Yogyakarta – Kawasan legendaris Jalan Malioboro berubah menjadi panggung mahakarya budaya pada Sabtu pagi, 3 Oktober 2026. Ribuan jemari dari berbagai latar belakang tampak khusyuk menari di atas kain putih, meniup canting, dan menggoreskan malam panas.
Diinisiasi oleh Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Provinsi DIY, gelaran bertajuk “Simfoni 1.001 Pembatik 2026” ini sukses menggetarkan jantung Kota Gudeg dalam rangka merayakan Hari Batik Nasional sekaligus menyambut HUT ke-270 Kota Yogyakarta.
Mewakili Ketua Umum Kadin Provinsi DIY, Gunarta Adibrata menegaskan bahwa agenda besar ini merupakan program strategis tahun 2026 yang berfokus pada bidang pemberdayaan perempuan. Bagi DIY, batik bukan sekadar warisan adiluhung lintas generasi yang sarat filosofi identitas, melainkan juga roda penggerak ekonomi masyarakat.
“Melestarikan batik adalah ikhtiar bersama menjaga jati diri sekaligus membangun masa depan,” ujar Gunarta dalam sambutannya.
Kemeriahan acara ini diakui langsung oleh Ketua Organizing Committee, Indah Rahayu Murniati, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Bidang Pemberdayaan Perempuan Kadin Provinsi DIY.
Indah mengungkapkan rasa bangganya melihat antusiasme peserta yang datang dari berbagai kalangan, mulai dari pencinta batik, pelajar, Aparatur Sipil Negara (ASN), hingga wisatawan mancanegara.
“Mencanting itu indah sekali. Melalui Malioboro yang ikonik, kita ingin mengajak semua lapisan masyarakat dan pelaku UMKM untuk membatik bersama,” kata Indah.
Sementara itu, Jan Tielcke, seorang wisatawan berkewarganegaraan Jerman yang berdomisili di Seligenstadt, salah satu kota tertua di Distrik Offenbach, Jerman, menceritakan pengalamannya tiga tahun lalu saat memperkenalkan batik ke warga lokal dan anak muda di sana. Melalui lokakarya intensif, para pemuda Jerman tidak hanya terpukau oleh nilai seni batik canting asli, tetapi juga mulai menghargai proses pembuatannya yang rumit dan memakan waktu lama.
Semangat pelestarian ini juga disambut hangat oleh generasi muda lokal. Zona Ayuningdyah Arifin, salah satu peserta muda, mengaku bahwa acara seperti ini membuka matanya untuk mengenal batik secara detail hingga menumbuhkan rasa cinta pada karya leluhur. Siswi kelas 2 SMA Muhammadiyah Kasihan Bantul yang membatik motif Nitisekar ini berharap acara edukatif seperti ini rutin digelar setiap tahun. Menurutnya, membatik tidak hanya menyelamatkan budaya dari kepunahan, tetapi juga menjadi aktivitas positif yang efektif mengalihkan remaja dari kecanduan gawai.
Kemeriahan pesta budaya yang berlangsung dari pukul 06.00 hingga 14.30 WIB ini dikemas secara apik melalui berbagai rangkaian acara menarik, antara lain:
- Aksi Pembuka: Pelepasan sepeda batik, menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan doa, serta laporan Ketua Panitia Simfoni 1.001 Pembatik 2026.
- Seremonial Utama: Sambutan dari Ketua KADIN, Kepala Badan Standarisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kementerian Perindustrian, serta Gubernur DIY yang diwakili oleh Staf Ahli Bidang Ekonomi Pembangunan. Acara resmi dibuka secara simbolis lewat pemukulan kentongan yang menandai dimulainya sesi membatik bersama.
- Panggung Hiburan & Edukasi: Semarak penampilan line dance, pertunjukan musik angklung yang syahdu, talkshowinteraktif bersama Balai Batik, pementasan tarian tradisional, hingga aksi panggung dari Band Mazdar.
- Penutup: Penyerahan hasil karya membatik secara simbolis, sesi foto bersama, dan ucapan terima kasih kepada seluruh elemen masyarakat yang terlibat.
Melalui Simfoni 1.001 Pembatik ini, Yogyakarta kembali membuktikan posisinya sebagai Kota Batik Dunia yang mampu mengawinkan tradisi lama dengan napas modernisasi, sekaligus memastikan warisan UNESCO yang ditetapkan di Abu Dhabi silam tetap hidup dan lestari di tangan generasi muda.