Surabaya – United States Trade and Development Agency (USTDA) menawarkan peluang kerja sama investasi kepada pelaku usaha di Jawa Timur (Jatim) guna mendukung pembangunan infrastruktur pada sejumlah sektor prioritas, meliputi Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), transportasi (darat, laut, dan udara), infrastruktur digital, serta pengembangan kota cerdas.
Penawaran tersebut disampaikan dalam dialog investasi bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Jatim yang berlangsung di Surabaya, Kamis (30/04/2026).
Ketua Umum Kadin Provinsi Jatim Adik Dwi Putranto menyampaikan bahwa pihaknya menyambut baik peluang kerja sama tersebut, terutama karena pembangunan infrastruktur tidak hanya berkaitan dengan fisik, tetapi juga kesiapan ekosistem pendukung.
“Kadin (provinsi) Jawa Timur mengambil peran strategis, khususnya melalui penguatan sumber daya manusia, agar pertumbuhan infrastruktur dapat diimbangi dengan tenaga kerja yang kompeten dan siap menghadapi tuntutan industri global,” tutur Adik.
Adik menambahkan, penguatan SDM menjadi kunci agar setiap investasi dan proyek infrastruktur dapat memberikan manfaat optimal, termasuk melalui transfer pengetahuan dan peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal.
Sementara itu, Perwakilan U.S. International Development Corporation Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Jakarta Adrian Bastien, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat kolaborasi Indonesia–AS dalam pengembangan infrastruktur berkualitas tinggi.
“Kegiatan hari ini diselenggarakan bersama USTDA yang memiliki peran strategis sebagai first mover pemerintah Amerika Serikat dalam pengembangan infrastruktur kritis di negara berkembang,” ujarnya.
Adrian menjelaskan bahwa USTDA memberikan dukungan sejak tahap awal proyek, mulai dari identifikasi peluang, studi kelayakan, hingga persiapan proyek agar layak secara komersial dan siap didanai.
Menurutnya, USTDA telah mendukung lebih dari 127 miliar dolar AS dalam ekspor serta bekerja sama dengan lebih dari 380 komunitas dan usaha kecil.
Ia menambahkan, USTDA berfokus pada sektor yang sejalan dengan prioritas pembangunan Indonesia, seperti infrastruktur digital, transportasi, energi dan mineral kritis, serta sistem kesehatan. Selain itu, pemerintah AS juga melibatkan U.S. International Development Finance Corporation (DFC) sebagai lembaga pembiayaan pembangunan.
“DFC melengkapi peran USTDA dengan menyediakan dukungan pembiayaan serta memobilisasi modal swasta di sektor strategis seperti infrastruktur, mineral kritis, dan teknologi maju,” jelasnya.
Adrian menegaskan bahwa pendekatan yang dilakukan bersifat terintegrasi melalui berbagai lembaga, termasuk Konsulat Jenderal, USTDA, DFC, Export-Import Bank, dan U.S. Foreign Commercial Service.
“Kolaborasi ini memungkinkan identifikasi proyek, dukungan teknis, solusi pembiayaan, hingga membantu mengatasi hambatan regulasi maupun implementasi,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur berkualitas tinggi yang mengedepankan keandalan, transparansi, standar lingkungan, serta keberlanjutan finansial.
“Infrastruktur merupakan fondasi utama bagi pertumbuhan ekonomi dan daya saing jangka panjang. Keputusan hari ini akan membentuk ekosistem ekonomi selama beberapa dekade ke depan,” tegasnya.
Dalam konteks Indonesia, Jatim dinilai memiliki posisi strategis dengan basis industri yang kuat, tenaga kerja kompeten, serta konektivitas yang baik. Namun, pembangunan infrastruktur skala besar tetap memerlukan kolaborasi lintas sektor.
“Kegiatan ini menjadi wadah untuk mempertemukan pemangku kepentingan dan mengidentifikasi peluang kerja sama konkret,” pungkasnya.