Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menggelar Kadin Monthly Economic Diplomatic Breakfast bertajuk “Beyond Uncertainty: Building Indonesia’s Next Economy” di Graha Sawala, Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Jakarta Pusat, Jumat (10/7/2026). Forum ini dihadiri jajaran Duta Besar (Dubes) negara sahabat di antaranya Argentina, Iran, Italia, Tunisia, Banglades, Libya, Pakistan, Uruguai dan Vietnam.
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengatakan, di tengah derasnya arus informasi dan berbagai dinamika global, dibutuhkan ruang dialog yang terbuka, praktis, dan dapat dipercaya untuk memperkuat pemahaman bersama mengenai arah perekonomian Indonesia. Menurut Anin sapaan akrabnya, pertemuan rutin yang digelar Kadin Indonesia telah berkembang menjadi platform penting untuk membangun komunikasi yang konstruktif dengan komunitas diplomatik di Indonesia.
“Ekonomi dunia saat ini semakin saling terhubung, tetapi pada saat yang sama juga semakin rentan terhadap berbagai gejolak. Rantai pasok, arus investasi, kebijakan industri, teknologi, ketahanan energi, ketahanan pangan, hingga geopolitik kini bergerak secara bersamaan,” ujar Anin.
Anin menegaskan, kondisi tersebut menjadikan diplomasi ekonomi tidak lagi dapat dipisahkan dari dunia usaha. Hubungan antar-pemerintah harus didukung dengan implementasi konkret melalui kerja sama antar-pelaku usaha sehingga berbagai kesepakatan strategis dapat diwujudkan menjadi perdagangan, investasi, dan penciptaan lapangan kerja.
“Kadin Indonesia siap menjadi jembatan antara pemerintah, dunia usaha, Kadin daerah, dan para mitra internasional untuk memastikan berbagai kerja sama ekonomi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Anin.
Anin juga menyampaikan bahwa Kadin Indonesia terus aktif mendukung agenda diplomasi ekonomi nasional. Salah satunya melalui pendampingan proses aksesi Indonesia menjadi anggota Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) sejak 2023. Anin menyebut, dalam waktu dekat Indonesia akan memasuki tahapan teknis aksesi OECD melalui kunjungan fact-finding mission. Karena itu, forum seperti Kadin Monthly Economic Diplomatic Breakfast menjadi momentum penting untuk menyampaikan berbagai perkembangan positif Indonesia kepada komunitas internasional.
Selain OECD, Anin juga menyoroti sejumlah agenda diplomasi ekonomi yang dijalankan Kadin Indonesia selama satu bulan terakhir, mulai dari Indonesia-Germany Economic Dialogue bersama Presiden Republik Jerman H.E. Frank-Walter Steinmeier, partisipasi pada APEC China CEO Forum 2026, China-ASEAN Supply Chain Cooperation Forum, hingga kerja sama akademik dengan Tsinghua University dan jaringan Russell Group dari Inggris.
Berbagai aktivitas tersebut kata Anin, menunjukkan komitmen Kadin Indonesia dalam memperluas jejaring perdagangan, investasi, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia.
“Kadin merupakan mitra strategis pemerintah sesuai amanat undang-undang. Di tengah banyaknya informasi dan berbagai distorsi yang berkembang, forum seperti ini menjadi penting untuk menghadirkan fakta dan menunjukkan bahwa Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang kuat serta berada di jalur yang tepat,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian RI memastikan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi, inflasi, neraca perdagangan hingga sektor perbankan dinilai masih berada dalam kondisi yang terjaga.
Menko Airlangga mengatakan ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh sekitar 5,1%. Sementara itu, neraca perdagangan secara kumulatif tahun berjalan tetap mencatatkan surplus meski sempat mengalami defisit pada satu bulan terakhir.
“Kalau kita lihat pertumbuhan ekonomi kemarin masih baik di sekitar 5,1%. Kemudian kalau kita lihat neraca perdagangan year to date juga masih positif,” kata Menko Airlangga.
Menurutnya, defisit perdagangan bulanan dipengaruhi lonjakan harga impor bahan bakar minyak (BBM). Di sisi lain, ekspor komoditas utama seperti kelapa sawit, batu bara, dan feronikel masih relatif stabil sehingga pemerintah optimistis kinerja perdagangan tetap terjaga.
“Dari sisi stabilitas harga, inflasi juga masih berada dalam kisaran sasaran pemerintah sebesar 2,5% plus minus 1%. Pemerintah juga menyiapkan sejumlah insentif untuk menjaga daya saing industri nasional,” sambung Menko Airlangga.
Menurutnya salah satu kebijakan yang disiapkan adalah pembebasan bea masuk impor bahan baku plastik bagi industri kimia. Selain itu, pemerintah juga akan memberikan tarif bea masuk nol untuk impor LPG sebagai bahan baku industri petrokimia selama enam bulan.
Airlangga mengatakan program pemerintah seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan kredit perumahan terus disalurkan dengan realisasi yang cukup baik. Kondisi sektor perbankan juga tetap kuat, tercermin dari pertumbuhan dana pihak ketiga yang mencapai dua digit serta penyaluran kredit yang meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya.
“Baik World Bank, IMF, maupun OECD masih memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5%. Jadi relatif semua menilai perekonomian kita relatif aman dan solid,” terang Menko Airlangga.
Lebih lanjut, Wakil Ketua Umum Koordinator (WKUK) Bidang Luar Negeri Kadin Indonesia James T. Riady menilai perkembangan sektor kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) akan menjadi salah satu penggerak utama ekonomi Indonesia pada masa mendatang.
James mengungkapkan bahwa Indonesia tengah bersiap menjadi pusat pengembangan ekosistem AI melalui pembangunan berbagai infrastruktur digital, termasuk landing point jaringan internasional di Batam dan Bitung serta pengembangan pusat data (data center) dan computing center berkapasitas besar.
“Ke depan AI akan menjadi center stage bagi Indonesia. Akan ada investasi puluhan miliar dolar Amerika Serikat untuk membangun computing center dengan teknologi GPU (Graphics Processing Unit) paling mutakhir. Ini merupakan perkembangan yang sangat luar biasa,” kata James.
James berharap informasi mengenai berbagai investasi strategis tersebut dapat semakin dipahami oleh dunia usaha dan komunitas internasional sehingga memperkuat optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia.
“Indonesia merupakan salah satu dari tiga kekuatan utama di kawasan Pasifik pada abad berikutnya bersama Amerika Serikat dan China (Tiongkok). Karena itu, peluang ekonomi Indonesia sangat besar,” pungkas James.
Hadir dalam acara tersebut jajaran pengurus Kadin Indonesia di antaranya WKUK Bidang Hukum dan HAM, Sarana/Prasarana M. Azis Syamsuddin, WKUK Bidang Pengembangan Ekspor Juan Permata Adoe, Wakil Ketua Umum (WKU) Bidang Perdagangan dan Perjanjian Luar Negeri Pahala Mansury, WKU Bidang Hubungan Luar Negeri Bernardino M. Vega, WKU Bidang Diplomasi Multilateral Andi Anzhar Cakra Wijaya, WKU Bidang Pengembangan Infrastruktur Strategis dan Pembangunan Pedesaan Serta Transmigrasi Thomas Djusman dan WKU Bidang Pemasaran, Promosi, Inovasi dan Pengembangan Produk UMKM Rifda Ammarina.
Hadir pula Ketua Umum (Ketum) Kadin Provinsi Aceh Muhammad Iqbal Piyeung, Ketum Kadin Provinsi Sumatra Barat Buchari Bachter, Ketum Kadin Provinsi DKI Jakarta Diana Dewi dan Ketum Kadin Provinsi Nusa Tenggara Barat, Faurani.