Jakarta – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie, menegaskan pentingnya sinergi antara dunia usaha dan lembaga strategis negara untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional.
Hal ini disampaikan saat menghadiri Seminar Nasional P3N XXV Tahun 2025 Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI dengan mengangkat tema “Arah Danantara Indonesia ke Depan untuk Kemandirian Ekonomi: Sovereign Fund atau Agent of Development” di Jakarta Pusat, Senin (11/08/2025).
Usai acara, Anindya atau Anin sapaan akrabnya menekankan bahwa ketahanan ekonomi merupakan bagian integral dari ketahanan nasional, dan Kadin siap berperan aktif sebagai mitra strategis pemerintah.
“Kadin percaya tanggung jawab kita adalah membantu ketahanan ekonomi sebagai bagian dari ketahanan nasional. Kita ingin menjadi pejuang pengusaha sekaligus menambah wawasan kebangsaan, nasionalisme, dan patriotisme,” ujar Anin.
Anin memandang Lemhannas RI memiliki sumber daya dan pengalaman luar biasa yang perlu digabungkan dengan kekuatan jaringan Kadin yang tersebar hingga tingkat kabupaten/kota.
Kolaborasi ini menurut Anin, akan memperkuat substansi kebijakan sekaligus fokus pada implementasi di lapangan.
Anin mencontohkan sejumlah program pemerintah yang dapat dikawal bersama (Lemhannas RI), seperti pembangunan 30.000 dapur (SPPG/Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) Makan Bergizi Gratis (MBG), pembentukan 80.000 koperasi Desa Merah Putih, hingga penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk penyediaan rumah murah layak huni.
Lebih lanjut, Anin juga menyinggung arahan Presiden Prabowo Subianto terkait konsep Indonesia Incorporated, yakni bergotong royong untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Salah satu implementasinya adalah Danantara (Daya Anagata Nusantara), yang tidak hanya berorientasi pada laba, tetapi juga menjadi agent of change dengan melibatkan pelaku usaha skala kecil dan menengah.
“Salah satu pengejawantahannya (perwujudan) ialah Danantara. Danantara ini fokusnya bukan hanya untuk menghasilkan laba lebih besar, tapi menjadi agent of change dengan melibatkan banyak pengusaha-pengusaha yang belum mulai, atau masih kecil. Nah di Kadin ini kan punya semuanya dalam undang-undang,” terang Anin.
Menanggapi keraguan sebagian pihak terhadap data pertumbuhan ekonomi kuartal II 2025 sebesar 5,12% yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), Anin mengajak semua pihak untuk bersikap objektif.
“Kalau data sudah diragukan, kita hanya membuang-buang waktu. Lebih baik memanfaatkannya untuk mengambil peluang,” tegas Anin.
Menurut Anin, dua indikator positif dalam data tersebut adalah meningkatnya investasi modal (capital formation) yang menunjukkan pembangunan pabrik baru, serta kenaikan impor bahan baku.
Anin juga menilai hal ini merupakan momentum untuk meningkatkan kapasitas produksi, khususnya di industri padat karya seperti tekstil, garmen, dan alas kaki, yang menyerap hingga lima juta tenaga kerja.
“Begitu pasar makin terbuka, jangan sampai kita tidak memanfaatkannya. Justru kita harus memaksimalkan peluang itu,” tandas Anin.
Dalam kesempatan tersebut, turut hadir mendampingi Anin yaitu Wakil Ketua Umum Bidang Perencanaan Nasional Kadin Indonesia Bayu Priawan Djokosoetono dan Ketua Umum Kadin Provinsi Sumatera Barat Buchari Bachter.