KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

Anindya Bakrie di Summer Davos 2026: Indonesia Punya Modal Besar Jadi Pemain Kunci Era Software-Defined Vehicles

Dalian, China – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menegaskan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis dalam perkembangan industri kendaraan berbasis perangkat lunak atau software-defined vehicles (SDV) berkat kekayaan mineral kritis, potensi energi terbarukan, dan bonus demografi yang dimiliki.

Hal tersebut disampaikan Anindya atau Anin sapaan akrabnya saat menjadi pembicara dalam sesi bertajuk “When Cars Became Software” pada rangkaian 17th Annual Meeting of the New Champions 2026 ‘Summer Davos’ yang diselenggarakan oleh World Economic Forum (WEF) di Dalian, China, Selasa (23/06/2026).

Anin menjelaskan bahwa transformasi industri otomotif menuju kendaraan berbasis perangkat lunak tidak hanya berbicara mengenai data dan teknologi digital, tetapi juga mencakup kebutuhan terhadap material maju, energi, serta kemampuan manufaktur berteknologi tinggi.

“Ketika kita berbicara mengenai mobil yang menjadi perangkat lunak, kita juga berbicara mengenai sebuah platform, bukan hanya untuk perangkat lunak dan data, tetapi juga untuk ilmu material, mineral kritis, energi, dan tentu saja manufaktur maju,” ujarnya.

Anin menyebut, Indonesia memiliki hampir seluruh mineral kritis yang dibutuhkan dalam pengembangan kendaraan listrik maupun SDV. Indonesia saat ini merupakan produsen nikel terbesar di dunia serta termasuk lima besar dunia untuk komoditas tembaga, seng, bauksit, dan timah.

“Kemampuan Indonesia untuk mengolah mineral-mineral kritis tersebut akan sangat membantu perkembangan software-defined vehicles,” kata Anin.

Selain kekayaan sumber daya alam, Anin menilai potensi energi terbarukan menjadi keunggulan lain yang dimiliki Indonesia. Saat ini kapasitas energi terpasang nasional mencapai sekitar 100 gigawatt yang masih didominasi energi konvensional. Namun ke depan, sekitar 75 persen tambahan kapasitas pembangkit baru ditargetkan berasal dari sumber energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, panas bumi, dan hidro.

Menurut Anin, transisi energi tersebut menjadi peluang besar untuk mendorong transformasi industri nasional menuju industri yang lebih berkelanjutan dan berdaya saing tinggi.

Di sisi lain lanjut Anin, Indonesia juga memiliki modal besar berupa sumber daya manusia. Dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 285 juta jiwa dan pertumbuhan sekitar lima juta kelahiran setiap tahun, industrialisasi menjadi kebutuhan penting untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru.

“Kita harus menciptakan lapangan kerja bagi mereka. Karena itu industrialisasi menjadi sangat penting,” ujar Anin.

Meski demikian, Anin melihat peluang terbesar penerapan SDV di Indonesia bukan hanya pada kendaraan penumpang, sistem hiburan kendaraan, atau teknologi bantuan mengemudi canggih. Menurut Anin, potensi terbesar justru berada pada sektor manajemen armada dan logistik.

Diungkapkan Anin, Indonesia memiliki sekitar 6,5 juta truk, kendaraan pertambangan, dan kendaraan logistik, serta sekitar 300 ribu bus yang membutuhkan sistem pengelolaan yang lebih efisien.

“Ini perlu dikelola dengan baik agar Indonesia bisa naik ke level berikutnya sekaligus mendorong industrialisasi yang lebih kuat,” kata Anin.

Lebih lanjut, Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau, Indonesia, kata Anin, masih menghadapi tantangan biaya logistik yang relatif tinggi. Karena itu, pemanfaatan teknologi SDV dan kecerdasan buatan diyakini dapat menjadi solusi untuk meningkatkan efisiensi distribusi barang dan jasa.

Anin menegaskan bahwa transformasi menuju kendaraan cerdas tidak berarti perangkat keras atau hardware menjadi tidak relevan. Sebaliknya, kebutuhan terhadap material maju justru semakin meningkat.

“Ketergantungan terhadap material bukan berkurang, tetapi semakin intensif. Material baterai harus lebih efisien, lebih padat energi, dan tetap stabil secara termal. Untuk itu dibutuhkan nikel, lebih banyak tembaga untuk menghantarkan listrik, serta aluminium ringan yang berasal dari bauksit,” jelas Anin.

Menurut Anin, terdapat empat faktor utama yang akan mendorong Indonesia bergerak menuju rantai nilai yang lebih tinggi, yakni besarnya permintaan domestik, kebutuhan industrialisasi, optimalisasi nilai tambah sumber daya alam, serta tekanan perubahan iklim dan urbanisasi.

Lebih jauh, Anin juga menyoroti tingginya antusiasme generasi muda terhadap transformasi energi. Saat ini sekitar 60 persen penduduk Indonesia berusia di bawah 30 tahun.

Sebagai contoh, Anin menyebut program elektrifikasi transportasi publik di Jakarta yang tengah berjalan. Dalam lima tahun ke depan, armada Bus Rapid Transit (BRT) Jakarta yang mencapai sekitar 10 ribu unit ditargetkan beralih menjadi kendaraan listrik.

“Ini menjadi gerakan publik yang mendorong elektrifikasi tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di seluruh Indonesia,” ujar Anin.

Dalam kesempatan tersebut, Anin juga menekankan pentingnya kolaborasi internasional untuk mempercepat pengembangan ekosistem kendaraan listrik dan SDV di Indonesia. Menurutnya, penguasaan teknologi tidak dapat terjadi dalam waktu singkat sehingga kemitraan dengan investor dan perusahaan global menjadi faktor penting.

“Pengolahan material baterai dan produksi baterai membutuhkan mitra. Mitra membawa investasi asing langsung, menciptakan lapangan kerja, dan membantu memperkuat stabilitas ekonomi,” kata Anin.

Lebih lanjut, Anin berharap perkembangan SDV dan kendaraan berbasis kecerdasan buatan dapat membantu Indonesia menurunkan biaya logistik nasional secara signifikan dalam beberapa tahun mendatang. Saat ini biaya logistik Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 17 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Menurut Anin, angka tersebut perlu ditekan hingga mendekati 5 persen agar daya saing ekonomi nasional semakin meningkat.

“Ketika berbicara mengenai shared mobility, itu memang penting. Tetapi bagi Indonesia, yang lebih penting adalah bagaimana teknologi dapat menurunkan biaya logistik untuk menggerakkan perekonomian. Itulah yang saya harapkan bisa terwujud dalam tiga tahun ke depan,” pungkas Anin.

Turut hadir sebagai pembicara dalam diskusi panel tersebut yaitu Senior Fellow Salata Institute for Climate and Sustainability Harvard University Elaine Buckberg, Chief Executive Officer Motovis Zhenghua (Jack) Yu dan Chief Manufacturing Officer, Contemporary Amperex Technology (CATL) Ni Jun.

Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie juga menjalani serangkaian agenda strategis lainnya di China.

Kegiatan tersebut antara lain melakukan pertemuan dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk China H.E. Djauhari Oratmangun, memberikan wawancara khusus kepada China Global Television Network (CGTN)⁠, menghadiri APEC China CEO Forum bersama para anggota APEC Business Advisory Council (ABAC), serta mengikuti Welcoming & Networking Banquet dalam rangka penyelenggaraan China International Supply Chain Expo.

Anindya Bakrie di Summer Davos 2026: Indonesia Punya Modal Besar Jadi Pemain Kunci Era Software-Defined Vehicles
Womenpreneur Goes to Campus, Kadin Dorong Mahasiswa Terjun ke Dunia Usaha
Kadin Indonesia Datangi China, Ingin Genjot Perdagangan-Investasi

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry