KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

Anindya Bakrie Soroti Daya Saing dan Kesenjangan Talenta di Indonesia dalam ITC Leadership Conclave 2026

Jakarta – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menyoroti daya saing nasional dan kesenjangan keterampilan tenaga kerja sebagai dua tantangan yang perlu diatasi untuk memperkuat daya tarik investasi Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Anindya atau Anin sapaan akrabnya saat memberikan sambutan dalam International Test Center (ITC) Leadership Conclave 2026 bertajuk “Durable Leadership, Lasting Impact: Optimizing the Integration of Resources, New Technologies and Adaptive Human Skills” di Hotel Le Meridien, Jakarta Pusat, Kamis (15/10/2026).

Menurut Anin, pertumbuhan investasi perlu diiringi dengan peningkatan daya saing dan kenyamanan berusaha agar Indonesia mampu bersaing dengan negara lain dalam menarik investor. Anin memperkirakan investasi nasional masih akan tumbuh, dengan target mencapai Rp2.000 triliun pada 2026 dan Rp2.300 triliun pada 2027. Namun, pertumbuhan investasi langsung asing atau foreign direct investment (FDI) perlu diimbangi dengan penguatan daya saing Indonesia.

“Kalau dari sisi FDI, masih dalam takaran tumbuh. Mungkin tahun ini Rp2.000 triliun, tahun depan Rp2.300 triliun. Nah, kalau menurut saya salah satu alasannya ialah competitiveness,” ujar Anin.

Anin menilai, pelaku usaha perlu mengevaluasi kemampuan perusahaan di Indonesia untuk bersaing dengan kompetitor di negara lain. Selain daya saing, kenyamanan dalam menjalankan bisnis dan menjalin kemitraan juga menjadi pertimbangan investor dalam menentukan lokasi investasi.

“Ujung-ujungnya, are we more competitive than the next guy? Dan yang kedua, is it more comfortable to do business here atau tempat lain?” terang Anin.

Lebih lanjut, Anin menjelaskan bahwa peningkatan daya saing tidak sepenuhnya bergantung pada kebijakan pemerintah. Dia mengakui pelaku usaha di daerah masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk keterbatasan transfer ke daerah (TKD) yang dapat memengaruhi kemampuan pemerintah daerah dalam mendukung pembangunan dan inovasi.

Kendati demikian, Anin mendorong dunia usaha untuk berfokus pada faktor-faktor yang dapat dikendalikan secara langsung guna meningkatkan daya saing. Sementara itu, berbagai persoalan kebijakan tetap perlu diperjuangkan melalui advokasi agar tercipta iklim usaha yang lebih kondusif.

“Daya saing menurut saya itu sesuatu yang kita bisa kontrol,” tegas Anin.

Selain daya saing, Anin menyoroti kesenjangan antara kebutuhan tenaga kerja industri dan ketersediaan talenta dengan kompetensi yang sesuai. Anin menyebut, sekitar 4 juta hingga 5 juta pencari kerja setiap tahun masih mencari pekerjaan, sementara perusahaan yang ingin berkembang terus membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan yang relevan.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara kompetensi yang dibutuhkan dunia usaha dan keterampilan yang dimiliki para pencari kerja. Karena itu, diperlukan sinergi yang lebih erat antara dunia usaha, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian untuk memastikan pendidikan serta pengembangan keterampilan selaras dengan kebutuhan industri.

Anin menegaskan, dunia usaha perlu dilibatkan dalam proses tersebut karena perusahaan merupakan pengguna langsung talenta yang dihasilkan oleh institusi pendidikan.

“Berarti ada disconnect antara apa yang dibutuhkan dan juga apa yang tersedia. Nah, ini juga satu hal yang saya rasa sangat penting disiasati. Dan ini juga saya tahu dari BRIN misalnya, perguruan tinggi, ya harus bicara dengan dunia usaha karena kita adalah penggunanya,” ucap Anin.

Sementara itu, Chief Executive Officer ITC Jenny Lee menekankan pentingnya kolaborasi di tengah kondisi global yang penuh tantangan. Menurut dia, seluruh sumber daya yang ada perlu dioptimalkan untuk menghadapi situasi tersebut.

“Pesannya yang pasti hari ini kita mesti kolaborasi semuanya. Karena situasi dunia yang tidak terlalu baik dan banyak tantangannya. Tentu kita perlu mengoptimalkan semua resources yang ada ya,” ujar Jenny.

Lebih jauh, Gubernur DKI Jakarta 2014-2017 Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengatakan bahwa pemanfaatan AI seharusnya tidak dipandang semata-mata sebagai pengganti tenaga manusia.

“Teknologi perlu digunakan untuk membantu pekerjaan, sementara kemampuan manusia dalam menentukan arah, mempertimbangkan nilai kemanusiaan, dan mengambil keputusan tetap menjadi bagian penting,” kata Ahok.

Kadin Ajak Rusia Perluas Pembelian Produk Indonesia Lewat Indonesia-Russia Business Forum
James T. Riady: CEPA Jangan Hanya di Atas Kertas, Uni Eropa Harus Bangun Industri di Indonesia
Anindya Bakrie Soroti Daya Saing dan Kesenjangan Talenta di Indonesia dalam ITC Leadership Conclave 2026

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry