KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

Kadin Indonesia Gelar Dialog Geoeconomics Jelang Rapimnas, Bahas Kemitraan Publik-Swasta Menuju Negara Berpendapatan Tinggi

Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menggelar Geoeconomics Policy Dialogue bertema “Public-Private Partnerships in Escaping the Middle-Income Trap Amidst Geopolitical Shifts” menjelang penyelenggaraan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Hotel Marriott Gelora, Jakarta Barat, Senin (26/10/2026).

Acara tersebut menghadirkan narasumber di antaranya Dean and CEO Asian Development Bank Institute (ADBI) Prof. Bambang Brodjonegoro, Dean of INSEAD Prof. Francisco Veloso dan Director of International Development at INSEAD Michaela Felber.

Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengatakan bahwa sektor swasta memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia dan membantu negara keluar dari jebakan pendapatan menengah.

Diungkapkan Anin sapaan akrabnya bahwa 92% produk domestik bruto (PDB) Indonesia berasal dari luar belanja pemerintah, yakni investasi, ekspor, dan konsumsi domestik.

“Kadin adalah suara independen dunia usaha yang dimandatkan melalui undang-undang, dan kami memahami dengan jelas bahwa 92% PDB kita berasal dari luar belanja pemerintah, yaitu investasi, ekspor, serta konsumsi domestik,” kata Anin.

Lebih lanjut Anin juga menyoroti pentingnya industrialisasi untuk meningkatkan produktivitas dan menciptakan lapangan kerja. Anin mengatakan, indeks manufaktur Indonesia turun dari 32% pada 2002 menjadi sekitar 19% saat ini.

“Untuk tumbuh, kita perlu melakukan industrialisasi. Indeks manufaktur kita turun dari 32% pada 2002 menjadi sekitar 19% sekarang,” tutur Anin.

Menurut Anin, peningkatan produktivitas melalui pemanfaatan teknologi diperlukan untuk mendukung penciptaan lapangan kerja yang lebih baik dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang merata, berkelanjutan, serta inklusif.

Anin juga menekankan, Indonesia perlu memanfaatkan peluang bonus demografi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah.

“Presiden kita menargetkan pertumbuhan 8% dengan alasan yang jelas, yakni untuk berupaya keluar dari middle-income trap, seperti yang telah dilakukan negara-negara lain sebelumnya,” jelas Anin. 

Sementara itu, Dean and CEO Asian Development Bank Institute (ADBI) Prof. Bambang Brodjonegoro mengungkapkan bahwa Indonesia perlu belajar dari pengalaman Jepang dan Korea Selatan yang mengembangkan industri manufaktur hingga menjadi negara berpendapatan tinggi.

“Ini yang berbahaya dan bisa terjadi di banyak negara Asia Tenggara. Mereka bergerak di bidang manufaktur, melakukan ekspor, tetapi tidak meningkatkan teknologi. Artinya, daya saing mereka seiring waktu akan menurun,” kata Bambang.

Menurut dia, pengembangan industri tidak cukup hanya melalui kegiatan manufaktur dan perakitan. Perusahaan perlu mengadopsi teknologi, meningkatkan kemampuan rekayasa, dan mengembangkan inovasi.

Bambang pun mencontohkan perusahaan-perusahaan Korea Selatan yang berkembang dari bisnis awal berbeda sebelum memasuki industri teknologi dan manufaktur. Samsung, misalnya, pada 1960-an bergerak di bidang perdagangan gula. Sementara itu, LG memulai bisnis dari kosmetik, Hyundai dari pekerjaan konstruksi, SK dari tekstil dan Daewoo dari perdagangan.

Perusahaan-perusahaan tersebut kemudian berkembang ke berbagai sektor industri. Samsung menjadi perusahaan elektronik, Hyundai mengembangkan industri otomotif, sedangkan SK bergerak di bidang telekomunikasi.

“Pemerintah harus mendorong sektor swasta untuk bersama-sama membawa negara keluar dari middle-income trap,” ujar Bambang.

Sementara itu, Dean of INSEAD Prof. Francisco Veloso mengatakan bahwa perubahan global menghadirkan berbagai tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia. Ia menyoroti pentingnya pengembangan keterampilan yang relevan untuk menghadapi revolusi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan perubahan kebutuhan dunia kerja di masa depan.

“Dunia sedang berada dalam masa transisi. Ada banyak tantangan, tetapi juga banyak peluang. Revolusi kecerdasan mengubah cara kita melangkah ke depan. Karena itu, mengembangkan keterampilan yang tepat untuk masa depan akan menjadi semakin penting,” kata Veloso.

Ia berharap dialog tersebut dapat memperkuat kolaborasi untuk mendukung perkembangan Indonesia, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045. Veloso juga menyoroti peran perusahaan keluarga dalam perekonomian Indonesia, yang menjadi salah satu bidang keahlian INSEAD.

“Kami berfokus, khususnya, pada peran yang telah dimainkan perusahaan keluarga di Indonesia dan peran yang dapat mereka jalankan di masa depan. INSEAD memiliki banyak keahlian di bidang ini. Kami berharap forum ini menjadi ruang yang produktif bagi kami untuk terus berkolaborasi pada masa mendatang,” ujarnya.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie dan Dean and CEO Asian Development Bank Institute (ADBI) Prof. Bambang Brodjonegoro menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU). Pada kesempatan yang sama, Kadin Indonesia dan ADBI juga secara resmi meluncurkan working paper bersama yang membahas peran sektor swasta dalam pembiayaan pembangunan.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan MoU antara Kadin Indonesia dan INSEAD. Kerja sama ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi Kadin Indonesia dengan lembaga akademik dan pengembangan internasional dalam mendukung pembangunan ekonomi Indonesia.

Hadir dalam acara tersebut Wakil Ketua Umum (WKU) Bidang Keanggotaan Kadin Indonesia Widiyanto Saputro, WKU Bidang Penyelenggaraan Acara Kadin Indonesia sekaligus Ketua Pelaksana Rapimnas Kadin 2026 Ria Yusnita, WKU Bidang Hubungan Luar Negeri Kadin Indonesia Bernardino M. Vega, WKU Bidang Riset dan Teknologi Kadin Indonesia Ilham Akbar Habibie dan Ketua Komite Bilateral Rusia-Belarusia Kadin Indonesia Didit Ratam.

Acara ini menjadi bagian dari rangkaian acara Rapimnas dan turut disponsori oleh Sinarmas Agribusiness and Food, PT Triputra Agro Persada Tbk, PT Astra International Tbk, PT Riau Andalan Pulp and Paper, PT Freeport Indonesia, Tempo Scan Pacific Tbk, Wiraraja Madura Industrial Estate III, PT Anindya Wiraputra Konsult, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), Amazon Web Services Indonesia/PT Mastersystem Infotama Tbk, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, PT Bank Mandiri, Asosiasi Aneka Industri Keramik (ASAKI), PT Bank Negara Indonesia (Persero), Syam & Syam Law Office, PLN Icon Plus, PT Bosowa, Dayak Nusantara Bersatu, PT Chandra Asri Pacific Tbk, PT Bank Tabungan Negara (Persero) dan PT Bank Syariah Indonesia.

Kadin Indonesia Tekankan Pentingnya Uji Tuntas HAM untuk Perkuat Daya Saing Usaha
Kadin Indonesia Gelar Dialog Geoeconomics Jelang Rapimnas, Bahas Kemitraan Publik-Swasta Menuju Negara Berpendapatan Tinggi
Jelang Rapimnas, Kadin Umumkan Pemenang Lomba Foto UMKM

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry