Jakarta – Wakil Ketua Umum (WKU) Bidang Hubungan Luar Negeri Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bernardino M. Vega mendorong penguatan kemitraan ekonomi Indonesia dan Swedia melalui peningkatan kerja sama perdagangan, investasi, teknologi, serta pembangunan berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan Bernardino atau yang akrab disapa Dino Vega dalam acara Sweden-Indonesia Sustainability Partnership (SISP) 2026 Business Dinner yang berlangsung di Park Hyatt Hotel, Jakarta Pusat, Selasa (8/9/2026) malam.
Dino Vega mengatakan, hubungan Indonesia dan Swedia telah memiliki fondasi yang kuat, baik secara diplomatik maupun ekonomi. Kedua negara telah menjalin hubungan diplomatik sejak 1950 dan selama lebih dari tujuh dekade hubungan tersebut berkembang ke berbagai sektor, mulai dari energi, kendaraan listrik, keberlanjutan, pertambangan, kesehatan, hingga kehutanan.
“Hubungan kita memiliki kedalaman, bukan sekadar seremonial. Fondasi hubungan ekonomi kita semakin kuat, dan masih ada ruang yang besar untuk berkembang. Tantangannya adalah bagaimana kita meningkatkan kemitraan tersebut,” ujar Dino Vega.
Dino Vega menambahkan, saat ini terdapat sekitar 80 perusahaan Swedia yang beroperasi di Indonesia. Kehadiran perusahaan-perusahaan tersebut juga telah membangun ekosistem bisnis dengan mitra Indonesia, termasuk distributor, pemasok, dan penyedia jasa.
Sementara itu, nilai perdagangan bilateral Indonesia-Swedia tercatat sekitar 825 juta dolar AS. Angka tersebut masih relatif kecil dibandingkan total perdagangan barang Indonesia dengan Uni Eropa yang mencapai sekitar 27 miliar dolar AS.
“Artinya, kehadiran Swedia di Indonesia sudah cukup dalam, tetapi volumenya masih memiliki ruang yang sangat besar untuk tumbuh,” katanya.
Dino Vega menilai prospek tersebut semakin terbuka seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,11% pada 2025 dan diproyeksikan berada di kisaran 5,2% pada 2026. Dengan populasi sekitar 283 juta jiwa dan posisi sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia dinilai memiliki pasar yang besar dan relatif muda.
“Terlepas dari pandangan masing-masing mengenai kecepatan pertumbuhan tersebut, arah pembentukan modal di Indonesia jelas meningkat dan dilakukan secara terencana,” ujar Dino Vega.
Lebih lanjut, Dino Vega menyebut terdapat dua peluang strategis yang dapat semakin memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dan Swedia. Salah satunya adalah Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).
Menurut dia, IEU-CEPA akan menjadi perubahan struktural penting bagi pasar Indonesia-Eropa. Perjanjian tersebut mencakup penghapusan sekitar 98,5% tarif Indonesia terhadap barang-barang dari Uni Eropa, pembukaan akses jasa di bidang komputer dan telekomunikasi, penyederhanaan prosedur kepabeanan, serta penguatan perlindungan hak kekayaan intelektual.
“Ini merupakan perubahan struktural terbesar di pasar dalam satu dekade terakhir dan implementasinya semakin dekat,” katanya.
Dino Vega menegaskan, survei menunjukkan 66% perusahaan Swedia di Indonesia memperkirakan CEPA akan meningkatkan prospek bisnis mereka. Sementara itu, 54% perusahaan berharap adanya penurunan bea masuk untuk bahan baku dan produk jadi dari Uni Eropa.
Peluang strategis kedua adalah proses aksesi Indonesia menuju Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Dino Vega mengatakan Swedia memiliki pengalaman dan keahlian yang dapat membantu Indonesia dalam memenuhi berbagai standar OECD.
Indonesia merupakan negara Asia Tenggara pertama yang mengajukan keanggotaan OECD. Proses teknis komprehensif telah dimulai pada Juli 2026, dengan 26 komite teknis melakukan penilaian terhadap Indonesia berdasarkan standar OECD di berbagai bidang kebijakan publik, termasuk perdagangan, investasi, tata kelola, persaingan usaha, serta integritas.
“Kadin memandang aksesi OECD sebagai sebuah proyek bisnis, bukan hanya proyek diplomatik,” ujar Dino Vega.
Ia menambahkan, Kadin Indonesia bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI telah meluncurkan OECD Private Sector Playbook pada April 2026 sebagai panduan bagi sektor swasta dalam mendukung proses aksesi Indonesia.
Dalam konteks tersebut, Dino Vega mengajak perusahaan, organisasi bisnis, dan regulator Swedia untuk membangun kerja sama dengan Kadin Indonesia, khususnya melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman dalam regulatory impact assessment, kebijakan persaingan usaha, integritas, serta kepatuhan antikorupsi.
“Swedia mengetahui apa yang diperlukan untuk memenuhi standar OECD karena Swedia turut berkontribusi dalam pembentukan standar tersebut. Kami mengundang dunia usaha, organisasi bisnis, dan regulator Swedia untuk bekerja sama dengan Kadin melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman yang terstruktur,” katanya.
Menurut Dino Vega, dukungan Swedia terhadap proses aksesi OECD juga pada akhirnya akan menciptakan lingkungan bisnis yang lebih mudah bagi perusahaan Swedia untuk beroperasi di Indonesia.
Dino Vega juga menekankan pentingnya mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi dengan prinsip keberlanjutan. Menurutnya, daya saing Indonesia ke depan akan semakin ditentukan oleh kemampuan dunia usaha dalam memenuhi standar lingkungan global.
Di sektor energi, misalnya, Kadin Indonesia bersama BloombergNEF telah memperkirakan kebutuhan investasi sekitar 3,5 triliun dolar AS untuk mencapai target net zero Indonesia pada 2050.
Sementara bagi eksportir Indonesia ke Eropa, kemampuan mengurangi intensitas karbon akan semakin penting untuk mempertahankan akses pasar. Dalam hal ini, teknologi Swedia dinilai dapat membantu perusahaan Indonesia tidak hanya memenuhi standar kepatuhan, tetapi juga meningkatkan daya saing.
“Teknologi Swedia tidak hanya dapat membantu memenuhi standar kepatuhan, tetapi juga menjaga daya saing perusahaan dan memastikan akses pasar tetap terbuka,” ujar Dino Vega.
Kerja sama juga dinilai terbuka di sektor kendaraan listrik, pertambangan, kesehatan, pangan, dan kehutanan. Pengembangan ekosistem kendaraan listrik dan rantai pasok mineral berkelanjutan menjadi salah satu bidang yang dapat mempertemukan keunggulan sumber daya Indonesia dengan teknologi dan standar Eropa.
Di sektor kesehatan, Indonesia memiliki agenda transformasi, termasuk target melakukan sequencing terhadap 400.000 genom (gen dan kromosom) hingga 2030. Sementara program Makan Bergizi Gratis membuka peluang pengembangan rantai dingin, pengemasan, dan berbagai industri pendukung dalam skala besar. Adapun di sektor kehutanan, Bernardino menyambut baik inisiatif kerja sama yang mempertemukan kekayaan sumber daya alam Indonesia dengan pengalaman Swedia dalam pengelolaan kehutanan berkelanjutan.
Dino Vega menegaskan bahwa Indonesia dan Swedia memiliki keunggulan yang saling melengkapi. Indonesia memiliki skala pasar, sumber daya, demografi, dan ekonomi yang terus berkembang, sementara Swedia memiliki standar, teknologi, dan kredibilitas kelembagaan.
“Tidak satu pun dari kita akan memperoleh hasil maksimal jika berjalan sendiri. Kita harus melakukannya bersama dan melalui kolaborasi,” ujarnya.
Hadir dalam acara tersebut (WKU) Koordinator Bidang Hukum dan HAM, Sarana/Prasarana Kadin Indonesia M. Azis Syamsuddin, WKU Bidang Pertanian Kadin Indonesia Devi Erna Rachmawati, WKU Bidang Pengembangan Infrastruktur Strategis dan Pembangunan Pedesaan serta Transmigrasi Kadin Indonesia Thomas Djusman serta WKU Bidang Riset dan Teknologi Kadin Indonesia Ilham Akbar Habibie.