Medan – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Sumatra Utara (Sumut) Firsal Ferial (Dida) Mutyara menyambut peluncuran operasional uji coba Bus Rapid Transit (BRT) Membidang berbasis bus listrik oleh Gubernur Provinsi Sumut Muhammad Bobby Afif Nasution di Terminal Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Sumut, Rabu (19/08/2026).
Ia menilai kehadiran layanan transportasi publik modern yang melayani rute Medan-Binjai (Koridor I) dan Medan-Lubuk Pakam (Koridor II) ini merupakan investasi jangka panjang strategis yang akan memicu produktivitas industri pengolahan, memangkas biaya hidup pekerja, serta mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Sumut.
“Masalah klasik kemacetan lalu lintas di kawasan metropolitan Medan, Binjai dan Deli Serdang selama ini telah membebani efisiensi operasional industri dan menurunkan kualitas hidup tenaga kerja,” katanya.
Lebih lanjut, Kadin Provinsi Sumut menyusun kalkulasi penghematan keuangan yang akan dirasakan langsung oleh ribuan tenaga kerja di Sumut. Selama masa uji coba yang berlangsung hingga Desember 2026, layanan bus listrik ini disediakan secara gratis.
“Ini berarti pengeluaran bulanan transportasi kerja buruh pabrik bernilai nol rupiah,” ujarnya.
Ketika nantinya beroperasi secara penuh, kata Dina, tarif flat murah sebesar Rp4.300 sekali jalan akan menjadi jaminan efisiensi finansial yang besar. Sebagai ilustrasi, jika seorang pekerja pabrik menempuh perjalanan pulang-pergi (PP) selama 25 hari kerja dalam sebulan, estimasi total biaya transportasi yang dikeluarkan hanya sebesar Rp215.000 per bulan (Rp8.600 per hari).
“Kalkulasi ini menunjukkan penghematan pengeluaran yang luar biasa bagi buruh pabrik. Selisih biaya tersebut dapat dialokasikan untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga lainnya, yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan pekerja,” terangnya.
Lebih jauh, Dida mengatakan bahwa salah satu terobosan paling konkret dari operasional BRT ini adalah terbukanya peluang bagi sektor industri pengolahan untuk menerapkan pola tiga shift kerja secara penuh (24 jam). Layanan BRT Mebidang dikelola dengan skema Buy The Service (BTS), yang membebaskan pengemudi dari tekanan mengejar setoran penumpang. Pengemudi dapat sepenuhnya berfokus pada ketepatan waktu, keselamatan, dan kenyamanan perjalanan.
“Dengan bus listrik ini juga tingkat keamanan pekerja menjadi lebih terjaga dari ancaman begal. Kadin Sumut optimis, dengan bertambahnya armada bus secara bertahap hingga mencapai 30 bus listrik pada 8 Desember 2026 mendatang, efisiensi waktu tempuh dan mobilitas pekerja akan melonjak tinggi,” terangnya.
Sementara itu, Gubernur Provinsi Sumut Muhammad Bobby Afif Nasution mengatakan, pembangunan transportasi publik merupakan tanggung jawab pemerintah untuk menyediakan pilihan mobilitas yang layak.
“Semakin banyak kendaraan pribadi, semakin sulit pemerintah memberikan pelayanan. Karena itu pemerintah harus menyiapkan transportasi umum,” ujarnya.
Bobby menegaskan, BRT Mebidang tidak boleh berhenti sebatas peluncuran armada bus, tetapi harus berkembang menjadi sistem transportasi yang saling terkoneksi dan terintegrasi.
“Ini bukan launching bus, tapi transportasi yang terkoneksi dan terintegrasi, sekaligus mendorong perubahan budaya mobilitas masyarakat dari kendaraan pribadi menuju transportasi umum,” pungkasnya.