KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

Riset yang Diadopsi Industri Masih Minim, Kadin Jatim: Dibutuhkan Pendekatan Demand-Driven Research

Surabaya – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Jawa Timur (Jatim) Adik Dwi Putranto, menegaskan bahwa adopsi riset oleh industri dinilai sangat minim, padahal untuk mendorong transformasi ekonomi di Jatim membutuhkan sinergi yang kuat antara dunia riset dan industri.

Hal ini disampaikan Adik dalam acara Dialog Strategis Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) Week Universitas Airlangga bertajuk “Dari Riset ke Dampak: Sinergi Inovasi dan Industri untuk Transformasi Jawa Timur” di Kampus Universitas Airlangga Surabaya pada Selasa (14/04/2026).

Adik mengungkapkan bahwa secara makro, posisi Jatim dalam perekonomian nasional tergolong sangat strategis. Pada 2025, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi Jatim mencapai sekitar Rp3.403 triliun dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,33 persen. Jatim juga menjadi salah satu kontributor utama terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Dari sisi struktur ekonomi, lanjut Adik, sektor industri pengolahan menyumbang sekitar 31 persen, sementara konsumsi rumah tangga mendominasi hingga 60 persen. Selain itu, sektor transportasi dan logistik menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi, yakni di atas 9 persen, menandakan semakin kuatnya peran Jatim sebagai pusat distribusi. 

“Peran strategis Jawa Timur semakin terlihat sebagai hub manufaktur dan logistik di kawasan Indonesia Timur, sekaligus menjadi basis utama ekspor nasional. Dengan fondasi tersebut, Jawa Timur dinilai telah memiliki kekuatan skala ekonomi yang solid,” kata Adik.

Namun Adik mengungkapkan bahwa ada tantangan yang belum terselesaikan, yaitu meningkatkan kelas ekonomi melalui inovasi yang berdampak pada terciptanya efisiensi di berbagai sektor. Padahal peningkatan efisiensi sebesar 1 persen saja diperkirakan mampu memberikan dampak ekonomi hingga puluhan triliun rupiah.

“Masih terdapat persoalan mendasar yang menghambat optimalisasi potensi tersebut, yakni kesenjangan antara riset dan industri. Meskipun kapasitas riset terus meningkat, banyak hasil riset yang berhenti pada tahap publikasi dan belum diimplementasikan secara luas. Keterlibatan riset dalam proses industri juga masih minim, sehingga adopsi hasil penelitian menjadi rendah,” ujar Adik.

Selain itu kata Adik, belum adanya mekanisme hilirisasi yang kuat membuat hasil riset sulit diterjemahkan menjadi produk atau solusi yang bernilai ekonomi. Kondisi ini menyebabkan ketimpangan, di mana Indonesia, termasuk Jatim, kuat dalam menghasilkan output riset, namun lemah dalam menciptakan dampak ekonomi nyata.

“Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi yang lebih erat antara akademisi, peneliti, pelaku industri, dan pemerintah agar inovasi yang dihasilkan benar-benar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Adik.

Adik menegaskan, transformasi riset di Jatim harus mulai diarahkan pada perubahan paradigma yang lebih relevan dengan kebutuhan industri. Pendekatan lama yang bersifat supply-driven, di mana akademisi menentukan topik riset, dinilai sudah tidak lagi memadai untuk menjawab tantangan ekonomi saat ini. 

“Diperlukan pergeseran menuju pendekatan demand-driven research, yakni riset yang berbasis pada kebutuhan nyata industri,” kata Adik.

Dalam paradigma baru ini, lanjut Adik, pelaku industri memiliki peran lebih besar dalam menentukan arah dan kebutuhan riset. Sementara itu, Kadin mengambil posisi strategis sebagai agregator kebutuhan industri sekaligus jembatan penghubung antara dunia kampus dan sektor industri. 

“Kadin juga berperan sebagai fasilitator dalam proses implementasi hasil riset agar dapat diadopsi secara nyata,” terang Adik.

Sejalan dengan perubahan tersebut kata Adik, disusun agenda riset strategis yang berfokus pada tujuh prioritas utama. Pertama, inovasi produk untuk meningkatkan nilai tambah industri pengolahan. Kedua, inovasi proses produksi guna mendorong efisiensi dan produktivitas. Ketiga, inovasi pemasaran yang menekankan pada penguatan digitalisasi dan penetrasi pasar global.

Keempat, pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) lanjut Adik, menjadi pilar penting dalam pengambilan keputusan berbasis data. Kelima, aspek keberlanjutan dan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) juga menjadi perhatian utama sebagai syarat untuk mengakses pasar global. Keenam, penguatan tata kelola dan regulasi diharapkan mampu menjadi enabler pertumbuhan ekonomi. Terakhir, pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan kompetensi difokuskan pada upaya link and match antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri.

Adik menambahkan, untuk memastikan agenda tersebut berjalan efektif, disusun kerangka implementasi yang konkret. Langkah pertama adalah pembentukan Industrial Problem Bank, yaitu basis data yang memuat kebutuhan dan permasalahan industri secara terstruktur. Kedua, pembentukan Joint Research Task Force yang melibatkan kolaborasi antara Kadin, perguruan tinggi seperti Universitas Airlangga (Unair), serta lembaga riset seperti Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Langkah ketiga lanjut Adik adalah pelaksanaan proyek percontohan hilirisasi riset, yang mencakup komersialisasi hasil penelitian, program inkubasi, serta adopsi oleh industri. Proses ini juga didukung oleh pendanaan hibah riset terapan dari pemerintah, sehingga hasil riset tidak berhenti pada tataran akademis, melainkan mampu memberikan dampak ekonomi nyata.

“Dengan pendekatan ini, Kadin berharap tercipta ekosistem inovasi yang lebih terintegrasi, di mana riset tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga solusi konkret yang mampu mendorong pertumbuhan industri dan daya saing ekonomi Jawa Timur,” pungkas Adik.

Kadin Lampung Optimistis Ekonomi Daerah Tumbuh Lewat Transformasi Kepemimpinan Kewirausahaan
Riset yang Diadopsi Industri Masih Minim, Kadin Jatim: Dibutuhkan Pendekatan Demand-Driven Research
Muprov VIII Kadin Papua, Anindya Bakrie Soroti Potensi SDA Papua dalam Pengembangan Energi Baru Terbarukan

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry