KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

60% PDB Disumbang Swasta dan UMKM, Anidya Bakrie Ajak Pengusaha Dukung Pemerintah

Bandung – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie, menekankan pentingnya produktivitas pembangunan dan peran sentral sektor swasta dalam mendorong perekonomian nasional.

Hal tersebut disampaikan Anindya atau Anin sapaan akrabnya dalam acara Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional (Rakerkonas) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) ke-34 yang berlangsung di eL Royale Hotel, Bandung, Jawa Barat pada Selasa (05/08/2025).

“Saya lihat produktivitas pembangunan pekerjaan itu memang sangat dibutuhkan di Indonesia saat ini. Kadin sangat menyambut baik Apindo. Kadin ini didirikan berdasarkan Undang-Undang No. 1 tahun 1987, dengan dua tulang punggung (yaitu) Kadin Daerah serta asosiasi dan himpunan. Di sinilah Apindo menjadi garda terdepan asosiasi di bawah Kadin,” ujar Anin.

Anin memaparkan bahwa kontribusi sektor swasta dan UMKM tidak dapat diabaikan. Sebanyak 60% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia berasal dari sektor tersebut, disusul oleh 80% dari Gross Capital Formation dan 90% serapan tenaga kerja nasional.

“Penghasilan negara pun sebagian besar berasal dari sektor ini (swasta dan UMKM). Maka, sudah menjadi keharusan bagi kita untuk mendukung pemerintah. Karena kalau pemerintah maju, kita semua juga ikut maju,” lanjut Anin.

Di tengah perlambatan ekonomi global dan capaian pertumbuhan ekonomi kuartal pertama yang berada di angka 4,87%, Anin melihat kebijakan efisiensi pemerintah sebagai langkah awal untuk memperkuat pondasi ekonomi ke depan.

Meski demikian, Anin juga menyampaikan kabar menggembirakan dari dunia usaha.

Data OJK (Otoritas Jasa Keuangan) mencatat kenaikan laba sebesar 21,2% dari sekitar 800 perusahaan yang telah melantai di bursa. Selain itu, pertumbuhan kredit juga meningkat 7,7% di semester pertama 2025.

“Kita masih merasa ini belum cukup terasa. Tapi ini menunjukkan geliat optimisme. Kita perlu terus mengajukan ide-ide baru dan mendukung stimulus yang sudah mulai digulirkan,” ujar Anin.

Lebih lanjut, Anin menyoroti pentingnya kontribusi ekonomi daerah dalam mendongkrak pertumbuhan nasional. Anin menekankan dukungan terhadap program-program strategis Presiden Prabowo Subianto yang berbasis pada paradigma ‘memberikan kail, bukan ikan’.

Program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih kata Anin menjadi contoh inisiatif yang dinilai memiliki dampak jangka panjang, meski implementasinya tidak mudah.

“Membuat 30 ribu dapur (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi/SPPG) MBG dan 80 ribu koperasi (merah putih) bukan hal yang mudah. Tapi ini adalah investasi jangka panjang untuk generasi masa depan kita,” ujarnya.

Untuk itu, Anin mengajak seluruh elemen, termasuk Apindo dan Kadin Daerah, untuk ikut serta dalam menyukseskan program-program tersebut melalui sinergi dan kolaborasi.

Lebih lanjut, di sektor industri, Anin menyambut baik fokus pemerintah pada pertanian dan manufaktur sebagai penggerak utama pembangunan. Anin mendorong agar program hilirisasi tidak hanya terbatas pada sektor mineral, tapi juga mencakup sektor lainnya.

“Tinggal bagaimana kita mengawal supaya hilirisasi bukan saja di bidang yang selalu kita dengar yaitu nikel atau mineral kritis tapi hilirisasi di segala bidang,” tutur Anin.

Selanjutnya dalam konteks perdagangan internasional, Anin menyoroti potensi besar peningkatan ekspor ke pasar Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa.

