Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Investasi, Hilirisasi, Energi dan Lingkungan Hidup menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) dengan mengangkat tema “Mendorong Petumbuhan Ekonomi Berkelanjutan” yang digelar di East Ballroom, The Langham Hotel, Jakarta Pusat, Selasa (14/10/2026).
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie dalam sambutannya menilai, dunia usaha perlu tetap optimistis terhadap prospek ekonomi nasional di tengah tekanan pasar modal, arus keluar dana asing, hingga meningkatnya risiko bencana dan persoalan lingkungan. Menurut Anin sapaan akrabnya, optimisme perlu dibangun dengan mempertimbangkan risiko, bukan dengan mengabaikan tantangan yang ada.
Anin mengungkapkan, dana asing yang keluar dari pasar modal Indonesia pada tahun ini telah mencapai sekitar Rp80 triliun. Anin juga menyoroti penurunan kinerja pasar modal yang disebutnya mencapai 31%, atau mendekati 40% jika ditambah dampak perubahan nilai tukar.
“Jadi memang kita ini di Kadin bisa dibilang mesti memilih. Kita melihatnya ini mau ke kiri atau ke kanan. Soalnya di satu sisi, data terlihat bahwa tahun ini sudah ada Rp 80 triliun dana di pasar modal asing keluar. Pada saat ini, 31% turun di pasar modal kalau ditambah tadi exchange rate, tambah 7% lagi, jadi 38% hampir 40%,” ujar Anin.
Anin menyampaikan, di luar tekanan pasar keuangan, Indonesia juga menghadapi risiko bencana alam dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla). Anin mengingatkan bahwa posisi Indonesia di kawasan ring of fire membuat risiko gempa bumi dan bencana lainnya menjadi tantangan berulang, dengan dampak yang meluas ke sektor sosial, ekonomi, hingga hubungan internasional.
Di tengah tantangan tersebut, pemerintah memasang target pertumbuhan ekonomi sebesar 6% pada 2027. Anin juga menyinggung target investasi yang diharapkan mencapai Rp 2.000 triliun pada tahun ini dan meningkat menjadi Rp 2.300 triliun pada tahun depan.
“Setiap ada krisis itu selalu ada change of guards, pergantian pemain. Pasti itu,” kata Anin.
Target pertumbuhan dan investasi tersebut menjadi alasan untuk tetap mencari peluang di tengah ketidakpastian. Anin menilai kehadiran Danantara dapat menjadi mitra dunia usaha untuk mengembangkan proyek dan menarik kerja sama investasi dari dalam maupun luar negeri.
“Namun, tidak bisa kita optimistis serta-merta hanya karena ingin kelihatan hebat. Tentu kita mesti hati-hati dalam memilih suatu pilihan. Tapi paling tidak tadi kita diskusi, Danantara ini merupakan engine of growth yang berupaya untuk mencari mitra baik dalam negeri atau luar negeri untuk menjalankan rencana-rencana ini,” ujar Anin.
Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup RI Mohammad Jumhur Hidayat mengapresiasi perhatian Kadin terhadap hilirisasi dan pemuliaan lingkungan. Menurut dia, peningkatan nilai tambah perlu dilakukan di dalam negeri agar manfaat ekonomi dari pengolahan sumber daya alam tidak hanya dinikmati negara tujuan ekspor bahan mentah.
“Peningkatan nilai tambah itu ada di dalam negeri, retain value added. Nilai tambah yang tertahan di dalam negeri, dan itu hanya bisa dilakukan kalau ada investasi, ada usahanya di dalam negeri. Bukan lagi mengirim bahan mentah ke luar,” ujar Jumhur.
Jumhur juga menekankan pentingnya menjalankan kegiatan usaha dengan tetap menjaga lingkungan. Menurut Jumhur, orientasi bisnis tidak semestinya hanya mengejar keuntungan, tetapi juga memastikan kegiatan ekonomi memberikan manfaat bagi lingkungan.
“Jadi berbisnis, berusaha sambil memuliakan lingkungan. Dan itu adalah satu yang sangat diprioritaskan oleh pemerintah saat ini,” kata dia.
Lebih lanjut Wakil Menteri Perindustrian RI Faisol Riza yang hadir mewakili Menteri Perindustrian RI Muhammad Sarmuji mengajak Kadin Indonesia dan para pelaku usaha untuk mendorong pengembangan hilirisasi sawit.
“Kalau ini juga bisa jadi agenda yang prioritas di Kadin, saya kira kita bisa bersama-sama menjadikan subsektor ini menjadi salah satu hilirisasi yang optimal dan sukses. Karena semua, semua bahan mentahnya ada di kita,” ujar Faisol.
Menurut dia, hilirisasi sawit di Indonesia perlu dikembangkan lebih optimal mengingat Indonesia merupakan produsen CPO salah satu yang terbesar di dunia.
“Kita masih punya perluasan seperti gliserin, kemudian kita juga memerlukan surfaktan, kita memerlukan karoten, dan macam-macam. Sebenarnya potensi dari sawit luar biasa, tetapi kita baru menyaksikan B50 sekarang,” katanya.
Lebih jauh Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Investasi, Hilirisasi, Energi dan Lingkungan Hidup Kadin Indonesia Bobby Gafur Umar menegaskan bahwa potensi sumber daya alam, energi, dan pasar domestik Indonesia harus dapat diterjemahkan menjadi investasi produktif yang memberikan manfaat nyata bagi perekonomian nasional.
“Indonesia memiliki potensi investasi yang sangat besar, baik di sektor hilirisasi, energi maupun ekonomi hijau. Tetapi kita tidak boleh berhenti pada potensi atau pengumuman investasi semata. Tantangan kita adalah bagaimana menyiapkan proyek yang benarbenar layak, mempertemukannya dengan sumber pembiayaan, dan memastikan investasi tersebut dapat direalisasikan,” ujar Bobby.
Menurut Bobby, investasi berkualitas tidak cukup diukur dari besarnya modal yang masuk, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan lapangan kerja, memperkuat industri nasional, dan menghasilkan nilai tambah di dalam negeri. Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM RI, realisasi investasi Indonesia sepanjang semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, atau 49,5 persen dari target nasional 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun. Dari jumlah tersebut, investasi hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun atau 29,7 persen, dengan penyerapan sekitar 1,45 juta tenaga kerja.
“Yang perlu kita dorong bukan hanya peningkatan nilai investasi, tetapi juga bagaimana investasi tersebut membangun industri pendukung, melibatkan pemasok lokal, dan menciptakan kegiatan ekonomi baru di berbagai daerah. Dengan demikian, manfaat pertumbuhan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” kata Bobby.
Rakornas dihadiri oleh jajaran Wakil Ketua Umum (WKU) di bawah Bidang Investasi, Hilirisasi, Energi dan Lingkungan Hidup Kadin Indonesia di antaranya WKU Bidang Investasi Eka Satria, WKU Bidang Hilirisasi Tony Wenas, WKU Bidang Industri Hijau Halim Kalla, WKU Bidang Pengembangan Industri Strategis Rachmat Harsono, WKU Bidang Kehutanan Anderson Tanoto, WKU Bidang Lingkungan Hidup Dharsono Hartono, WKU Bidang Pengembangan Hilirisasi Komoditas Besi dan Baja Akbar Djohan, WKU Bidang Kerja Sama Investasi dengan Pemerintah Daerah Zulnahar Usman, WKU Bidang Jasa Konsultasi dan Kajian Hilirisasi, Investasi, Industri dan Lingkungan Hidup Peter Frans.
Hadir juga WKU Bidang Keanggotaan Kadin Indonesia Widiyanto Saputro dan WKU Bidang Perindustrian Kadin Indonesia Saleh Husin.