Johannesburg, 21 November 2025 – Hubungan Indonesia–Afrika berakar pada solidaritas Selatan–Selatan, bersumber dari Konferensi Asia–Afrika Bandung 1955 yang menjunjung kesetaraan, keuntungan timbal balik, dan prinsip non-intervensi, yang kemudian mendorong terjalinnya solidaritas Afro–Asia serta terbentuknya Gerakan Non-Blok. Inisiatif modern seperti Indonesia–Africa Forum (IAF) dan Indonesia–Africa Infrastructure Dialogue (IAID) telah menghasilkan berbagai kesepakatan bernilai miliaran dolar.
Perdagangan dengan Afrika Selatan mencapai USD 1,33 miliar pada tahun 2023. Sebagai tuan rumah Afrika pertama dalam Presidensi G20 (1 Desember 2024–30 November 2025), Afrika Selatan menyoroti prioritas benua tersebut. Forum ini memanfaatkan momentum Jakarta South Africa–Indonesia Business Forum dan kunjungan Presiden Cyril Ramaphosa ke Indonesia pada Oktober 2025, dengan fokus memperluas hubungan ekonomi.
Indonesia–Africa CEO Forum 2025, yang diselenggarakan di Hotel Saxon, Johannesburg, di sela-sela KTT Pemimpin G20 2025, telah berhasil melakukan soft launch pembentukan Indonesia–South Africa High-Level Business Council (ISA–HLBC), menciptakan wadah permanen bagi kerja sama ekonomi strategis antara Indonesia, Afrika Selatan, dan kawasan Afrika yang lebih luas. Forum ini mempertemukan pejabat tinggi pemerintah, CEO, dan para pemimpin industri dari kedua negara untuk memperkuat perdagangan, investasi, dan kemitraan industri.
Soft launch ISA–HLBC bertujuan mempertegas penguatan hubungan ekonomi Indonesia–Afrika. Hasilnya mencakup soft launch ISA–HLBC melalui penandatanganan Nota Kesepahaman antara Kadin Indonesia, Business Unity South Africa (BUSA), dan South Africa Chamber of Commerce and Industry (SACCI), yang disaksikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia, Wakil Menteri Keuangan Indonesia, dan Kepala InvestSA. Nota kesepahaman ini menetapkan penyelenggaraan pertemuan tahunan bergiliran di Johannesburg dan Jakarta untuk dialog, investasi, dan pembangunan kemitraan. Sebuah roundtable menampilkan kegiatan bisnis, peluang, serta rekomendasi kebijakan untuk mengatasi hambatan dan meluncurkan berbagai proyek, yang dilengkapi dengan diskusi resmi. Nota Kesepahaman antara PT Dahana dan Rheinmetall Denel Munition mendorong kolaborasi fasilitas TNT, memperdalam kerja sama teknologi industri. Langkah-langkah ini mengubah aspirasi menjadi investasi nyata, kebijakan yang selaras, dan keuntungan bersama di seluruh Afrika.
Forum ini diselenggarakan bersama oleh Kadin Indonesia dan BUSA, didukung oleh SACCI, serta bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Afrika Selatan; DTIC Afrika Selatan; serta InvestSA. Kolaborasi ini menghasilkan rangkaian acara berupa seremoni, dialog, dan jejaring bisnis untuk mengubah niat diplomatik menjadi langkah ekonomi yang konkret.
Dalam sambutannya, Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menekankan bahwa forum ini menawarkan platform unik untuk menerjemahkan niat baik politik menjadi kolaborasi ekonomi yang nyata.
“Semangat kerja sama yang kita lihat hari ini berakar dari ikatan sejarah yang kuat yang telah lama membimbing kemitraan Indonesia dengan Afrika,” ujar Anindya atau Anin sapaan akrabnya.
“Indonesia–Africa CEO Forum hari ini memberikan kesempatan yang tepat untuk mengubah momentum politik ini menjadi kolaborasi ekonomi konkret. Forum ini mempertemukan para CEO, pemimpin industri, pembuat kebijakan, dan mitra strategis dari kedua kawasan untuk mengidentifikasi area kerja sama baru, membuka peluang investasi, dan memperkuat keterkaitan sektoral,” tambahnya.
Wakil Presiden Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, menegaskan komitmen Indonesia untuk meningkatkan investasi dan kerja sama ekonomi dengan Afrika.
“Afrika adalah kawasan yang akan menentukan arah masa depan; Afrika adalah masa depan, dan Indonesia ingin membangun masa depan itu bersama Afrika,” ujarnya.
Indonesia–Africa CEO Forum tahun ini juga dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia, Airlangga Hartarto; Wakil Menteri Luar Negeri, Arrmanatha Nasir; Wakil Menteri Keuangan, Thomas Djiwandono; Duta Besar Indonesia untuk Afrika Selatan, Saud Purwanto Krisnawan; Menteri Department of Trade, Industry and Competition (DTIC); Wakil Menteri DTIC, Zuko Godlimpi; Wakil Menteri DTIC, Alexandra Abrahams; CEO BUSA, Khulekani Mathe; serta Presiden SACCI, Mtho Xulu. Turut hadir pula sekitar 80 peserta yang mewakili para pemimpin bisnis dan tokoh industri dari Indonesia dan Afrika Selatan.