KadinRabu, 29 Juli 2020


Program PEN Dipandang Mampu Tahan Indonesia Masuk Jurang Resesi


Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) menjadi kunci menahan resesi. Program PEN harus segera dijalankan secara masif mengingat pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2020 diprediksi negatif.


"Realisasi menjadi kunci menahan resesi karena kuartal II kita tumbuh minus," kata Ketua Umum Kamar Dagang Industri (Kadin) Indonesia Rosan Roeslani dalam diskusi Indef bertajuk Mempercepat Geliat Sektor Riil dalam mendukung Pemulihan Ekonomi: Peranan BUMN dalam mendukung pemulihan Ekonomi, Jakarta, Selasa (28/7/2020).


Akibat lambatnya implementasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), Kadin memprediksi pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2020 akan tumbuh -4 sampai -6 persen. Hal ini akan menjadi beban yang berat bagi pemerintah dan pengusaha untuk menjaga suplai dan demand di sektor riil.


"Kami di Kadin memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan tumbuh negatif 4 persen sampai negatif 6 persen kalau implementasi masih lambat," kata Rosan.


Meski banyak tekanan, namun dalam kondisi ini masih adanya peluang-peluang baru, misalnya di kawasan industri batang. Rosan mengatakan, ada 100 perusahaan dari Amerika Serikat yang berencana keluar dari China dan memindahkan perusahaannya ke negara-negara di ASEAN. Begitu juga dengan Jepang yang memberikan insentif kepada perusahaan yang merelokasi pabriknya dari China.


"Kita harus kejar ketertinggalan mereka, jangan sampai mereka memindahkan perusahaannya ke negara-negara lain seperti Bangladesh dan India," kata dia.


Untuk itu, pemerintah harus bisa menyederhanakan regulasi yang ada di Indonesia dengan memanfaatkan RUU Cipta Kerja. Saat ini dia mencatat ada ribuan regulasi yang tumpang tindih dan saling bertentangan.


"Peraturan dan regulasi ini akan membuat kita bukan pilihan utama," kata dia.




Dilansir dari Liputan6

Berita Terbaru
UPDATE Corona: Per 12 Agustus, Kasus Covid-19 di Indonesia Mencapai 130.718
Ilustrasi – Update kasus corona. Shutterstock.
SelengkapnyaKadin