Menurut Anin, meski saat ini Indonesia mengalami surplus perdagangan, ada peluang menggandakan nilai perdagangan dengan AS dari 40 miliar dolar AS menjadi 80 miliar dolar AS.

“Kalau kita bisa meningkatkan ekspor dari 28 menjadi 40 miliar dolar AS ke Amerika (Serikat), itu sudah prestasi. Tapi yang juga harus kita lihat adalah peluang di Uni Eropa yang nilai impornya bahkan lebih besar dari AS,” katanya.

Lebih jauh, Anin juga menilai ratifikasi perjanjian European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (EU-CEPA) sebagai momentum penting untuk memperluas pasar ekspor, termasuk komoditas sawit yang selama ini mendapat banyak penolakan.

“Nah disini ada salah satu inovasi yang sangat menarik adalah untuk palm oil atau kelapa sawit. Selama ini kelapa sawit yang selalu mendapat tentangan luar biasa. Kali ini akan diberikan suatu keleluasaan untuk melepas kepada European Union,” ungkap Anin.

Anin juga menegaskan pentingnya semangat gotong royong antara pelaku usaha, asosiasi, dan pemerintah daerah dalam kerangka Indonesia Incorporated menuju 2045.

“(Ini) suatu kesempatan untuk Kadin dan Apindo bersama-sama bekerja sama dengan pemerintah memberikan masukan-masukan agar regulasi-regulasinya ini kondusif. Semakin kondusif dan semakin kompetitif. Karena di dalam pemerintahan kali ini saya lihat dunia usaha banyak diberikan kesempatan,” tutur Anin

“Kami (Kadin) akan melakukan retret ke Magelang bukan untuk jadi tentara, tapi untuk memperkuat wawasan kebangsaan. Karena pengusaha pun harus memiliki patriotisme dan nasionalisme,” tandas Anin.

Kawasan Industri Jawa Barat Jadi Motor Pertumbuhan, Tantangan Ada di Kesejahteraan Tenaga Kerja

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto menegaskan pentingnya sektor industri di Jawa Barat dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Airlangga menyebut bahwa dengan berkembangnya kawasan industri hingga Subang dan didukung oleh infrastruktur strategis seperti Pelabuhan Patimban, kawasan ini semakin menggeliat.

Meski Purchasing Managers’ Index (PMI) industri sempat menurun, Airlangga menilai sektor industri menunjukkan tanda-tanda kebangkitan.

“Kebutuhan tenaga kerja di sektor manufaktur tentu berbeda dengan garmen, baik dari tingkat keahlian maupun spesialisasi. Ini menjadi tantangan ke depan,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengakui provinsinya saat ini menempati peringkat pertama dalam capaian investasi nasional, yakni sebesar Rp72,5 triliun.

Namun ia menekankan masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

“Walaupun Jawa Barat hari ini ranking pertama dalam investasi, saya belum puas. Ada problem fiskal, sosial, dan politik yang harus segera diselesaikan. Karena itu, gubernur harus bisa mengorkestrasikan kepentingan investasi dari tingkat RT sampai Menteri,” tegasnya.

Lebih lanjut, Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani mengajak seluruh pelaku usaha untuk membangun semangat kolektif menghadapi tantangan ekonomi, seraya menegaskan pentingnya aksi nyata pasca-Rakerkonas.

“Yang paling penting dari Rakerkonas ini bukan hanya rekomendasi kebijakan, tapi kita harus keluar dari sini dengan semangat perjuangan seperti Bandung Lautan Api. Itu sebabnya kita pilih Bandung sebagai lokasi (diselenggarakannya Rakerkonas),” pungkas Shinta.

Anindya Bakrie Bertemu Dubes Brasil, Dorong Kerja Sama Strategis dari Transisi Energi hingga Agrikultur
Anindya Bakrie Terima Dubes Slovakia, Bahas Potensi Kerja Sama Teknologi, Energi, hingga Pangan
Kadin Bidik Perdagangan RI-India Meningkat Hingga 50 Miliar Dolar AS

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry