Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Pertanian mendorong adopsi teknologi biochar sebagai solusi mengatasi krisis degradasi lahan pertanian Indonesia.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pertanian Kadin Indonesia Devi Erna Rachmawati mengatakan penerapan biochar menjadi salah satu upaya untuk memperbaiki lahan pertanian yang rusak, sehingga diperlukan teknologi pembenah tanah untuk menjadikan lahan pertanian berkelanjutan.
“Jadi saat ini teknologi biochar ini sangat-sangat dibutuhkan Indonesia, karena lahan kita seperti kita tahu sudah banyak yang tidak sehat, lebih dari 60% lahan kita di Indonesia ini sudah mengalami penurunan kualitas, sehingga kita butuh sekali teknologi biochar ini, dimana bahan baku biochar di Indonesia juga sangat melimpah,” kata Devi di sela-sela Forum Group Discussion (FGD) bertema “Biochar untuk Pembenah Tanah: Inovasi Berkelanjutan dalam Membangun Pertanian Masa Depan” yang diselenggarakan di Menara Kadin Indonesia, Jakarta, Kamis (28/8/2025).
Tiga pokok utama dibahas dalam FGD itu, pertama peran biochar sebagai teknologi pertanian masa depan, kedua mengenai penerapan soil treatment berbasis mikroba dan humus, serta ketiga yaitu implementasi dan prospek penggunaan biochar di Indonesia.
Biochar adalah bentuk arang stabil kaya karbon yang dihasilkan dari pemanasan bahan organik seperti kayu, jerami, atau daun melalui proses yang disebut pirolisis. Biochar berfungsi sebagai pembenah tanah untuk meningkatkan kesuburan dengan memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, serta mengunci karbon di dalam tanah untuk jangka waktu lama, yang berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca.
Devi mengatakan, pihaknya ingin memberikan masukan kepada pemerintah untuk lebih memperkenalkan biochar ini kepada petani dan juga menjadi salah satu pertimbangan kebijakan.
“Kita akan kirimkan surat rekomendasi ke Kementerian Pertanian. Kemudian ke Komisi DPR dan juga pemegang kebijakan di Indonesia. Dan sinergi ini yang kita butuhkan, utamanya biochar tidak bisa berdiri sendiri, tetap membutuhkan teknologi pupuk, kemudian membutuhkan mikroba. Nah ini yang kita bersinergi untuk bisa memperbaiki kondisi lahan yang sudah kritis di Indonesia,” kata Devi.
Menurutnya jika persoalan lahan ini tidak segera diperbaiki untuk generasi kita, maka ketahanan pangan itu tidak akan bisa tercapai.
“Jadi kita pertama adalah perbaiki lahan dulu. Baru dengan perbaiki lahan, produktivitas kita akan meningkat. Jadi nanti dampak dari biochar itu, nanti ujung-ujungnya pasti secara ekonomi itu akan menguntungkan masyarakat kita, terutama para petani” kata Devi.
Dia menuturkan, Kadin Indonesia telah membuat tempat research and development yang bisa disinergikan antara Kementerian Pertanian, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan pelaku usaha untuk melakukan riset-riset di bidang pertanian.
“Jadi tidak hanya di bidang pertanian saja, tapi juga peternakan dan perikanan. Nah itu kita siapkan lahan 180 hektare di Lebak. Jadi tujuannya sebagai tempat riset dan juga untuk pembinaan para petani sebenarnya. Dan Kadin Indonesia sendiri juga sekarang melakukan pembinaan kepada petani, tidak hanya dilakukan secara offline saja, tapi juga online,” ujar Devi.
Senada dengan Devi, Ahli Utama Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi menekankan pentingnya peran biochar untuk pertanian produktif dan berkelanjutan. Berdasarkan hasil riset, biochar berperan untuk meningkatkan produktivitas tanah dan produksi tanaman, meremediasi tanah-tanah tercemar, seperti tercemar pestisida atau logam berat.
“Biochar adalah solusi tepat untuk memperbaiki tanah. Selain sebagai tempat ideal bagi mikroba, biochar juga dapat memperbaiki penghawaan tanah, meningkatkan kapasitas memegang air dan nutrisi, memperbaiki struktur tanah, serta membantu mikroba dalam menyediakan nutrisi tanaman,” ungkapnya.
Dedi mengatakan, selain mengurangi kebutuhan pupuk kimia, biochar memiliki prospek yang tinggi dalam carbon trading. Jadi, memiliki peran strategis untuk pertanian yang produktif dan berkelanjutan.
Dedi menyebut, Biotron merupakan hasil dari penelitian Kementerian Pertanian yang sudah terbukti dapat meningkatkan produksi tanaman.
“Biotron itu biochar 3 in 1 diperkaya oleh mikro, diperkaya juga pupuk organik cair. Saat ini sedang giat-giatnya kita diseminasikan kepada para petani. Dan ini kalau kita kerja sama mungkin dengan para pelaku industri, pelaku usaha ini akan sangat bagus. Sehingga nanti biochar akan semakin masif. Sudah di berbagai lokasi baik di Kalimantan, Sumatera, maupun Jawa,” ungkap Dedi.
Untuk pengadaannya, lanjut Dedi, saat ini masih relatif terbatas. Sehingga, memerlukan bantuan dari para pelaku usaha. “Saya yakin pengadaannya tidak ada masalah. Nanti tinggal implementasinya di lapangan”.
Dalam kesempatan yang sama, Peneliti Ahli Madya dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Etty Pratiwi mengatakan, terdapat kantong-kantong penghasil limbah pertanian yang bisa diberdayakan untuk produsen biochar.
“Jadi mungkin akan memberdayakan melalui penyuluhan petani-petani. Ayo kita bikin biochar di daerah-daerah yang memang limbah pertaniannya sangat banyak dan bisa digunakan sebagai biochar,” kata Etty.
Dia menuturkan, aplikasi biochar tidak bisa berdiri sendiri. Sinergi antara biochar, pupuk organik, mikroba itu diharapkan menjadi satu kesatuan untuk bisa mengatasi masalah lahan kritis karena penurunan kualitas tanah dan akibat perubahan iklim.
Sementara itu, CEO PT Bhetochar Energi Nusantara, Maria Wahono menjelaskan peluang pemanfaatan limbah biomassa pertanian Indonesia yang dapat menghasilkan jutaan ton limbah biomassa pertanian setiap tahun yang saat ini belum dimanfaatkan optimal.
“Melalui teknologi pirolisis, limbah ini dapat diolah menjadi biochar yang memiliki nilai tambah tinggi. Material ini dapat bertahan di tanah hingga ratusan tahun dan berkontribusi pada sekuestrasi karbon jangka panjang,” kata Maria.
Biochar, lanjut Maria, juga terbukti efektif untuk rehabilitasi lahan pascatambang dan remediasi tanah tercemar. Namun, pengembangan industri ini memerlukan ekosistem yang mendukung, mulai dari standarisasi produk, infrastruktur produksi, hingga edukasi pasar”.
Terkait peluang ekonomi biochar, Direktur Litbang PT Bhetochar Energi Nusantara, Yuventius Nicky menambahkan, pengembangan biochar memiliki peluang ekonomi yang cukup tinggi.
“Kalau peluang ekonomi real aja, itu bahan bakunya kan limbah dari para petani. Jadi itu pasti beli dari petani. Jadi itu satu, peluang direct, hubungan langsung. Kedua, setelah digunakan, yang tadinya lahannya tidak produktif, jadi produktif. Jadi ada peningkatan produktivitas di situ,” kata Yuventius.
Dari sisi produsen, lanjutnya, peluang ekonomi sangat prospektif mengingat terdapat 12,7 juta hektar lahan kritis. Namun, untuk mengatasi permasalahan itu dan untuk mengakomodasi kebutuhan tidak akan mungkin hanya satu atau dua perusahaan saja yang terlibat. Sehingga memerlukan kolaborasi dan sinergi dari semua pihak.
“Karena biochar itu bukan pupuk. Makanya kami harus bekerja sama dengan pupuk, harus bekerja sama dengan mikrobiologi. Kalau nggak, nggak akan terjadi,” ujar Yuventius.
Selain itu, kata Yuventius, sosialisasi mengenai manfaat biochar perlu dilakukan secara masif agar dapat diterima pasar atau petani. “Harus melakukan banyak demplot (demonstration plot). Karena banyak masyarakat kan belum melihat dampak. Kalau petani sebetulnya kan kalau sudah real dampaknya sudah merasa dia akan adopsinya cepat. Jadi mau tidak mau memang harus demplot”.
Senada, IPJ. Arnawa dari PT Nex Bio Tech International meyakini bahwa biochar akan dapat diterima baik oleh petani dan pasar. “Ini semua tergantung daripada bagaimana kita mensosialisasikan dan mengedukasikannya”.
Arnawa mengatakan, pihaknya telah bekerjasama dengan Kadin untuk menciptakan Next Bio Academy sebagai platform edukasi bukan hanya offline, tetapi juga online.
“Edukasi kami berarah kepada perubahan pola pikir terhadap petani kita di Indonesia,” kata Arnawa.
Pola pikir tersebut di antaranya adalah mengenai pentingnya pupuk, lahan rusak yang menyebabkan gagal panen, pentingnya biochar, hingga penggunaan teknologi yang tepat.
Saat ini pihaknya mengembangkan teknologi nano, dimana pupuk tidak fokus diberikan di tanah, sehingga pemberian nutrisi tidak melalui tanah tapi melalui poli-poli batang, atau lenti sel dan mulut daun.
“Nah sehingga dengan solusi-solusi praktis seperti ini mindset atau pola pikir petani yang mengatakan bahwa organik itu mahal, pelan-pelan akan bisa berubah pola pikirnya. Sehingga petani kita bisa lebih sejahtera. Karena hasilnya bukan hanya meningkat tapi biaya produksinya juga menurun,” pungkas Arnawa.
FGD yang digelar Kadin Indonesia bersama PT Bhetochar Energi Nusantara dan PT Nex Bio ini dihadiri 40 peserta yang hadir secara luring dan 60 peserta secara daring, mempertemukan pelaku usaha, peneliti, dan pakar pertanian untuk membahas solusi konkret menghadapi tantangan serius sektor pertanian nasional.