Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menggelar Roundtable Dialogue bertema “Praktik Baik Organisasi dalam Penanganan Bencana di Indonesia” di Menara Kadin Indonesia, Jakarta Selatan, Rabu (10/06/2026). Forum ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dari kalangan dunia usaha dan pemerintah untuk memperkuat kolaborasi dalam upaya penanggulangan bencana di Indonesia.
Wakil Ketua Umum Bidang Sosial dan Penanggulangan Bencana Kadin Indonesia Suryani Motik, mengatakan bahwa diskusi ini bertujuan untuk mengidentifikasi praktik-praktik terbaik yang telah dilakukan dunia usaha dalam bidang sosial dan kebencanaan serta mencari model kolaborasi yang lebih efektif.
Menurut Suryani, peserta yang hadir mencerminkan keberagaman pelaku usaha di Indonesia, mulai dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN), perusahaan swasta nasional, perusahaan multinasional, Usaha Kecil dan Menengah (UKM), hingga pengusaha perempuan.
“Kita tahu persis bahwa dunia usaha ini keterlibatan dalam kebencanaan ini sudah banyak sekali. Mulai dari pra, sebelum terjadi bencana, kemudian ketika terjadi bencana dan sudah bencana. Tapi yang jadi persoalan adalah mereka bergerak masing-masing. Belum terkoordinasikan, belum dikolaborasikan dengan baik,” ujar Suryani.
Suryani menjelaskan bahwa kurangnya koordinasi sering kali menyebabkan bantuan terpusat di satu lokasi tertentu, sementara wilayah lain yang juga membutuhkan bantuan justru kurang mendapat perhatian.
“Kita dapat satu kesimpulan, ini sering kalau bergerak masing-masing, yang sudah dilakukan oleh satu dunia usaha, dilakukan lagi. Tempatnya mungkin tidak merata, di satu tempat misalnya di (Kabupaten) Bener Meriah (Provinsi Aceh), semua lari ke Bener Meriah karena informasi data yang didapatkan hanya di Bener Meriah. Numpuk di situ, di daerah yang lain tidak,” terang Suryani.
Sebagai solusi, Kadin Indonesia menginisiasi pembentukan Virtual Business Disaster Operation Center (VBDOC), sebuah platform kolaboratif yang dirancang untuk menghubungkan berbagai pihak dalam penanganan bencana.
“Jadi (VBDOC) ini semacam marketplace untuk kebencanaan. Di situ nanti siapa yang melakukan apa, terus kebutuhannya apa, di masing-masing wilayah siapa saja yang bisa membantu, mulai dari LSM-nya, dunia usahanya, pemerintahnya, kemudian kekuatan dari masing-masing institusi itu apa. Dan Alhamdulillah ditanggapi dengan baik, diterima dengan baik inisiatif itu. Tapi ini panjang perjalanannya, banyak hal yang mesti kita lakukan untuk bisa mencapai ke situ,” jelas Suryani.
Sementara itu, Unsur Pengarah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Puji Pujiono, menegaskan bahwa keterlibatan dunia usaha dalam isu kebencanaan merupakan kebutuhan strategis, tidak hanya bagi masyarakat tetapi juga bagi keberlangsungan bisnis itu sendiri.
Menurut Puji, setidaknya terdapat tiga kepentingan utama dunia usaha dalam penanggulangan bencana. Pertama, memastikan keberlangsungan operasional usaha agar tidak terhenti akibat bencana. Kedua, melindungi keselamatan sumber daya manusia, aset, dan operasional perusahaan. Ketiga, membantu masyarakat yang terdampak bencana serta berkontribusi dalam membangun sistem ketahanan yang lebih kuat.
“Dan yang penting lagi, dalam situasi normal, (dunia usaha) ikut membantu membangun sistem resiliensi yang lebih kuat,” kata Puji.
Lebih lanjut, Puji mengungkapkan bahwa dalam diskusi tersebut para pelaku usaha memaparkan berbagai inisiatif yang telah mereka lakukan, potensi sumber daya yang dimiliki, serta peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan ke depan.
“Dari diskusi tadi yang didapatkan adalah mereka (dunia usaha) mencari cara bersama-sama untuk membuat trobosan-trobosan baru termasuk koordinasi dengan pemerintah, meningkatkan pemanfaatan data, kemudian membentuk suatu operation center bersama-sama untuk dunia usaha. Ini adalah langkah-langkah maju yang sedang dikonseptualisasi bersama oleh Kadin dengan anggotanya dan pelaku dunia usaha besar dan kecil,” pungkas Puji.