Jakarta – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menegaskan pentingnya peran perempuan dalam memperkuat perekonomian nasional. Perempuan dinilai memiliki kontribusi besar terhadap sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), penyerapan tenaga kerja, serta pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Anindya atau Anin sapaan akrabnya dalam acara The 4th Asian Women Entrepreneurs Conference & International Women in Business and Investment Summit yang digelar oleh Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) bersama Asian Women Entrepreneurs Congress di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta Pusat, Jumat (16/10/2026).
Anin mengatakan, UMKM menjadi salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia dengan keterlibatan perempuan yang signifikan. Anin menyebut, sekitar 67% pelaku UMKM di Indonesia merupakan perempuan.
“97% dari ekonomi Indonesia itu datang dari Small and Medium Enterprises atau UMKM. Dari 97% itu, 67% di data kami adalah perempuan,” ujar Anin.
Menurut Anin, kontribusi perempuan juga tercermin dalam akses pembiayaan perbankan. Anin menyampaikan bahwa perempuan dinilai memiliki rekam jejak pembayaran pinjaman yang baik sehingga menjadi kelompok debitur yang diminati oleh perbankan.
Anin menambahkan, besarnya peran perempuan dalam perekonomian perlu diikuti dengan upaya memperluas peluang usaha, meningkatkan daya saing, serta memperkuat akses ke pasar internasional.
Untuk itu, Anin menekankan tiga hal yang perlu diperkuat, yakni connect, collaborate, dan co-create. Ketiganya menjadi landasan untuk membangun konektivitas, memperluas kolaborasi, serta menciptakan peluang baru bagi pengusaha perempuan.
Dalam aspek konektivitas, Anin menilai Indonesia memiliki posisi strategis melalui keanggotaannya di ASEAN dan BRICS serta kemitraan dengan berbagai negara. Posisi tersebut perlu dimanfaatkan untuk menghadapi tantangan geopolitik dan perubahan iklim yang turut memengaruhi ketahanan perekonomian.
“Kita mempunyai tantangan untuk menavigasi geopolitik dan perubahan iklim agar perekonomian kita tetap tangguh,” kata Anin.
Sementara itu, dalam aspek kolaborasi, Kadin terus mendorong diplomasi ekonomi melalui berbagai forum internasional, termasuk ASEAN, APEC, BRICS, dan G20. Menurut Anin, kerja sama antar-pelaku usaha dan negara berkembang perlu diperkuat untuk menciptakan peluang pertumbuhan yang lebih luas.
Anin menilai, kolaborasi antar-negara berkembang atau South-South Cooperation menjadi semakin relevan seiring dengan meningkatnya perhatian terhadap potensi ekonomi kawasan Asia-Pasifik dan Afrika.
“Kenapa tidak yang bertumbuh berbicara dengan yang bertumbuh, apalagi yang sedang berkembang, dan bukan saja diarahkan dari negara-negara yang sudah maju,” ujar Anin.
Dalam mendukung pengusaha perempuan agar mampu menembus pasar global, Kadin juga memiliki Kadin Export Academy. Program ini ditujukan untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha dalam mengembangkan ekspor, termasuk produk-produk yang banyak dihasilkan oleh UMKM.
Anin menyebut, nilai ekspor Indonesia mencapai sekitar 300 miliar dolar AS. Dari jumlah tersebut, sekitar 60 miliar dolar AS berasal dari komoditas utama, seperti minyak kelapa sawit, batu bara, dan baja tahan karat. Sementara itu, produk lainnya mencakup tekstil, garmen, furnitur, dan elektronik yang juga membuka peluang bagi pelaku UMKM.
Menurut Anin, penguatan kapasitas ekspor menjadi penting agar pengusaha perempuan dapat meningkatkan daya saing dan memperluas jangkauan pasar, baik di dalam negeri maupun di tingkat internasional.
Anin menegaskan, upaya memperkuat konektivitas dan kolaborasi perlu dilanjutkan dengan penciptaan peluang baru melalui semangat co-create. Dengan demikian, pengusaha perempuan di kawasan dapat meningkatkan daya saing dan mengembangkan usahanya ke tingkat yang lebih tinggi.
“Nah mungkin di sini yang perlu dikembangkan ialah bagaimana kompetitiveness kawasan kita antar-perempuan ini naik kelas, karena perempuanlah harapan kita semua. Bukan berarti laki-laki tidak mampu tapi perempuan 67% daripada ekonomi jadi memang mayoritas,” terang Anin.
Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat IWAPI sekaligus Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Sosial Kadin Indonesia Nita Yudi mengatakan, forum tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat kerja sama antara pengusaha perempuan Indonesia dan sejumlah negara, termasuk Tiongkok, Malaysia, dan Rusia.
Menurut Nita, kerja sama tersebut diharapkan dapat membuka peluang investasi di Indonesia sekaligus meningkatkan kapabilitas dan skala usaha para pengusaha perempuan. Dengan demikian, pelaku usaha tidak hanya berfokus pada pasar domestik, tetapi juga mampu memperluas jangkauan bisnis ke pasar global.
“Indonesia ini sangat kaya, maka mereka akan berinvestasi di sini dan berkolaborasi bersama-sama untuk bisa meningkatkan kapabilitas kita, meningkatkan usaha kita, agar tidak hanya fokus di domestik, tetapi bisa merambah ke global,” ujar Nita.