KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

James Riady Ajak Belarus Jadikan Indonesia “Rumah Kedua” Investasi

Jakarta – Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Luar Negeri Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Dr. James T. Riady, mengajak dunia usaha Belarus memandang Indonesia bukan sekadar pasar ekspor, melainkan sebagai “rumah kedua” untuk investasi, pembangunan industri, dan alih teknologi. Menurutnya, di tengah dunia yang semakin terfragmentasi akibat ketegangan geopolitik dan perubahan rantai pasok global, kemitraan ekonomi jangka panjang jauh lebih penting dibanding sekadar meningkatkan volume perdagangan.

Ajakan tersebut disampaikan James Riady dalam Indonesia–Belarus Business Forum dan Business Matching yang diselenggarakan Kadin Indonesia bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Belarus di Jakarta, di Ballroom Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta, Selasa (30/6/2026). Forum bisnis ini digelar dalam rangka kunjungan resmi delegasi Pemerintah Republik Belarus yang dipimpin Wakil Perdana Menteri Belarus Viktor Karankevich, beserta delegasi pemerintah dan pelaku usaha dari negara tersebut.

Hadir dalam forum tersebut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Wakil Perdana Menteri Belarus Viktor Karankevich, Menteri Luar Negeri Belarus Maxim Ryzhenkov, Duta Besar Belarus untuk Indonesia Raman Ramanouski, serta Ketua Belarusian Chamber of Commerce and Industry Mikhael Miatlikov, bersama para pemimpin dunia usaha dari kedua negara.

Dalam sambutannya, James mengatakan dunia sedang memasuki era baru ketika geopolitik semakin menentukan arah ekonomi global. Fragmentasi perdagangan internasional dan perubahan rantai pasok mendorong setiap negara mencari mitra ekonomi baru yang lebih strategis.

“Kita hidup di dunia yang semakin terfragmentasi. Rantai pasok berubah, pasar semakin tidak pasti, dan geopolitik kini semakin membentuk arah ekonomi. Dalam situasi seperti ini, negara-negara perlu membangun kemitraan ekonomi baru. Karena itu forum hari ini bukan hanya tentang meningkatkan perdagangan, tetapi membangun kemitraan jangka panjang antara Indonesia dan Belarus,” ujarnya.

James mengaku mempelajari lebih jauh perkembangan Belarus sebelum forum tersebut dan terkesan dengan kemajuan negara berpenduduk sekitar sembilan juta jiwa itu, khususnya di bidang rekayasa teknik (engineering), manufaktur industri, teknologi pertanian, pupuk, alat berat, sains, serta pendidikan teknik.

Sebaliknya, Indonesia menawarkan keunggulan berbeda berupa populasi hampir 285 juta jiwa, sumber daya alam yang melimpah, bonus demografi, sektor swasta yang dinamis, serta salah satu pasar domestik terbesar di dunia.

“Keunggulan kedua negara saling melengkapi. Belarus memiliki teknologi, kemampuan rekayasa, pengalaman manufaktur, dan keahlian industri. Indonesia menawarkan skala ekonomi, talenta, kewirausahaan, sumber daya alam, dan pasar domestik yang sangat besar,” katanya.

Karena itu James mendorong perusahaan-perusahaan Belarus agar tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai tujuan ekspor.

“Saya ingin mendorong perusahaan Belarus menjadikan Indonesia sebagai rumah kedua untuk investasi. Bangun pabrik di sini, lakukan transfer teknologi, kembangkan manufaktur di Indonesia, dan bermitra dengan perusahaan-perusahaan Indonesia. Kami memiliki sektor swasta yang kuat dan banyak mitra bisnis yang kompeten,” tegasnya.

Menurut James, gagasan tersebut sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan penguatan industri manufaktur, hilirisasi, ketahanan pangan, peningkatan produktivitas pertanian, serta penguasaan teknologi sebagai prioritas pembangunan nasional.

Ia juga menilai Indonesia saat ini semakin serius menciptakan iklim investasi yang ramah dunia usaha melalui berbagai reformasi regulasi dan penyederhanaan perizinan.

“Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, ketahanan pangan, hilirisasi, dan investasi menjadi prioritas nasional. Kami juga beruntung memiliki Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Bapak Airlangga Hartarto yang tidak hanya memahami kebijakan makroekonomi, tetapi juga memiliki pengalaman panjang di sektor swasta. Beliau memahami cara berpikir dunia usaha dan kebutuhan investor dalam menjaga iklim investasi yang kompetitif,” ujarnya.

James mencontohkan keberhasilan investasi Jepang di Indonesia selama puluhan tahun. Menurutnya, Jepang tidak sekadar menjual produk ke Indonesia, tetapi membangun pabrik, melakukan lokalisasi produksi, mengembangkan sumber daya manusia, dan bermitra dengan perusahaan nasional. “Hasilnya menjadi salah satu kisah sukses pembangunan industri terbesar di Asia. Saya percaya Belarus pun dapat menulis kisah suksesnya sendiri di Indonesia,” katanya.

Lebih jauh James menegaskan pusat gravitasi ekonomi dunia kini telah bergeser dari kawasan Atlantik menuju Asia-Pasifik. Dalam konteks tersebut, Indonesia memiliki posisi strategis sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara sekaligus pintu masuk menuju pasar ASEAN yang berpenduduk lebih dari 680 juta jiwa.

“Bagi perusahaan Belarus, Indonesia bukan hanya pasar berpenduduk hampir 285 juta jiwa. Indonesia juga merupakan gerbang menuju ASEAN. Sebaliknya, kami berharap semakin banyak perusahaan Indonesia menjajaki peluang usaha di Belarus sebagai pintu masuk menuju kawasan Eurasia,” ujarnya.

James menutup pidatonya dengan menegaskan bahwa pemerintah hanya dapat menciptakan kerangka kerja sama dan memperkuat hubungan diplomatik. Namun investasi, penciptaan lapangan kerja, transfer teknologi, serta kemakmuran hanya dapat diwujudkan oleh dunia usaha.

Ia mengajak seluruh peserta forum memanfaatkan pertemuan tersebut bukan sekadar bertukar kartu nama, melainkan membangun kemitraan strategis yang mampu memberikan manfaat bagi kedua negara dalam jangka panjang.

Forum Bisnis Indonesia–Belarus tahun ini memfokuskan pembahasan pada berbagai sektor potensial, antara lain makanan dan minuman, farmasi, ekonomi digital, otomotif, industri traktor dan alat berat, pendidikan, transportasi, serta perdagangan. Melalui forum dan business matching tersebut, pemerintah dan dunia usaha kedua negara berharap kerja sama perdagangan dan investasi Indonesia–Belarus dapat meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun mendatang.

Ketika dunia terbelah oleh geopolitik, kemakmuran tidak dibangun melalui perdagangan sesaat, melainkan melalui investasi jangka panjang, transfer teknologi, dan kemitraan industri yang saling.

Sumber: investortrust.co.id

Indonesia-Belarus Business Forum Hasilkan 11 Kerja Sama Strategis, Kadin Dorong Investasi Jangka Panjang
James Riady Ajak Belarus Jadikan Indonesia “Rumah Kedua” Investasi
Hari UMKM Internasional, Kadin Dorong UMKM Naik Kelas Melalui Penguatan Ekosistem Digital

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry