk ditanggapi dan dipertimbangkan bersama jajaran kementerian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">James juga menyampaikan salam Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie yang telah berada di New Delhi untuk mengikuti rangkaian pertemuan BRICS. Sejumlah pengurus Kadin dijadwalkan menyusul ke India setelah acara tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKita harus lebih terencana dalam mengubah keunggulan alam dan budaya Indonesia menjadi kegiatan ekonomi. Karena itulah, Kadin meyakini pariwisata layak memperoleh tempat yang jauh lebih besar dalam strategi pertumbuhan Indonesia,\u201d pungkas James.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana menekankan pentingnya membangun pariwisata berkualitas yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah wisatawan, tetapi juga menciptakan pengalaman yang lebih baik, nilai ekonomi yang lebih besar, serta manfaat berkelanjutan bagi masyarakat dan dunia usaha.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBagi saya sebagai Menteri, ini merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk berbagi dengan Anda semua mengenai perkembangan sektor pariwisata Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Bapak Prabowo Subianto, posisi kita saat ini, apa yang sedang kita upayakan, dan peluang untuk tumbuh bersama,\u201d kata Widiyanti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia juga menyampaikan apresiasi kepada James T. Riady dan Kadin Indonesia yang telah menyelenggarakan pertemuan tersebut dan menempatkan pariwisata sebagai salah satu fokus utama pembahasan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSaya sangat menantikan pertukaran pandangan yang berkelanjutan, tidak hanya untuk berbagi cerita Indonesia, tetapi juga untuk mendengarkan, belajar, dan mengeksplorasi bagaimana kita dapat membangun kemitraan yang lebih kuat serta menciptakan nilai yang lebih besar bersama,\u201d ujarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di kesempatan yang sama, Wakil Ketua Umum (WKU) Bidang Pariwisata Kadin Indonesia Raty Ning mengatakan Kadin menargetkan peningkatan inbound tourism atau kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia. Untuk mencapai target tersebut, menurutnya, terdapat sejumlah aspek yang perlu diperkuat, terutama aksesibilitas dan infrastruktur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTarget kita adalah untuk meningkatkan inbound tourism masuk ke dalam Indonesia. Dengan begitu banyak potensi inbound itu sendiri, ada catatan-catatan kami, hal-hal yang memang harus kita tingkatkan. Yang sudah baik kita tingkatkan, seperti mungkin yang paling krusial mengenai accessibility untuk masuk ke Indonesia,\u201d kata Raty.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Raty mengatakan Indonesia telah memiliki sejumlah pintu masuk utama seperti Bali dan Jakarta. Namun, kedua wilayah tersebut dinilai sudah cukup padat sehingga diperlukan gateway baru yang dapat mewakili berbagai wilayah di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKita mesti punya gateway-gateway lagi mewakili seluruh Indonesia supaya turis itu masuk ke Indonesia itu jauh lebih mudah,\u201d pungkasnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hadir dalam acara tersebut WKUK Bidang Hukum dan HAM, Sarana\/Prasarana Kadin Indonesia M. Azis Syamsuddin, WKU Bidang Hubungan Luar Negeri Kadin Indonesia Bernardino M. Vega, WKU Bidang Wisata Maritim Kadin Indonesia Ismail Ning, WKU Bidang Pemasaran, Promosi, Inovasi dan Pengembangan Produk UMKM Kadin Indonesia Rifda Ammarina.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Juga hadir jajaran Ketua Umum (Ketum) Kadin Provinsi di antaranya Ketum Kadin Provinsi Sumatra Barat Buchary Bachter, Ketum Kadin Provinsi Jambi Usman Sulaiman, Ketum Kadin Provinsi Ritchie Glen Yapranadi, Ketum Kadin Provinsi Nusa Tenggara Timur Bobby Lianto, Ketum Kadin Provinsi Kalimantan Selatan Shinta Laksmi Dewi dan Ketum Kadin Provinsi Papua Jeqline Yoku.<\/span><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta &#8211; Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang sulit ditandingi negara lain, tetapi belum sepenuhnya mampu mengubah keunggulan tersebut menjadi kunjungan wisatawan, devisa, investasi, dan lapangan kerja. Karena itu, pembangunan pariwisata harus difokuskan pada penguatan ekosistem yang menghubungkan destinasi dengan transportasi, akomodasi, promosi, layanan, serta pengalaman wisata berkualitas. Hal itu disampaikan Wakil Ketua Umum [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":46283,"template":"","-kabar":[146,172],"class_list":["post-46282","kabar","type-kabar","status-publish","has-post-thumbnail","hentry","-kabar-kadin-indonesia","-kabar-pusat"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.1 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>James Riady: Indonesia Tak Kekurangan Destinasi<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/kadin.id\/en\/kabar\/james-riady-indonesia-tak-kekurangan-destinasi-tapi-kemampuan-mengubah-potensi-menjadi-devisa\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"James Riady: Indonesia Tak Kekurangan Destinasi\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Jakarta &#8211; Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang sulit ditandingi negara lain, tetapi belum sepenuhnya mampu mengubah keunggulan tersebut menjadi kunjungan wisatawan, devisa, investasi, dan lapangan kerja. Karena itu, pembangunan pariwisata harus difokuskan pada penguatan ekosistem yang menghubungkan destinasi dengan transportasi, akomodasi, promosi, layanan, serta pengalaman wisata berkualitas. Hal itu disampaikan Wakil Ketua Umum [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/kadin.id\/en\/kabar\/james-riady-indonesia-tak-kekurangan-destinasi-tapi-kemampuan-mengubah-potensi-menjadi-devisa\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Kadin Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-09-14T06:59:19+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/kadin.id\/wp-content\/uploads\/NDN01946-scaled.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1212\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"8 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/kadin.id\\\/kabar\\\/james-riady-indonesia-tak-kekurangan-destinasi-tapi-kemampuan-mengubah-potensi-menjadi-devisa\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/kadin.id\\\/kabar\\\/james-riady-indonesia-tak-kekurangan-destinasi-tapi-kemampuan-mengubah-potensi-menjadi-devisa\\\/\",\"name\":\"James Riady: Indonesia Tak Kekurangan Destinasi\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/kadin.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/kadin.id\\\/kabar\\\/james-riady-indonesia-tak-kekurangan-destinasi-tapi-kemampuan-mengubah-potensi-menjadi-devisa\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/kadin.id\\\/kabar\\\/james-riady-indonesia-tak-kekurangan-destinasi-tapi-kemampuan-mengubah-potensi-menjadi-devisa\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/kadin.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/NDN01946-scaled.jpg\",\"datePublished\":\"2026-09-11T12:56:01+00:00\",\"dateModified\":\"2026-09-14T06:59:19+00:00\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/kadin.id\\\/kabar\\\/james-riady-indonesia-tak-kekurangan-destinasi-tapi-kemampuan-mengubah-potensi-menjadi-devisa\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/kadin.id\\\/kabar\\\/james-riady-indonesia-tak-kekurangan-destinasi-tapi-kemampuan-mengubah-potensi-menjadi-devisa\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/kadin.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/NDN01946-scaled.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/kadin.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/NDN01946-scaled.jpg\",\"width\":2560,\"height\":1212},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/kadin.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/kadin.id\\\/\",\"name\":\"KADIN Indonesia\",\"description\":\"Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Indonesian Chamber of Commerce and Industry)\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/kadin.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/kadin.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/kadin.id\\\/#organization\",\"name\":\"KADIN Indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/kadin.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/kadin.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/kadin.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/kadin-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/kadin.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/kadin-logo.png\",\"width\":512,\"height\":512,\"caption\":\"KADIN Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/kadin.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"James Riady: Indonesia Tak Kekurangan Destinasi","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/kadin.id\/en\/kabar\/james-riady-indonesia-tak-kekurangan-destinasi-tapi-kemampuan-mengubah-potensi-menjadi-devisa\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"James Riady: Indonesia Tak Kekurangan Destinasi","og_description":"Jakarta &#8211; Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang sulit ditandingi negara lain, tetapi belum sepenuhnya mampu mengubah keunggulan tersebut menjadi kunjungan wisatawan, devisa, investasi, dan lapangan kerja. Karena itu, pembangunan pariwisata harus difokuskan pada penguatan ekosistem yang menghubungkan destinasi dengan transportasi, akomodasi, promosi, layanan, serta pengalaman wisata berkualitas. Hal itu disampaikan Wakil Ketua Umum [&hellip;]","og_url":"https:\/\/kadin.id\/en\/kabar\/james-riady-indonesia-tak-kekurangan-destinasi-tapi-kemampuan-mengubah-potensi-menjadi-devisa\/","og_site_name":"Kadin Indonesia","article_modified_time":"2026-09-14T06:59:19+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1212,"url":"https:\/\/kadin.id\/wp-content\/uploads\/NDN01946-scaled.jpg","type":"image\/jpeg"}],"twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Est. reading time":"8 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/kadin.id\/kabar\/james-riady-indonesia-tak-kekurangan-destinasi-tapi-kemampuan-mengubah-potensi-menjadi-devisa\/","url":"https:\/\/kadin.id\/kabar\/james-riady-indonesia-tak-kekurangan-destinasi-tapi-kemampuan-mengubah-potensi-menjadi-devisa\/","name":"James Riady: Indonesia Tak Kekurangan Destinasi","isPartOf":{"@id":"https:\/\/kadin.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/kadin.id\/kabar\/james-riady-indonesia-tak-kekurangan-destinasi-tapi-kemampuan-mengubah-potensi-menjadi-devisa\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/kadin.id\/kabar\/james-riady-indonesia-tak-kekurangan-destinasi-tapi-kemampuan-mengubah-potensi-menjadi-devisa\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/kadin.id\/wp-content\/uploads\/NDN01946-scaled.jpg","datePublished":"2026-09-11T12:56:01+00:00","dateModified":"2026-09-14T06:59:19+00:00","inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/kadin.id\/kabar\/james-riady-indonesia-tak-kekurangan-destinasi-tapi-kemampuan-mengubah-potensi-menjadi-devisa\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/kadin.id\/kabar\/james-riady-indonesia-tak-kekurangan-destinasi-tapi-kemampuan-mengubah-potensi-menjadi-devisa\/#primaryimage","url":"https:\/\/kadin.id\/wp-content\/uploads\/NDN01946-scaled.jpg","contentUrl":"https:\/\/kadin.id\/wp-content\/uploads\/NDN01946-scaled.jpg","width":2560,"height":1212},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/kadin.id\/#website","url":"https:\/\/kadin.id\/","name":"KADIN Indonesia","description":"Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Indonesian Chamber of Commerce and Industry)","publisher":{"@id":"https:\/\/kadin.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/kadin.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/kadin.id\/#organization","name":"KADIN Indonesia","url":"https:\/\/kadin.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/kadin.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/kadin.id\/wp-content\/uploads\/kadin-logo.png","contentUrl":"https:\/\/kadin.id\/wp-content\/uploads\/kadin-logo.png","width":512,"height":512,"caption":"KADIN Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/kadin.id\/#\/schema\/logo\/image\/"}}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kadin.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/kabar\/46282","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kadin.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/kabar"}],"about":[{"href":"https:\/\/kadin.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/kabar"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kadin.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kadin.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46283"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kadin.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46282"}],"wp:term":[{"taxonomy":"-kabar","embeddable":true,"href":"https:\/\/kadin.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/-kabar?post=46282"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}