“Hubungan Indonesia dan India telah melampaui ujian waktu. Jika pada masa lalu kedua bangsa dipersatukan oleh jalur rempah, agama, dan peradaban, maka pada abad ke-21 keduanya dipertemukan oleh sesuatu yang sama strategisnya: teknologi, data, dan ekonomi digital. Dari Borobudur hingga Indonesia Open Network (ION), kemitraan Indonesia–India terus berevolusi—dari membangun peradaban menuju membangun kedaulatan digital.”
Oleh: Kepala Kantor Komunikasi Kadin Indonesia, Primus Dorimulu
Jakarta – Hubungan Indonesia dan India adalah hubungan peradaban. Hubungan kedua negara besar itu tidak sekadar hubungan diplomatik. Jauh sebelum lahirnya negara modern, Nusantara dan anak benua India telah terhubung oleh jalur perdagangan, agama, bahasa, seni, arsitektur, dan filsafat. Dari India datang pengaruh Hindu dan Buddha yang kemudian berakar kuat di Nusantara, melahirkan mahakarya seperti Candi Prambanan, Candi Borobudur, wayang, kisah Ramayana dan Mahabharata, serta berbagai nilai budaya yang menjadi bagian dari identitas Indonesia.
Kini, setelah ribuan tahun, hubungan itu memasuki babak baru. Jika masa lalu Indonesia–India ditandai oleh pertukaran rempah, agama, dan kebudayaan, maka masa depan kedua negara akan ditentukan oleh teknologi, kecerdasan buatan, ekonomi digital, keamanan siber, pertahanan, dan kedaulatan data. Inilah transformasi besar hubungan Indonesia–India: dari warisan peradaban menuju kemitraan masa depan.
Momentum itu semakin kuat setelah kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke India, menghadiri Republic Day, 26 Januari 2025. Sebagai balasan, Perdana Menteri Narendra Modi ke Indonesia, 7 Juli 2026. Pertemuan kedua pemimpin menjadi simbol bahwa Indonesia dan India tidak lagi hanya berbicara tentang perdagangan, tetapi juga tentang rebalancing hubungan ekonomi yang selama ini timpang, kerja sama industri pertahanan, teknologi digital, konektivitas maritim, dan pembangunan kapasitas sumber daya manusia. Indonesia dan India juga telah memperkuat kemitraan strategis di bidang perdagangan, investasi, industri strategis, maritim, dan konektivitas digital menjelang kunjungan PM Modi ke Indonesia.
Dalam perdagangan, Indonesia selama ini menikmati surplus cukup besar terhadap India. Ekspor Indonesia masih didominasi batu bara, minyak sawit, karet, mineral, dan komoditas berbasis sumber daya alam. Sementara itu, India semakin kuat dalam farmasi, manufaktur, teknologi informasi, mesin, otomotif, dan jasa digital. Surplus perdagangan tentu menguntungkan Indonesia, tetapi struktur seperti ini belum cukup untuk membawa Indonesia naik kelas. Yang dibutuhkan bukan sekadar surplus, melainkan nilai tambah. Karena itu, rebalancing perdagangan harus diarahkan pada investasi, transfer teknologi, pengembangan industri bersama, dan penguatan ekosistem digital nasional.
Di sinilah Indonesia Open Network atau ION menjadi sangat strategis. ION bukan marketplace. ION adalah Digital Public Infrastructure, yakni infrastruktur digital publik terbuka yang dirancang untuk menghubungkan aplikasi pembeli, aplikasi penjual, penyedia logistik, lembaga keuangan, layanan mobilitas, dan layanan pemerintah dalam satu ekosistem yang interoperabel. ION terinspirasi oleh keberhasilan Open Network for Digital Commerce di India, sebuah inisiatif yang mendorong jaringan perdagangan digital terbuka agar pembeli, penjual, platform, dan peritel tidak bergantung pada satu platform tertutup.
Dengan ION, Indonesia sedang membangun fondasi ekonomi digital generasi berikutnya. Ekonomi digital tidak boleh hanya dikuasai segelintir platform besar yang selama ini mengembangkan closed network. UMKM, koperasi, petani, pedagang pasar, pengemudi, mahasiswa, dan masyarakat desa harus ikut menjadi pelaku utama. Lebih dari 30 juta UMKM yang terdaftar dapat memperoleh etalase digital, akses pembeli nasional, logistik terintegrasi, pembiayaan, asuransi, insentif pemerintah, dan business matching berbasis AI. Inilah demokratisasi perdagangan digital dan itu hanya mungkin lewat open network yang akan dikembankan oleh Indonesia Open Network.
ION juga penting karena menyentuh jantung persoalan masa depan: kedaulatan digital. Di abad ke-21, kedaulatan negara tidak lagi hanya ditentukan oleh wilayah, tentara, dan sumber daya alam. Kedaulatan juga ditentukan oleh siapa yang menguasai data, algoritma, infrastruktur digital, sistem pembayaran, jaringan logistik, dan kecerdasan buatan. Negara yang tidak memiliki infrastruktur digital sendiri akan menjadi pasar bagi platform asing. Negara yang tidak menguasai data akan kehilangan kendali atas arah ekonominya sendiri.
Karena itu, ION harus dipahami sebagai bagian dari digital sovereignty Indonesia. Data UMKM, data transaksi, data logistik, data pembiayaan, data mobilitas, dan data pasar harus menjadi aset strategis nasional. Data tidak boleh hanya menjadi bahan bakar bagi korporasi digital besar. Data harus kembali memberi manfaat kepada pelaku ekonomi rakyat. Jika dirancang dengan tata kelola yang benar, ION dapat menjadi jalan tengah antara inovasi pasar dan perlindungan kepentingan nasional.
Lebih jauh lagi, ION membuka jalan menuju AI sovereignty. Kecerdasan buatan hanya akan kuat jika didukung data yang luas, terstruktur, dan relevan dengan realitas lokal. Indonesia tidak cukup hanya menjadi pengguna AI buatan negara lain. Indonesia harus membangun kemampuan AI sendiri, berbasis bahasa Indonesia, perilaku konsumen Indonesia, karakter UMKM Indonesia, pola pertanian Indonesia, dan kebutuhan desa Indonesia. Dengan arsitektur Beckn 2.0 yang AI-first dan siap memasuki era agentic commerce, ION dapat menjadi fondasi bagi lahirnya AI Indonesia yang bekerja untuk kepentingan bangsa sendiri.
Dimensi ketiga adalah strategic autonomy. Indonesia menganut politik luar negeri bebas aktif. Dalam ekonomi digital, prinsip itu harus diterjemahkan menjadi kemampuan memilih, membangun, dan mengendalikan teknologi sendiri tanpa terjebak ketergantungan pada satu blok kekuatan global. Kerja sama dengan India menjadi penting karena India bukan hanya mitra dagang, tetapi negara demokrasi besar yang telah berhasil membangun Digital Public Infrastructure dalam skala raksasa. India membuktikan bahwa teknologi digital tidak harus selalu dikendalikan oleh platform tertutup. Teknologi dapat dibangun sebagai infrastruktur publik yang terbuka, inklusif, dan kompetitif.
Kunjungan PM Modi ke Indonesia pada 7 Juli 2026 memiliki makna yang jauh melampaui seremoni diplomatik. Peluncuran ION dapat menjadi simbol lahirnya babak baru hubungan Indonesia–India: dari diplomasi budaya menuju diplomasi teknologi; dari perdagangan komoditas menuju ekonomi pengetahuan; dari surplus dagang menuju surplus nilai tambah; dari ketergantungan digital menuju kedaulatan digital.
Jika pada masa lalu India ikut memberi inspirasi bagi lahirnya Borobudur, Prambanan, dan wayang, maka pada abad digital, India dapat menjadi mitra strategis Indonesia dalam membangun fondasi teknologi masa depan. Namun, Indonesia tidak boleh hanya menjadi penerima teknologi. Indonesia harus menjadi pemilik, pengembang, dan pengendali arah transformasinya sendiri.
Keberhasilan India membangun Open Network for Digital Commerce (ONDC) telah menjadi salah satu contoh paling menonjol bagaimana open network mampu mentransformasi ekonomi digital secara inklusif. Melalui standar terbuka dan interoperabilitas, jutaan UMKM India memperoleh akses yang lebih luas ke pasar digital tanpa bergantung pada satu platform dominan. Ekosistem yang semakin terbuka itu juga mempercepat inklusi keuangan, memperluas partisipasi masyarakat dalam ekonomi formal, dan menjadi salah satu faktor pendukung berkembangnya basis investor ritel yang kini menjadi kekuatan baru pasar modal India.
Terinspirasi pengalaman ONDC, Indonesia —dengan bantuan para ahli dari India– mengembangkan Indonesia Open Network (ION) dengan mengadopsi prinsip-prinsip open network yang telah terbukti berhasil di India, namun disesuaikan dengan kebutuhan, regulasi, dan karakteristik ekonomi nasional. Dengan demikian, ION bukan sekadar adaptasi teknologi, melainkan hasil pengembangan Indonesia yang telah didaftarkan sebagai hak kekayaan intelektual di Kementerian Hukum. ION menjadi simbol babak baru kemitraan strategis Indonesia–India: India berbagi pengalaman dan inovasi digital, sementara Indonesia mengembangkannya menjadi fondasi ekonomi digital nasional yang terbuka, inklusif, dan berdaulat bagi UMKM, koperasi, pelaku usaha, serta masyarakat luas.
Proses pengembangan ION mendapat dukungan penuh Pemerintah India sebagai wujud nyata kemitraan strategis kedua negara di bidang ekonomi digital dan Digital Public Infrastructure (DPI). Meski terinspirasi dari ONDC, ION merupakan hasil pengembangan Indonesia yang disesuaikan dengan kebutuhan, regulasi, dan karakteristik ekonomi nasional. Karena itu, ION telah didaftarkan sebagai hak kekayaan intelektual Indonesia di Kementerian Hukum, sekaligus menjadi aset strategis bangsa dalam membangun ekosistem ekonomi digital yang terbuka, inklusif, dan interoperabel.
Peluncuran resmi ION dijadwalkan menjadi acara puncak seremoni kenegaraan dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Narendra Modi di Istana Negara pada 7 Juli 2026. Momentum ini bukan sekadar peluncuran sebuah infrastruktur digital, melainkan penanda lahirnya babak baru hubungan Indonesia–India: dari kemitraan yang dibangun atas sejarah, perdagangan, dan investasi, menuju kolaborasi strategis dalam membangun fondasi ekonomi digital masa depan. Sebagaimana hubungan kedua negara pernah mencatat sejarah pada awal kemerdekaan, ION diharapkan menjadi tonggak baru yang menghubungkan Indonesia dan India dalam membangun kedaulatan digital, memperkuat daya saing UMKM, serta memperluas inklusi ekonomi bagi jutaan masyarakat.
Indonesia Emas 2045 membutuhkan jalan tol, pelabuhan, bendungan, kawasan industri, dan infrastruktur energi. Tetapi Indonesia Emas 2045 juga membutuhkan jalan tol digital: jaringan terbuka yang menghubungkan UMKM, petani, koperasi, pasar tradisional, desa, startup, universitas, bank, fintech, logistik, dan pemerintah dalam satu ekosistem nasional yang efisien, inklusif, dan berdaulat.
ION bukan sekadar proyek teknologi. ION adalah proyek kedaulatan. Jika dibangun dengan visi besar, tata kelola kuat, dan ekosistem yang terbuka, ION dapat menjadi salah satu fondasi terpenting bagi ekonomi digital Indonesia generasi berikutnya. Dari Borobudur dan Prambanan, Indonesia mewarisi kebesaran peradaban. Dari ION, Indonesia berpeluang membangun kebesaran masa depan.
Kemajuan hubungan Indonesia–India dalam beberapa tahun terakhir juga tidak dapat dilepaskan dari peran Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty. Sejak mulai bertugas pada Agustus 2023, diplomat senior India tersebut aktif memperkuat diplomasi antarmasyarakat (people-to-people diplomacy) sekaligus memperluas kerja sama strategis kedua negara. Salah satu inisiatifnya adalah membangun jembatan komunikasi melalui pertukaran kunjungan para pemimpin media arus utama. Pada Januari 2024, sebanyak 15 pemimpin media Indonesia diundang menghadiri perayaan Hari Republik India di New Delhi. Program tersebut kemudian diikuti dengan kunjungan balasan para pemimpin media India ke Indonesia pada 2025, yang semakin memperkuat saling pengertian dan jejaring antarlembaga media kedua negara.
Dalam pengembangan ION, Sandeep Chakravorty juga memainkan peran penting sebagai penghubung dan pendorong kerja sama antara Indonesia dan India. Ia tidak hanya menjalankan fungsi diplomasi dari balik layar, tetapi juga aktif memfasilitasi dialog, mempertemukan para pemangku kepentingan, serta mendorong alih pengetahuan dan pengalaman dari keberhasilan ONDC di India kepada Indonesia. Kontribusinya menjadi salah satu faktor penting yang mempercepat lahirnya ION sebagai fondasi baru ekonomi digital Indonesia.
Atas kontribusinya dalam memperkuat hubungan bilateral, masa tugas Duta Besar Sandeep Chakravorty diperpanjang selama dua tahun. Pada masa penugasannya pula, pembangunan kembali kompleks Kedutaan Besar India di Jalan H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan, berhasil diselesaikan. Gedung kedutaan yang baru bukan hanya menjadi simbol kehadiran diplomatik India di Indonesia, tetapi juga mencerminkan semakin eratnya kemitraan strategis kedua negara yang kini berkembang dari kerja sama politik dan ekonomi menuju kolaborasi dalam inovasi, teknologi, dan transformasi digital.
Sejarah telah membuktikan bahwa hubungan Indonesia dan India selalu melahirkan warisan yang melampaui zamannya. Dahulu hubungan itu memperkaya peradaban Nusantara melalui ilmu pengetahuan, seni, dan kebudayaan. Kini, hubungan yang sama berpeluang melahirkan fondasi baru bagi ekonomi digital Indonesia. Apabila Borobudur dan Prambanan menjadi monumen kebesaran peradaban masa lalu, maka ION diharapkan menjadi monumen kedaulatan digital Indonesia pada abad ke-21—simbol bahwa persahabatan antarbangsa tidak hanya mewariskan sejarah, tetapi juga membangun masa depan