Jakarta – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengatakan kemitraan strategis komprehensif Indonesia dan Tiongkok terus menunjukkan penguatan, ditandai dengan meningkatnya perdagangan, investasi, serta kolaborasi di berbagai sektor strategis yang mendukung pertumbuhan ekonomi kedua negara.
Hal tersebut disampaikan Anindya atau Anin sapaan akrabnya dalam Indonesia-China Partnership Forum: “Advancing Green Energy and Future Technology” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta Pusat, Kamis (23/07/2026).
Anin mengatakan hubungan ekonomi Indonesia dan Tiongkok terus menunjukkan tren positif. Nilai perdagangan kedua negara pada 2025 mencapai sekitar 168 miliar dolar AS, sementara pada semester I 2026 telah menembus 100 miliar dolar AS.
“Ini merupakan satu pertumbuhan yang luar biasa,” ujar Anin.
Selain perdagangan yang terus meningkat, Indonesia juga mencatat surplus perdagangan dengan Tiongkok sekitar 5,8 miliar dolar AS pada semester pertama 2026. Menurut Anin, capaian tersebut didorong oleh meningkatnya ekspor produk bernilai tambah hasil hilirisasi.
“Terima kasih untuk investasi dari teman-teman Tionghoa di Indonesia. Kali ini kita berhasil mengekspor barang-barang yang mempunyai nilai tambah sehingga surplusnya menjadi 5,8 miliar dolar AS dalam enam bulan terakhir ini,” kata Anin.
Di bidang investasi, Anin menyebut realisasi investasi dari Tiongkok dan Hong Kong ke Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 20 miliar dolar AS, menjadikannya kontributor investasi terbesar di Indonesia.
“Jadi memang Tionghoa ini mempunyai dampak yang besar bagi perdagangan maupun investasi,” ujar Anin.
Lebih lanjut, Anin juga menyoroti implementasi Local Currency Transaction (LCT) antara Bank Indonesia dan otoritas moneter Tiongkok yang dinilai semakin memperkuat hubungan ekonomi kedua negara.
“Transaksi antara rupiah dan yuan yang langsung rencananya dari 30 miliar dolar AS sudah ditingkatkan menjadi 60 miliar dolar AS. Dan kira-kira sebulan yang lalu kami ke Bank Indonesia, transaksi langsung antara rupiah dan yuan sudah naik 300 persen,” kata Anin.
Indonesia dan Tiongkok juga memiliki peluang besar membangun rantai pasok global (global supply chain) yang semakin terintegrasi. Hal itu, menurut Anin, terlihat saat menghadiri China International Supply Chain Expo (CISCE) di Beijing yang berlangsung pada 22-26 Juni 2026.
Anin berharap sinergi tersebut dapat terus diperkuat, termasuk melalui Trade Expo Indonesia yang akan digelar pada Oktober mendatang dengan target transaksi melampaui capaian tahun sebelumnya sebesar 20,8 miliar dolar AS.
Anin menambahkan, kemitraan strategis komprehensif Indonesia-Tiongkok yang telah dibangun kedua pemerintah perlu terus diwujudkan melalui kolaborasi nyata antara pemerintah, dunia usaha, dan para pemangku kepentingan.
“Saya melihat bahwa kemitraan strategis komprehensif Indonesia-Tiongkok yang sudah dibuat begitu baik oleh government to government memang mesti direalisasikan dengan event-event yang baik seperti hari ini. Tentu merupakan kehormatan Kadin bisa diajak menjadi bagian dari ini semua,” ujarnya.
Lebih jauh, Anin menilai tema forum tersebut sangat relevan dengan arah pengembangan kerja sama kedua negara, khususnya di bidang energi hijau, kesehatan, dan teknologi masa depan.
“Kalau kita lihat temanya (acara Indonesia-China Partnership Forum) tepat sekali, bahwa ini mengenai green energy, health, dan juga future technology. China (Tiongkok) benar-benar memimpin dalam ketiga bidang ini,” kata Anin.
Menurut Anin, Indonesia memiliki potensi besar untuk memperkuat kolaborasi dengan Tiongkok, baik melalui pengembangan mineral kritis seperti nikel, tembaga, dan bauksit maupun pemanfaatan energi baru terbarukan seperti tenaga air, panas bumi, surya, dan angin. Anin menilai dukungan teknologi dari Tiongkok akan menjadi faktor penting dalam mengoptimalkan potensi tersebut sekaligus mempercepat transisi menuju ekonomi hijau.
Selain itu, Anin menekankan pentingnya pengembangan sumber daya manusia sebagai fondasi kerja sama jangka panjang. Indonesia, kata Anin, memiliki bonus demografi yang harus dimanfaatkan untuk mewujudkan Indonesia Emas.
“Indonesia mempunyai sejumlah manusia yang jumlahnya 287 juta dan masih muda, 60 persen itu di bawah 40 tahun. Tapi dalam waktu 20 tahun kita mesti mencapai Indonesia Emas dan bonus demografi ini tidak akan terulang lagi. Jadi di sini kita juga butuh bekerja sama dan memastikan bahwa pertumbuhan ini tidak saja untuk dinikmati segelintir kelompok, tapi juga untuk kebaikan masyarakat Indonesia dan Tionghoa secara umum,” ujar Anin.
Sementara itu, Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok Djauhari Oratmangun mengatakan pemerintah terus mempromosikan berbagai peluang investasi kepada pelaku usaha Tiongkok. Hingga Juni 2026, investasi dari Tiongkok dan Hong Kong ke Indonesia telah melampaui 9 miliar dolar AS, setelah pada 2025 nilainya mencapai lebih dari 20 miliar dolar AS.
“Tentunya tadi kami menyampaikan paparan mengenai potensi untuk berinvestasi di Indonesia karena kita lihat bahwa potensi itu sangat kuat. Sampai bulan Juni saja investasi dari China dan Hong Kong ke Indonesia sudah lebih dari 9 miliar dolar AS. Tahun lalu China (Tiongkok) dan Hong Kong di atas 20 miliar dolar AS. Perdagangan juga luar biasa,” ujarnya.
Djauhari mengatakan forum ini secara khusus mengangkat dua sektor yang akan menentukan masa depan hubungan ekonomi Indonesia dan Tiongkok. Pada sektor energi hijau, ia menegaskan Indonesia terus mempercepat agenda transisi energi melalui pengembangan berbagai sektor strategis.
Menurutnya, langkah tersebut membuka ruang kolaborasi yang semakin luas dengan Tiongkok yang selama ini menjadi salah satu pemain utama dalam industri energi bersih dan manufaktur teknologi.
“Kami terus memperluas energi terbarukan, mengembangkan ekosistem kendaraan listrik, memperkuat industri baterai, mendorong efisiensi energi, dan membangun kawasan industri hijau,” katanya.
Selain energi hijau, Indonesia juga menempatkan penguasaan teknologi masa depan sebagai agenda strategis untuk memperkuat daya saing ekonomi nasional. Ia menilai perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan hingga otomasi industri akan menjadi penentu arah pertumbuhan ekonomi global dalam beberapa dekade mendatang.
“Masa depan ekonomi akan ditentukan oleh teknologi seperti artificial intelligence, smart manufacturing, digital industry, green technology, automation, dan inovasi berbasis riset. Indonesia ingin menjadi bagian aktif dari perubahan ini,” pungkasnya.
Hadir dalam acara tersebut Wakil Ketua Kadin Indonesia Komite Tiongkok (KIKT) Jona Widhagdo Putri, Deputi Bidang Pelayanan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM RI Andi Maulana, Staf Ahli Bidang Diplomasi Ekonomi Kementerian Luar Negeri RI Zelda Wulan Kartika dan Penasihat Menteri Urusan Ekonomi dan Perdagangan Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk Indonesia, Li Hongwei.