KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

James T. Riady: Masa Depan Kesehatan Indonesia Tidak Ditentukan oleh Banyaknya Rumah Sakit

Jakarta – Masa depan sistem kesehatan Indonesia tidak lagi dapat dilihat semata-mata sebagai layanan pengobatan, melainkan sebagai investasi strategis untuk membangun modal manusia (human capital) yang akan menentukan daya saing bangsa dalam beberapa dekade mendatang. Jumlah rumah sakit tidak lagi menjadi penentu masa depan kualitas kesehatan bangsa Indonesia.

Berbicara dalam acara Healthcare Power Breakfast 2026 bertema “Beyond Today: Designing Tomorrow’s Healthcare Ecosystem” di Plataran, Jakarta, Rabu (24/6/2026), Founder & Chairman Siloam International Hospitals, James T. Riady, menegaskan, paradigma kesehatan global sedang mengalami perubahan mendasar, dari pendekatan yang berfokus pada pengobatan menuju pembangunan kualitas manusia secara menyeluruh. “Selama 50 tahun terakhir, kesehatan sering dipandang sebagai biaya. Untuk 50 tahun ke depan, kesehatan harus dipandang sebagai investasi,” ujar James.

Menurutnya, negara-negara yang akan unggul pada masa depan bukanlah negara yang memiliki sumber daya alam terbesar, melainkan negara yang memiliki penduduk yang lebih sehat, usia produktif yang lebih panjang, dan modal manusia yang lebih kuat. Karena itu, ia menilai kebijakan pemerintah yang menempatkan gizi, akses kesehatan, layanan preventif, dan pembangunan sumber daya manusia sebagai prioritas nasional merupakan langkah yang tepat. Dalam perspektif baru tersebut, kesehatan bukan lagi sekadar isu medis, tetapi telah menjadi isu ekonomi, produktivitas, dan daya saing nasional.

“Pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak akan ditentukan hanya oleh sumber daya alam yang kita miliki, tetapi oleh kualitas manusia Indonesia, kesehatan masyarakatnya, produktivitasnya, dan umur produktif yang lebih panjang,” katanya.

Dari Mengobati Menjadi Mencegah

James juga menyoroti perubahan besar yang sedang terjadi dalam ekosistem kesehatan global. Selama ini, sistem kesehatan dirancang untuk merespons penyakit setelah masyarakat jatuh sakit. Rumah sakit kemudian memberikan perawatan, perusahaan asuransi menanggung biaya, dan seluruh sistem bekerja setelah masalah muncul.

Model tersebut, menurut dia, semakin mahal dan sulit dipertahankan dalam jangka panjang. Karena itu, masa depan layanan kesehatan harus bergeser ke hulu, yakni pada pencegahan dan deteksi dini penyakit. Ekosistem kesehatan masa depan tidak hanya dibangun di rumah sakit, tetapi juga di rumah, sekolah, tempat kerja, komunitas, dan platform digital.

“Masa depan adalah pencegahan. Masa depan adalah deteksi dini. Masa depan adalah wellness dan pengelolaan gaya hidup sehat,” ujarnya.

James bahkan menyebut bahwa keberhasilan sistem kesehatan bukan diukur dari banyaknya pasien yang dirawat, melainkan dari banyaknya penyakit yang berhasil dicegah. “Rawat inap terbaik sering kali adalah rawat inap yang tidak pernah terjadi. Operasi terbaik sering kali adalah operasi yang dapat dihindari,” katanya.

Pendekatan tersebut menuntut perubahan pola pikir seluruh pemangku kepentingan, mulai dari rumah sakit, perusahaan asuransi, dunia usaha, pemerintah, hingga masyarakat.

AI Mengubah Wajah Industri Kesehatan

Dalam kesempatan itu, James juga menyoroti peran teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), yang diyakini akan membawa perubahan terbesar dalam industri kesehatan selama satu dekade mendatang.

Menurutnya, AI telah mulai mengubah berbagai aspek layanan kesehatan, mulai dari diagnostik, radiologi, patologi, pengobatan prediktif, operasional rumah sakit, hingga keterlibatan pasien.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa teknologi bukanlah tujuan akhir. “Teknologi harus tetap menjadi alat. Pelayanan kesehatan pada akhirnya tetap merupakan aktivitas yang sangat manusiawi,” ujarnya.

Pasien, kata dia, tetap membutuhkan empati, kepercayaan, kebijaksanaan, penilaian profesional, dan hubungan antarmanusia yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh mesin.

Karena itu, kisah terbesar industri kesehatan pada dekade mendatang bukan sekadar pembangunan gedung rumah sakit baru, melainkan kemampuan menggabungkan kecerdasan buatan dengan keahlian manusia.

“Masa depan akan menjadi milik organisasi yang mampu menggabungkan teknologi canggih dengan sentuhan kemanusiaan. Bukan salah satunya, tetapi keduanya sekaligus,” tegasnya. James juga mendorong Indonesia untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi kesehatan, melainkan membangun ambisi menjadi salah satu pusat ekosistem AI dan layanan kesehatan terdepan di kawasan ASEAN.

Trust Jadi Aset Paling Berharga

Selain teknologi dan inovasi, James menegaskan bahwa fondasi utama industri kesehatan tetaplah kepercayaan (trust).Berbeda dengan industri lain, kata dia, sektor kesehatan berhubungan langsung dengan kehidupan manusia. Pasien mempercayakan nyawa, keluarga, dan masa depan mereka kepada institusi kesehatan.

“Teknologi penting. Modal penting. Skala usaha penting. Tetapi yang paling penting adalah kepercayaan,” katanya.

Kepercayaan tersebut mencakup hubungan antara pasien dan dokter, rumah sakit dan perusahaan asuransi, penyedia layanan kesehatan dan dunia usaha, hingga hubungan antara institusi kesehatan dengan masyarakat luas. “Segala sesuatu dapat dibangun di atas fondasi kepercayaan. Tetapi tidak ada sesuatu yang bermakna yang dapat dibangun tanpa kepercayaan,” ujarnya.

Kemitraan

Menutup pidatonya, James menegaskan bahwa masa depan sistem kesehatan Indonesia tidak akan ditentukan oleh jumlah rumah sakit yang dibangun, melainkan oleh kemampuan seluruh pemangku kepentingan untuk mentransformasikan kesehatan menjadi instrumen pembangunan modal manusia, pencegahan penyakit, peningkatan produktivitas, inovasi, dan kepercayaan.

Menurutnya, transformasi tersebut hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi erat antara rumah sakit, perusahaan asuransi, dunia usaha, pemerintah, penyedia teknologi, dan seluruh pelaku ekosistem kesehatan.

“Jika kita bekerja bersama, kita tidak hanya memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan. Kita memiliki kesempatan untuk ikut membentuk masa depan Indonesia,” kata James.

Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan bahwa di tengah perubahan teknologi, tantangan demografi, dan persaingan global yang semakin ketat, kesehatan bukan lagi sekadar sektor layanan publik, melainkan fondasi utama bagi pertumbuhan ekonomi dan kemajuan bangsa pada masa depan.

“Gedung rumah sakit dapat dibangun dengan modal, teknologi dapat dibeli dengan uang, tetapi masa depan bangsa hanya dapat dibangun melalui manusia yang sehat. Karena itu, investasi terbesar Indonesia sesungguhnya bukan pada beton dan bangunan, melainkan pada kesehatan rakyatnya.” (PD)

Sumber: investortrust.id

James T. Riady: Masa Depan Kesehatan Indonesia Tidak Ditentukan oleh Banyaknya Rumah Sakit
Anindya Bakrie di Summer Davos 2026: Indonesia Punya Modal Besar Jadi Pemain Kunci Era Software-Defined Vehicles
Womenpreneur Goes to Campus, Kadin Dorong Mahasiswa Terjun ke Dunia Usaha

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry