Jakarta – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur menggelar acara Misi Dagang dan Investasi: Meningkatkan Jejaring Konektivitas antara Provinsi Jawa Timur dan Provinsi DKI Jakarta di Menara Peninsula Hotel Jakarta, pada Senin (02/03/2026).
Kegiatan ini diselenggarakan sebagai upaya memperkuat konektivitas ekonomi antar-daerah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kerja sama perdagangan dan investasi.
Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Jawa Timur (Jatim) dan Kadin Provinsi DKI Jakarta yang mencakup kerja sama di bidang perdagangan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM).
Penandatanganan kerja sama itu dilakukan oleh Ketua Umum Kadin Provinsi Jawa Timur Adik Dwi Putranto dan Ketua Umum Kadin Provinsi DKI Jakarta Diana Dewi.
Ketua Umum Kadin Provinsi Jatim Adik Dwi Putranto menyampaikan bahwa misi dagang antar-provinsi merupakan langkah strategis untuk memperkuat pasar dalam negeri melalui pemanfaatan produk-produk dalam negeri.
“Ini memang dalam rangka memperkuat pasar dalam negeri dengan produk dalam negeri. Ternyata masih banyak sekali peluangnya, sangat besar, baik bagi pengusaha di luar Provinsi Jawa Timur maupun yang ada di Jawa Timur sendiri,” ujar Adik usai acara.
Ia menjelaskan, kerja sama antara Kadin Provinsi Jawa Timur dan Kadin Provinsi DKI Jakarta diharapkan dapat membuka peluang pasar yang lebih luas bagi para pelaku usaha, khususnya dari Jatim, untuk memenuhi berbagai kebutuhan yang ada di ibu kota.
“Dengan adanya kerja sama ini kita bisa mengetahui kebutuhan apa saja yang dibutuhkan di DKI Jakarta. Ternyata masih banyak kebutuhan yang bisa disuplai oleh Jawa Timur. Harapannya tentu para pengusaha Jawa Timur bisa mendukung kebutuhan tersebut,” kata Adik.
Adik juga berharap model kerja sama serupa dapat dilakukan oleh berbagai provinsi lain sehingga pasar dalam negeri dapat semakin dikuasai oleh produk-produk lokal.
“Harapannya ini bisa dilakukan oleh semua provinsi, sehingga betul-betul pasar dalam negeri bisa dikuasai oleh barang-barang dari dalam negeri juga,” tambahnya.
Selain kerja sama perdagangan, MoU tersebut juga mencakup program pengembangan SDM, termasuk pelatihan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Menurut Adik, kualitas sumber daya manusia merupakan faktor kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Menurut kami penentu pertumbuhan ekonomi itu sekitar 60-70 persen ada pada sumber daya manusia. Karena itu perlu terus didorong melalui pelatihan dan peningkatan kapasitas,” terang Adik.
Sementara itu, Gubernur Provinsi Jatim Khofifah Indar Parawansa menegaskan misi dagang ini tidak hanya berorientasi pada transaksi komoditas. Ia menyebut kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem rantai pasok yang tangguh dan efisien.
“Kita ingin memastikan apa yang dihasilkan petani, peternak, dan pelaku UMKM di Jawa Timur dapat terserap optimal di pasar Jakarta dengan harga stabil dan kualitas terjaga. Ini adalah upaya bersama untuk menekan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta Uus Kuswanto yang hadir mewakili Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan bahwa bagi DKI Jakarta, misi dagang merupakan instrumen penting untuk memperkuat integrasi pasar dalam negeri. Selain memperpendek rantai pasok, kolaborasi ini juga dinilai mampu meningkatkan ketahanan ekonomi nasional berbasis sinergi antardaerah.
“Bagi DKI Jakarta, misi dagang merupakan instrumen strategis untuk memperkuat integrasi pasar dalam negeri, memperpendek rantai pasok, serta meningkatkan ketahanan ekonomi nasional berbasis kolaborasi antar-daerah,” pungkasnya.
Dilansir situs resmi Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Jawa Timur, total komitmen transaksi Misi Dagang dan Investasi Jatim-DKI Jakarta, tercatat sebesar Rp5.744.955.800.000, melampaui capaian Misi Dagang Jatim-Jakarta tahun 2021 sebesar Rp750,44 miliar.
Dari total tersebut, nilai penjualan Jawa Timur ke DKI Jakarta mencapai Rp5.615.355.800.000, sedangkan pembelian Jawa Timur dari DKI Jakarta sebesar Rp129.600.000.000 dengan komoditas daging sapi.
Komoditas unggulan Jawa Timur yang ditransaksikan antara lain daging unggas, anak ayam, ternak ayam, biji kopi, fillet dori, aneka olahan seafood dan daging, susu, telur ayam, gula kristal putih, pakan ikan, bantal guling, rokok, produk fashion dan tekstil, saus, kecap, bumbu, batik tulis, kayu gergajian, ikan hias koi dan koki, cerutu, serta domba.