Jakarta – Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pengembangan Ekspor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Juan Permata Adoe, menegaskan pentingnya momentum Trade Expo Indonesia (TEI) ke-40 untuk mendorong perluasan pasar ekspor nasional.
Hal tersebut dikatakan Juan saat memberi sambutan dalam acara Luncheon Reception Trade Expo Indonesia, di Hotel Four Seasons Jakarta, Rabu (27/08/2025).
Menurut Juan, TEI telah menjadi pameran business-to-business (B2B) terbesar di Indonesia yang menghadirkan para profesional industri, menampilkan produk inovatif, serta membuka peluang jejaring bisnis bagi peserta.
“Kadin Indonesia bersama Kementerian Perdagangan terus mendorong sektor swasta untuk meningkatkan daya saing produk ekspor dan memperluas pasar internasional,” imbuhnya.
Juan menjelaskan, kinerja ekspor Indonesia terus menunjukkan tren positif.
Data Badan Pusat Statistik mencatat, ekspor pada Mei 2025 mencapai 24,61 miliar dolar AS dan Juni sebesar 23,44 miliar dolar AS.
Secara akumulatif, Januari-Mei ekspor menembus 111,98 miliar dolar AS atau tumbuh hampir 7 persen dibanding periode sama tahun lalu.
“Semester pertama 2025, ekspor diperkirakan mencapai 135,41 miliar dolar AS, mencerminkan permintaan yang tetap kuat dan aktivitas industri yang stabil,” ujarnya.
Meski demikian lanjut Juan, potensi ekspor Indonesia masih jauh lebih besar. Berdasarkan perhitungan International Trade Centre, total potensi ekspor Indonesia mencapai 302 miliar dolar AS, di mana sekitar 145 miliar dolar AS masih belum tergarap.
“Artinya, peluang masih terbuka lebar, mulai dari produk turunan kelapa sawit berkelanjutan, komponen otomotif, peralatan listrik, hingga produk gaya hidup. Trade Expo adalah tempat yang tepat untuk mengonversi potensi itu menjadi kontrak nyata,” jelas Juan.
Lebih lanjut, Juan menekankan bahwa ekosistem ekspor Indonesia kini semakin sederhana dan terintegrasi. Melalui direktori InaExport, pembeli dapat mengakses informasi eksportir, sementara perizinan ekspor dapat dilakukan secara daring lewat INATRADE yang terhubung dengan Indonesia National Single Window dan Online Single Submission Risk Based Approach berbasis risiko.
Sertifikat asal barang kata Juan juga dapat diterbitkan secara elektronik melalui e-SKA (Surat Keterangan Asal), sehingga mempercepat proses. Selain itu, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia turut memberikan fasilitas pembiayaan dan penjaminan.
Lebih lanjut dari sisi kebijakan, Juan menyebut National Logistics Ecosystem serta Peraturan Pemerintah No. 28/2025 menjadi landasan untuk memperjelas kategori risiko, menetapkan standar pelayanan, dan memperkuat pengawasan.
“Indonesia juga semakin luas aksesnya ke pasar global. Kita sudah menjadi bagian dari RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership), Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) Indonesia-Korea, dan CEPA Indonesia-UEA. Bahkan, kesepakatan politik juga sudah dicapai untuk CEPA Indonesia-Uni Eropa,” tutur Juan.
Juan menegaskan, seluruh langkah tersebut diarahkan untuk menyelaraskan kapasitas Indonesia dengan permintaan global.
“Kami minta pembeli jangan pulang dari TEI tanpa rencana pembelian konkret. Untuk eksportir, manfaatkan momentum ini untuk naik kelas dengan diversifikasi produk dan pasar. Sedangkan bagi investor, Indonesia adalah basis produksi dan hub pasokan yang terhubung ke Asia dan dunia,” tutur Juan.
“Kisah ekspor Indonesia tahun 2025 bukan lagi soal ambisi, melainkan tentang kemajuan yang bisa kita ukur. Trade Expo Indonesia adalah tempat di mana kemajuan itu berubah menjadi peluang,” tandas Juan.
Turut hadir dalam acara tersebut Wakil Ketua Umum Bidang Sistem Integrasi Ekspor Kadin Indonesia Saifudin Hisbullah, Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kemeterian Perdagangan RI Fajarini Puntodewi, Plt. Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri RI Heru H. Subolo, serta Director of Debindo Vibiadhi Swasti Pradana.