Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Institute (KII) menggelar sosialisasi White Paper bertajuk “Health is the New Wealth” yang menegaskan kesehatan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan inovasi Indonesia. Kegiatan tersebut berlangsung dalam forum KII 8% Club di Menara Kadin Indonesia Jakarta Selatan, Rabu (08/07/2026).
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Pembangunan Berkelanjutan Kadin Indonesia Shinta W. Kamdani, mengatakan tema Health is the New Wealth bukan sekadar slogan, melainkan mencerminkan perubahan paradigma global bahwa kesehatan telah menjadi fondasi utama pembangunan ekonomi.
“Negara-negara yang memiliki sistem kesehatan yang kuat terbukti memiliki produktivitas tenaga kerja yang lebih tinggi, ketahanan ekonomi yang lebih baik, serta daya saing yang lebih kuat dalam menarik investasi,” ujar Shinta.
Menurut Shinta, Indonesia saat ini berada pada momentum yang tepat untuk memperkuat sektor kesehatan seiring bonus demografi yang akan berlangsung sekitar satu dekade ke depan, pertumbuhan kelas menengah, meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan, serta komitmen pemerintah dalam mentransformasi sistem kesehatan nasional.
Shinta menilai sektor kesehatan kini menjadi salah satu sektor paling prospektif untuk investasi jangka panjang. Investasi tersebut tidak hanya terbatas pada pembangunan rumah sakit atau produksi obat-obatan, tetapi mencakup pembangunan ekosistem kesehatan nasional yang terintegrasi.
Ekosistem tersebut kata Shinta meliputi industri farmasi dan bahan baku obat, alat kesehatan, bioteknologi, vaksin, layanan kesehatan digital, kecerdasan buatan untuk layanan medis, riset dan pengembangan, pendidikan tenaga kesehatan, hingga industri pendukung seperti logistik, rantai dingin, dan manufaktur berteknologi tinggi.
“Setiap investasi di sektor ini akan menghasilkan multiplier effect yang besar terhadap penciptaan lapangan kerja, pengembangan teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penguatan daya saing industri nasional. Karena itu kita perlu melihat kesehatan bukan hanya sebagai pengeluaran negara, tetapi sebagai investasi produktif yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi,” kata Shinta.
Diakui Shinta, Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari tingginya ketergantungan terhadap impor bahan baku farmasi dan alat kesehatan, perlunya peningkatan riset dan inovasi, percepatan alih teknologi, hingga penguatan rantai pasok domestik. Namun, menurutnya tantangan tersebut justru membuka peluang investasi yang besar melalui kemitraan erat antara pemerintah dan dunia usaha guna membangun industri kesehatan nasional yang lebih mandiri, inovatif, dan berdaya saing.
Lebih lanjut Shinta menjelaskan, White Paper “Health is the New Wealth” merupakan wujud nyata kolaborasi tersebut. Dokumen ini menawarkan berbagai rekomendasi kebijakan untuk memperkuat iklim investasi, menyederhanakan regulasi, mendukung inovasi, memperkuat kemitraan pemerintah dan swasta, meningkatkan kapasitas industri nasional serta menjadikan Indonesia sebagai tujuan utama investasi kesehatan di kawasan.
“Kami percaya kolaborasi merupakan kunci keberhasilan transformasi kesehatan Indonesia. Pemerintah tidak dapat berjalan sendiri, demikian pula dunia usaha. Kita memerlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan agar investasi yang masuk tidak hanya menciptakan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menghasilkan dampak sosial yang nyata melalui peningkatan kualitas kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Shinta menambahkan, visi Indonesia Emas 2045 hanya dapat diwujudkan apabila Indonesia memiliki masyarakat yang sehat, produktif, dan berkualitas.
“Investasi di bidang kesehatan sejatinya adalah investasi pada masa depan bangsa. Ketika masyarakat sehat, produktivitas meningkat. Ketika produktivitas meningkat, daya saing ekonomi tumbuh. Dan ketika ekonomi tumbuh secara inklusif, kesejahteraan masyarakat akan semakin kuat,” tutur Shinta.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Kesehatan Kadin Indonesia David Utama mengatakan belanja kesehatan Indonesia saat ini masih sekitar 2,9 persen dari produk domestik bruto (PDB), atau setara sekitar Rp700 triliun.
Menurutnya, apabila pertumbuhan ekonomi Indonesia terus meningkat menuju target 8 persen, maka belanja kesehatan nasional berpotensi meningkat secara signifikan sehingga memberikan dampak besar terhadap perekonomian nasional.
“Melalui white paper ini kita memiliki baseline (acuan) yang sangat baik mengenai industri kesehatan Indonesia. Datanya lengkap, komprehensif, dan dapat dipertanggung jawabkan. Saya berani mengatakan ini adalah salah satu kajian ilmiah terbaik yang pernah diterbitkan di Indonesia untuk industri kesehatan,” kata David.
Lebih lanjut, Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Lucia Rizka Andalusia menjelaskan bahwa White Paper yang mulai disusun sejak tahun 2025 ini bertujuan memotret kondisi riil, dampak ekonomi, serta arah masa depan industri kesehatan di Indonesia.
Menurut Lucia, industri ini didorong oleh beberapa faktor utama, seperti lonjakan populasi lansia yang membutuhkan layanan kesehatan lebih intensif, dan meningkatnya kepedulian publik terhadap kesehatan. Ditandai dengan maraknya penggunaan alat medis mandiri, dan fokus pemerintah dalam memperluas skrining kesehatan sejak bayi baru lahir hingga lansia demi mendeteksi masalah kesehatan secara dini.
“White Paper Industri Kesehatan itu kita susun untuk memotret bagaimana kondisi industri kesehatan di Indonesia, bagaimana dampaknya terhadap perekonomian di Indonesia dan bagaimana ke depannya. Rencana ke depannya seperti apa, termasuk juga di dalamnya ada rekomendasi-rekomendasi apa yang harus kita perbaiki supaya investasi-investasi di industri kesehatan itu berjalan dengan baik dan bertumbuh,” pungkas Lucia.
Hadir dalam acara tersebut Direktur Eksekutif Kadin Indonesia Institute Mulya Amri.