Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Manggarai Barat menggelar rapat bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan yang berlangsung di Hotel Meurorah, Labuan Bajo, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada Senin (02/06/2025)
Rapat tersebut digelar dalam upaya memperkuat rantai pasok logistik di kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Labuan Bajo Kabupaten Manggarai Barat.
Salah satu pokok bahasan utama adalah pembentukan forum logistik bersama, sebagai wadah kolaboratif antara pemerintah dan pelaku usaha dalam memperkuat sistem distribusi logistik ke wilayah timur Indonesia.
Ketua Kadin Kabupaten Manggarai Barat, Charles Angliwarman menyoroti pentingnya peran logistik lokal dalam mendukung kemandirian pasokan, terutama di sektor pariwisata yang tengah berkembang pesat di Labuan Bajo.
“Kadin (Kabupaten) Mabar (Manggarai Barat) dan ALFI (Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia) NTT punya program Logistic Tourism dalam skema logistik. Ada dua skema (yaitu) logistik dari dalam daerah, dan logistik dari luar. Kalau dari dalam, ini untuk kebutuhan dasar. Tapi kenyataannya, hampir 85 persen logistik, bahkan beras untuk kebutuhan pariwisata seperti hotel, restoran, dan kapal, masih berasal dari luar,” kata Charles.
Charles menekankan perlunya solusi konkret agar kebutuhan pangan dapat dipenuhi oleh produksi lokal, sekaligus memperkuat posisi petani dan pelaku UMKM di wilayah tersebut.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kadin Kabupaten Manggarai Barat Bidang Investasi dan Rantai Pasok Albertus Elson, turut menyampaikan keberhasilan program Kadin Pertanian Hub dalam membangun rantai pasok dari hulu ke hilir.
Elson mengungkapkan bahwa wilayah Lembor telah berhasil memproduksi beras lokal dengan merek Molas Lembor dan Beras Labuan Bajo yang kini mulai digunakan di sektor perhotelan.
“Ke depan, saya juga terpanggil untuk membangun 1.000 unit rumah subsidi di Manggarai Barat. Saat ini sedang dalam proses perizinan dan pembangunan,” ujar Elson.
Lebih lanjut, salah satu perwakilan dari Perpadi NTT Margon, mengungkapkan bahwa pihaknya telah memiliki nota kesepahaman dengan Bulog. Namun, tantangan besar saat ini adalah ketersediaan beras yang melimpah namun tidak terserap oleh pasar.
“Gudang Bulog sudah penuh. Kami tidak tahu harus menjual ke mana. Kami tidak ingin hanya jadi penonton dalam geliat pariwisata. Kami minta perhatian pemerintah,” tandas Margon.
Rapat ini menjadi momentum penting untuk menyatukan langkah pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam memperkuat kemandirian pangan dan logistik di wilayah destinasi wisata premium seperti Labuan Bajo.