KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

Devi Rachmawati: CEPA Indonesia-Kanada Bakal Perkuat Integrasi Sistem Pangan

Singapura – Ketahanan pangan kini tidak lagi dipahami sebatas urusan produksi pertanian, tetapi telah naik kelas menjadi agenda ekonomi strategis yang menyentuh produktivitas nasional, ketahanan rantai pasok, arus investasi, hingga stabilitas ekonomi jangka panjang. Hal ini disampaikan Wakil Ketua Umum Bidang Pertanian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Devi Erna Rachmawati, dalam diskusi panel “Mendorong Perdagangan dan Investasi melalui Indonesia–Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA)” pada Forum Canada in Asia Conference, di Swiss Hotel Raffles City Convention Centre, Singapura, Senin (10/2/2026).

“Diskusi ini sangat relevan dan tepat waktu. Ketahanan pangan tidak lagi semata soal produksi, melainkan telah menjadi fondasi ekonomi strategis bagi Indonesia dan Kanada,” ujar Devi di hadapan pelaku usaha dan pemangku kepentingan kedua negara.

Devi yang hadir mewakili Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie, menjelaskan ketahanan pangan modern mencakup dimensi yang jauh lebih luas: keandalan rantai pasok, keterjangkauan harga, kualitas dan keamanan gizi, keberlanjutan lingkungan, serta kemampuan menghadapi berbagai guncangan—mulai dari perubahan iklim hingga ketidakpastian geopolitik.

Bagi Indonesia, dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan kelas menengah yang terus berkembang, ketahanan pangan berdampak langsung pada pengendalian inflasi, stabilitas sosial, serta daya saing ekonomi. Volatilitas harga pangan, kata dia, selalu menjadi faktor sensitif dalam stabilitas makroekonomi.

Sementara bagi Kanada, menurut Devi, sebagai salah satu pemimpin global dalam produksi pertanian dan inovasi sistem pangan, ketahanan pangan merupakan kekuatan perdagangan sekaligus fondasi kerja sama internasional jangka panjang. “Karena itu, ketahanan pangan menjadi pilar alami dalam kemitraan ekonomi Indonesia–Kanada,” tegasnya.

Indonesia, lanjut Devi, mendekati isu ini melalui kerangka Indonesia Incorporated. Dalam model tersebut, pemerintah pusat dan daerah menyediakan arah kebijakan, insentif, dan kepastian regulasi; dunia usaha dan investor mendorong efisiensi dan skala produksi; sementara talenta, lembaga riset, dan wirausaha muda menjadi penggerak inovasi.

Dalam kerangka itu, perdagangan internasional dan investasi asing langsung tidak lagi diposisikan sebagai opsi tambahan, melainkan sebagai kebutuhan untuk memperkuat sistem pangan domestik. Kerja sama dengan Kanada dinilai sejalan dengan pendekatan tersebut, terutama dalam hal akses teknologi, input pertanian berkualitas, dan sistem keamanan pangan.

Indonesia-Kanada Saling Melengkapi
Data 2024 menunjukkan total perdagangan bilateral Indonesia–Kanada mencapai sekitar 6,7 miliar dolar AS, dengan ekspor Indonesia ke Kanada sebesar 3,5 miliar dolar AS dan ekspor Kanada ke Indonesia sekitar 3,2 miliar dolar AS.

Dalam konteks pangan dan pertanian, Kanada menjadi pemasok penting bagi Indonesia, terutama untuk komoditas yang tidak diproduksi secara domestik. Ekspor utama Kanada ke Indonesia meliputi serealia—terutama gandum—sekitar 888,6 juta dolar AS, pupuk 366,8 juta dolar AS, biji minyak seperti kanola dan kedelai 138 juta dolar AS, pulp/kayu 284,7 juta dolar AS, serta ikan dan produk akuatik 18,6 juta dolar AS. Total ekspor barang Kanada ke Indonesia pada 2024 melampaui 2,14 miliar dolar AS, menjadikan Indonesia pasar agri-pangan terbesar Kanada di ASEAN.

Sebaliknya, Indonesia mengekspor produk pertanian tropis dan bernilai tambah ke Kanada, antara lain karet dan turunannya 185,9 juta dolar AS, kakao dan olahannya 58,2 juta dolar AS, produk perikanan 54,7 juta dolar AS, kopi 29,5 juta dolar AS, serta nanas dan buah tropis lainnya 5,8 juta dolar AS. Minyak sawit dan turunannya juga menjadi komoditas strategis, dengan Indonesia saat ini merupakan pemasok terbesar kedua ke Kanada dan menargetkan posisi teratas.

Total ekspor pertanian Indonesia ke Kanada melampaui 220 juta dolar AS pada 2024, dengan potensi pengembangan ke produk bernilai tambah dan bersertifikasi keberlanjutan.

“Hubungan ini bukan satu arah. Kanada menyediakan input utama sistem pangan—mulai dari gandum hingga pupuk—sementara Indonesia melengkapi pasar Kanada dengan komoditas tropis yang tidak dapat diproduksi secara lokal,” ujar Devi.

Agenda Produktivitas dan Investasi
Devi juga menyoroti bahwa ketahanan pangan tidak bisa dilepaskan dari agenda produktivitas dan investasi. Pada 2024, total impor agri-pangan dan hasil laut Indonesia mencapai sekitar 39 miliar dolar AS, mencerminkan meningkatnya permintaan pangan berkualitas, urbanisasi, perubahan gaya hidup, serta pertumbuhan industri pengolahan dan jasa makanan.

Dari perspektif bisnis, rantai pasok yang efisien membantu stabilisasi harga dan pengendalian inflasi. Impor yang andal mengurangi volatilitas pasokan akibat risiko iklim. Sementara pengolahan hilir menciptakan lapangan kerja dan nilai tambah domestik.

Di sisi lain, ekspor ke Kanada mendorong peningkatan standar keberlanjutan, ketertelusuran, dan keamanan pangan. Hal ini membuka peluang bagi UMKM, pelaku usaha pengolahan, serta komunitas pertanian dan perikanan di wilayah pedesaan dan pesisir.

Keberhasilan integrasi sistem pangan, menurut Devi, sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia. Indonesia memiliki bonus demografi besar, namun masih menghadapi kesenjangan produktivitas, terutama di sektor pertanian dan UMKM pangan.

Kerja sama Indonesia–Kanada dinilai dapat mencakup pertukaran talenta dan riset terapan, pelatihan UMKM untuk memenuhi standar internasional keamanan pangan dan ESG, serta pengembangan startup agri-pangan berbasis anak muda dan perempuan.

“Ketahanan pangan harus dipahami sebagai infrastruktur produktif—setara dengan energi, logistik, dan sistem digital,” katanya.

Platform Integrasi Jangka Panjang
Dalam konteks kelembagaan, Indonesia–Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) menjadi platform strategis untuk memperdalam kemitraan ini. CEPA akan menghapus tarif secara bertahap atas lebih dari 95% ekspor Kanada ke Indonesia, meningkatkan akses pasar bagi produk pangan dan pertanian Indonesia, serta memperkuat kerja sama regulasi, perlindungan investasi, dan integrasi rantai pasok.

Bagi sistem pangan kedua negara, CEPA membuka peluang perdagangan yang lebih terprediksi dan terjangkau, menciptakan insentif investasi bersama, serta memperdalam integrasi rantai nilai agri-pangan Indonesia dan Kanada.

Menutup paparannya, Devi menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan salah satu pilar paling strategis dan saling menguntungkan dalam hubungan Indonesia–Kanada.

Dengan memperkuat perdagangan, investasi, inovasi, dan pengembangan SDM, kedua negara berpeluang membangun rantai pasok pangan yang tangguh dan terdiversifikasi, menciptakan lapangan kerja berkualitas, mendukung sistem pangan berkelanjutan dan tahan iklim, serta berkontribusi pada ketahanan pangan regional dan global.

“Dengan pendekatan Indonesia Incorporated dan mitra tepercaya seperti Kanada, kita memiliki peluang nyata untuk melangkah dari sekadar arus perdagangan menuju kemitraan strategis jangka panjang di bidang ketahanan pangan,” pungkasnya.

Kadin Lakukan Ekspor Perdana Arang Kelapa ke Tianjin Senilai Rp200 Miliar
Devi Rachmawati: CEPA Indonesia-Kanada Bakal Perkuat Integrasi Sistem Pangan
Kadin Tekankan Kebangkitan Industri Maritim untuk Dukung Target Indonesia Emas 2045

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry