Beijing – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menegaskan bahwa kolaborasi bisnis yang konkret menjadi kunci utama dalam memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dan Tiongkok. Hal tersebut disampaikannya dalam sesi wawancara eksklusif bersama China Global Television Network (CGTN) di Beijing, 23 Juni 2026.
Anin sapaan akrabnya mengatakan, 4th China International Supply Chain Expo (CISCE) yang berlangsung pada 22-26 2026 memiliki nilai strategis karena tidak hanya membangun komunikasi di tingkat pemerintahan, tetapi juga mendorong implementasi kerja sama yang nyata di kalangan dunia usaha.
“Acara seperti ini jauh lebih penting daripada sekadar diskusi tingkat tinggi antar-pemimpin jika berbicara mengenai dunia usaha. Kemauan politik memang sangat penting, tetapi pada akhirnya yang dibutuhkan adalah proses bisnis, implementasi proyek, integrasi industri, dan berbagai bentuk kerja sama nyata,” ujar Anin.
Menurut Anin, Indonesia memandang hubungan dengan Tiongkok sebagai peluang untuk membangun integrasi industri secara menyeluruh. Salah satunya melalui pengembangan hilirisasi mineral kritis dengan dukungan teknologi mutakhir dan pembiayaan yang efisien.
Anin menjelaskan, terdapat sejumlah sektor prioritas yang menjadi fokus kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok. Di antaranya adalah manufaktur berteknologi maju (advanced manufacturing), energi terbarukan, kendaraan listrik (electric vehicle/EV), pengolahan material baterai, hingga ketahanan pangan.
“Manufaktur maju menjadi sangat penting bagi kami. Kami ingin belajar dari keberhasilan Tiongkok dalam memanfaatkan teknologi dan melakukan hilirisasi mineral kritis. Selain itu, kami juga ingin memperkuat kerja sama di sektor energi terbarukan, bukan hanya pada implementasi proyek energi hijau, tetapi juga pada pengembangan industri manufaktur seperti panel surya,” kata Anin.
Anin menambahkan, Indonesia juga ingin memperkuat kerja sama dalam ekosistem kendaraan listrik, mulai dari pengolahan bahan baku hingga produksi baterai.
“Kami tidak hanya ingin menjadi pasar atau pengguna akhir kendaraan listrik, tetapi juga berperan dalam proses pengolahan material baterai hingga menghasilkan baterai itu sendiri,” lanjut Anin.
Di luar sektor industri, Anin menekankan pentingnya menjadikan ketahanan pangan sebagai salah satu fokus utama kerja sama kedua negara. Anin juga memastikan bahwa seluruh agenda kerja sama tersebut harus mampu melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai bagian dari rantai pasok global.
“Apapun yang kami lakukan, kami ingin memastikan UMKM ikut terlibat dalam keseluruhan rantai pasok. Sekitar 90 persen organisasi bisnis di Indonesia merupakan UMKM dan mereka berkontribusi sekitar 60 persen terhadap produk domestik bruto (PDB),” jelas Anin.
Anin juga mengungkapkan Indonesia memiliki sekitar 60 juta UMKM yang menyerap sekitar 120 hingga 130 juta tenaga kerja. Karena itu, peningkatan kapasitas UMKM menjadi salah satu prioritas utama. Anin menilai UMKM di Tiongkok telah berkembang sangat pesat dengan dukungan teknologi dan daya saing yang tinggi, sehingga pengalaman tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi Indonesia.
“UMKM di Tiongkok sangat maju dari sisi teknologi, sangat kompetitif, dan pemerintah di sini (Tiongkok) memberikan kesempatan kepada mereka untuk terus naik ke rantai nilai yang lebih tinggi. Hal serupa juga sedang dilakukan pemerintah Indonesia bersama sektor swasta,” kata Anin.
Lebih lanjut, terkait peran teknologi, modal, dan kapasitas industri Tiongkok dalam mendukung prioritas pembangunan Indonesia, seperti pengembangan kecerdasan buatan (AI), transformasi digital, energi hijau, dan ketahanan pangan, Anin mengatakan kerja sama kedua negara memiliki potensi yang sangat besar.
Menurut Anin, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, sedangkan Tiongkok memiliki pengalaman, teknologi, modal, dan kapasitas industri yang dapat saling melengkapi.
“Tiongkok telah aktif menjalankan Belt and Road Initiative selama sekitar 15 hingga 20 tahun. Indonesia memiliki seluruh bahan baku dan sumber daya yang dibutuhkan, sementara Tiongkok memiliki pengalaman, teknologi, modal, dan berbagai keunggulan lainnya. Yang terpenting adalah bagaimana kedua negara tidak hanya meningkatkan perdagangan, tetapi juga menciptakan nilai tambah bersama,” ujar Anin.
Anin meyakini kolaborasi Indonesia dan Tiongkok juga akan memberikan kontribusi bagi terciptanya rantai pasok global yang lebih tangguh, berkelanjutan, dan transparan.
“Saya ingin memastikan bahwa seluruh pembicaraan yang dilakukan tidak berhenti pada diskusi semata, tetapi benar-benar berkembang menjadi kolaborasi dan pada akhirnya diwujudkan melalui implementasi nyata, mulai dari sektor hulu, tengah, hingga hilir,” pungkas Anin.