Jakarta – Kepala Badan Ekosistem Digital Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Firlie H. Ganinduto mengatakan ekonomi digital tidak lagi sekadar menjadi sektor yang perlu dibuktikan pentingnya, tetapi harus diarahkan menjadi mesin pertumbuhan baru yang mampu menciptakan produktivitas, investasi, lapangan kerja, dan nilai tambah bagi Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Firlie dalam Opening Ceremony Indonesia Technology & Innovation (INTI) 2026 bertajuk “The Nexus of: The Emerging Intelligent Era” yang digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta, 11-13 Agustus 2026.
“Ekonomi digital adalah masa depan. Menurut saya tantangan kita sekarang ini bukan lagi membuktikan bahwa ekonomi digital itu penting. Tantangannya adalah bagaimana kita menjadikan mesin pertumbuhan baru yang menciptakan produktivitas, investasi, lapangan kerja dan nilai tambah di Indonesia,” ujar Firlie.
Firlie menyebut terdapat tiga area yang perlu mendapat perhatian dan eksposur lebih besar, yakni data center, artificial intelligence (AI), serta pengembangan aset digital atau kripto.
“Ada tiga area yang menurut saya perlu mendapat perhatian dan exposure lebih besar. Yang pertama adalah data center, yang kedua adalah artificial intelligence, yang ketiga adalah pengembangan aset digital atau kripto,” katanya.
Firlie mengatakan pengembangan AI juga harus diarahkan pada pemanfaatan yang aplikatif dan mudah diakses pelaku usaha, termasuk UMKM. Menurutnya, AI tidak boleh hanya menjadi teknologi yang digunakan perusahaan besar.
“Yang kedua adalah artificial intelligence. Kita jangan melihat AI itu berhenti pada teknologi yang hanya digunakan oleh perusahaan besar. Kita perlu mendorong AI yang aplikatif dan mudah diakses oleh pelaku usaha,” ujarnya.
Dia mencontohkan pemanfaatan AI oleh UMKM untuk membaca pola permintaan, menyusun strategi promosi, mengelola persediaan, hingga meningkatkan pelayanan kepada pelanggan.
“Bayangkan UMKM menggunakan AI untuk membaca pola permintaan, menyusun promosi yang lebih tepat, mengelola inventory, atau memperbaiki layanan pelanggan. Ketika teknologi dapat membantu usaha kecil menjadi lebih efisien, menjual lebih baik dan mengambil keputusan dengan lebih cepat, di situlah AI mulai menghasilkan nilai ekonomi yang nyata,” jelasnya.
Karena itu, Firlie menekankan agar pengembangan AI tidak berhenti pada pembahasan teknologi, tetapi diarahkan pada penggunaan dalam kegiatan sehari-hari.
“Jadi bapak dan ibu, fokus kita pengembangan AI ini harus menuju pada aplikatif. Jadi bukan hanya kita bicara teknologi, tapi bagaimana AI itu bisa dipergunakan bagi kegiatan sehari-hari,” katanya.
Lebih lanjut, Firlie menilai pengembangan AI membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai karena teknologi tersebut membutuhkan kapasitas komputasi yang tinggi. Oleh karena itu, pengembangan data center menjadi salah satu aspek penting dalam membangun ekosistem AI di Indonesia.
“Makanya di dalam INTI ini kita juga akan membahas soal bagaimana data center itu harus dikembangkan terus untuk menunjang kemampuan AI di kemudian hari,” jelasnya.
Selain infrastruktur, Firlie menyebut pengembangan talenta digital menjadi tantangan penting lainnya. Menurutnya, Indonesia perlu memastikan talenta digital memiliki kemampuan untuk memanfaatkan AI secara optimal.
“Karena kemampuan AI ini cukup signifikan ketika dipergunakan dengan baik,” katanya.
Tantangan berikutnya, lanjut Firlie, adalah membangun sovereign AI atau AI yang tetap memperhatikan kedaulatan data dan teknologi Indonesia. Aspek keamanan serta kualitas data menjadi hal yang harus dijaga dalam pengembangan AI.
“Sovereign AI itu adalah bagaimana kita tetap menjaga kedaulatan AI. Di mana keamanan data juga harus dijaga. Tidak ada kebocoran-kebocoran dalam penggunaan data. Dan data yang kita gunakan itu adalah data yang benar-benar reliable,” ujarnya.
Selain itu, Firlie menekankan pentingnya penerapan ethical AI. Menurutnya, AI harus digunakan secara bertanggung jawab dan tidak dimanfaatkan untuk melakukan kejahatan.
“Ethical AI itu bagaimana AI itu digunakan secara etis. Jangan dipergunakan untuk suatu kejahatan. Karena teknologi itu, setiap teknologi itu ada dua mata pisau. Jadi bisa dipakai untuk kebermanfaatan, bisa dipakai juga untuk kejahatan,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI Boni Pudjianto yang hadir mewakili Menteri Komdigi RI Meutya Hafid mengatakan perkembangan AI saat ini telah memasuki tahap implementasi nyata dalam berbagai sektor.
Menurutnya, AI tidak lagi berada dalam tahap eksperimen, melainkan telah menjadi bagian dari proses produksi di industri, pelayanan publik, pendidikan, hingga transaksi elektronik.
“Kita telah masuk ke proses di perindustrian dengan proses produksinya, di pemerintahan layanan publik, masalah pendidikan, dan bahkan di transaksi elektronik,” ujar Boni.
Boni juga mengutip data Stanford yang menunjukkan tingginya tingkat adopsi AI oleh organisasi. Menurutnya, data tersebut memperlihatkan bahwa AI telah menjadi bagian dari proses bisnis yang berjalan.
“Sebagai catatan, di indeks dari Stanford tahun 2020 itu mencatat bahwa 88 persen organisasi sudah menggunakan AI dalam operasionalnya,” ujar Boni.
Lebih lanjut, Staf Ahli Menteri Bidang Percepatan Transformasi Industri 4.0 Kementerian Perindustrian RI Andi Rizaldi yang hadir mewakili Menteri Perindustrian RI Agus Gumiwang mengatakan pemerintah kini mendorong penguatan industri dan produksi teknologi dalam negeri melalui berbagai program, termasuk fasilitasi sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Kementerian Perindustrian RI kata Andi, menyediakan program sertifikasi TKDN secara gratis bagi pelaku usaha yang memenuhi kriteria tertentu.
“Kami di Kementerian Perindustrian juga menyediakan program TKDN gratis. Jadi, dengan kriteria tertentu, Bapak-Ibu yang memiliki kriteria itu juga bisa mengajukan produknya untuk mendapatkan sertifikasi TKDN secara gratis,” ujarnya.
Program tersebut, lanjutnya, menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat manufaktur dan mendorong semakin banyak produk teknologi serta inovasi yang dapat diproduksi oleh produsen lokal.
“Ini juga dalam rangka menunjang manufaktur atau dalam rangka menunjang produksi yang ke depan nanti, termasuk untuk penunjang teknologi dan inovasi ini bisa diproduksi oleh produsen-produsen lokal,” katanya.