Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Institute bersama Global Centre for Green Fuels (GCGF) menggelar workshop bertajuk “Bioetanol dan Ketahanan Energi Indonesia: Peluang, Tantangan, dan Kemitraan” yang digelar di Menara Kadin Indonesia, Jakarta Selatan pada Rabu (17/06/2026).
Forum ini berlangsung di tengah meningkatnya urgensi ketahanan energi nasional. Krisis Selat Hormuz awal tahun ini kembali memperlihatkan kerentanan Indonesia terhadap gangguan pasokan energi global, dan memperkuat relevansi kebijakan pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil melalui pengembangan biofuel domestik.
Keputusan Menteri ESDM Nomor 113.K/EK.05/MEM.E/2026 telah menetapkan jadwal pencampuran E5 di enam provinsi mulai semester II 2026, meningkat ke E10 secara nasional mulai 2028, namun kesenjangan antara ambisi regulasi dan kesiapan di lapangan tetap menjadi tantangan yang harus dituntaskan.
Direktur Insights Kadin Indonesia Institute Fakhrul Fulvian mengatakan dinamika pasar energi global dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa keamanan energi kini tidak lagi sekadar isu pasokan energi, melainkan telah menjadi isu ekonomi dan kepentingan strategis nasional.
“Keamanan energi bukan lagi sekadar masalah energi, melainkan telah menjadi masalah ekonomi dan kepentingan nasional kita. Gangguan rantai pasok energi global menunjukkan betapa rentannya negara-negara terhadap guncangan eksternal,” kata Fakhrul.
Ia menjelaskan bioetanol menawarkan manfaat yang lebih luas dibanding sekadar menjadi bahan bakar alternatif. Pengembangan industri bioetanol dinilai mampu meningkatkan nilai tambah sektor pertanian, menarik investasi baru, membuka lapangan kerja, serta mendukung transisi menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan.
“Bioetanol mewakili lebih dari sekadar alternatif bahan bakar. Ini adalah peluang untuk mendiversifikasi bauran energi, memperkuat sektor pertanian, menarik investasi, menciptakan lapangan kerja, dan mendukung transisi Indonesia menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan,” ungkapnya.
Sementara itu, Managing Director GCGF Clarence Woo memaparkan bahwa India bergerak dari pencampuran di bawah 5% menjadi 20% hanya dalam delapan tahun dengan memadukan mandat yang jelas dan insentif investasi bagi produsen.
“Tailan (Thailand) membuktikan tahun ini, saat harga minyak melonjak, bahwa campuran etanol yang lebih tinggi justru melindungi konsumen dari guncangan harga E20 di Tailan sekitar 14% lebih murah per liter dibanding E10. Indonesia punya semua alasan untuk melangkah dengan keyakinan,” tutur Clarence.
Hadir dalam acara tersebut Wakil Ketua Umum Bidang Pertanian Kadin Indonesia Devi Erna Rachmawati dan Direktur Kadin Indonesia Institute Mulya Amri.