Cebu, Filipina, 7 Mei 2026 – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bersama Philippines Chamber of Commerce and Industry (PCCI) menyelenggarakan Indonesia–Philippines High Level Business Roundtable di Cebu, Filipina, bertepatan dengan Kunjungan Resmi Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto ke Filipina dalam rangka KTT ASEAN ke-48.
Forum ini menjadi momentum penting bagi komunitas bisnis Indonesia dan Filipina untuk menerjemahkan hubungan bilateral yang semakin kuat menjadi kerja sama konkret, terutama dalam pengembangan rantai pasok mineral kritis, ketahanan pangan, ekonomi digital, energi, dan konektivitas industri.
Salah satu capaian utama dalam forum ini adalah penguatan inisiatif “Indonesia-Philippines Nickel Corridor”, sebuah kerangka kerja sama strategis yang menghubungkan kekuatan hilirisasi nikel Indonesia dengan basis pasokan bijih nikel Filipina. Inisiatif ini dirancang untuk memposisikan Indonesia dan Filipina sebagai poros penting dalam rantai pasok mineral kritis global, sekaligus memperkuat ketahanan industri ASEAN di tengah meningkatnya kebutuhan dunia terhadap bahan baku untuk stainless steel, baterai, kendaraan listrik, penyimpanan energi, dan aplikasi industri lainnya.
Melalui kerja sama antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA),Indonesia–Philippines Nickel Corridor akan menjadi platform kerja sama industri yang mencakup pertukaran data dan informasi nikel, dialog regulasi dan kebijakan, kegiatan bersama, kunjungan lapangan ke tambang dan smelter, promosi investasi lintas negara, pengembangan metodologi ESG, serta program beasiswa dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia untuk sektor nikel.
Pada tahun 2025, Indonesia memproduksi sekitar 2,6 juta metrik ton nikel, sedangkan Filipina memproduksi sekitar 270.000 metrik ton. Berdasarkan estimasi United States Geological Survey (USGS) 2025, kedua negara bersama-sama menyumbang sekitar 73,6% produksi tambang nikel global.
Dari sisi cadangan, Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 62 juta metrik ton cadangan nikel, sementara Filipina memiliki sekitar 4,8 juta metrik ton. Bagi Indonesia, koridor ini memperkuat kepastian pasokan bahan baku bagi ekosistem hilirisasi nikel yang terus berkembang. Bagi Filipina, kerja sama ini membuka peluang untuk bergerak melampaui ekspor bahan mentah melalui keterhubungan dengan peluang pemrosesan regional, investasi, dan peningkatan kapasitas industri.
Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Luar Negeri Kadin Indonesia Bernardino Moningka Vega menyampaikan bahwa Indonesia-Philippines Nickel Corridor mencerminkan arah baru kerja sama ekonomi kawasan yang tidak hanya berbasis perdagangan komoditas, tetapi juga pembangunan rantai nilai yang lebih dalam dan saling menguntungkan.
“Sejalan dengan tema ASEAN Filipina tahun ini, ‘Navigating Our Future, Together,’ forum tingkat tinggi Kadin Indonesia–PCCI telah meletakkan peta jalan tidak hanya untuk kerja sama bilateral, tetapi juga untuk menjadikan kawasan ASEAN lebih siap menghadapi realitas geoekonomi saat ini,” ujar Bernardino.
Kerja sama APNI–PNIA juga diharapkan dapat mempertemukan pelaku industri hulu dan hilir, investor, asosiasi, serta pemangku kepentingan terkait
dari kedua negara. Dengan demikian, koridor ini tidak hanya menjadi konsep strategis, tetapi juga dapat berkembang menjadi mekanisme praktis untuk
memperkuat rantai nilai nikel regional, meningkatkan kepastian pasokan, dan mendorong investasi yang berkelanjutan.
Presiden Philippine Chamber of Commerce and Industry (PCCI) Ferdinand Ferrer, selaku menambahkan bahwa kerja sama ini menjadi langkah awal untuk membangun hubungan industri nikel yang lebih terintegrasi antara Indonesia dan Filipina.
“ASEAN akan paling kuat ketika bertindak sebagai satu kesatuan. Dan inti dari persatuan ini adalah hubungan bilateral yang sangat kuat antara Indonesia dan Filipina, dengan total populasi hampir 400 juta jiwa. Kamar dagang kami akan memimpin upaya membangun hubungan ekonomi yang lebih erat secara konkret dan terukur,” pungkas Ferrer.
Selain kerja sama strategis APNI–PNIA dalam kerangka Indonesia–Philippines Nickel Corridor, forum ini juga mengumumkan beberapa kesepakatan lainnya, yaitu:
Pertama, Strategic Cross-Chamber Cooperation antara Kadin Indonesia dan PCCI, sebagai kerangka kerja sama kelembagaan untuk memperkuat perdagangan, investasi, dan hubungan bisnis-ke-bisnis di sektor prioritas, termasuk mineral kritis, ekonomi syariah, keuangan digital, ketahanan pangan, dan energi.
Kedua, Agricultural Technology Collaboration antara Kadin Indonesia dan Philippine Chamber of Agriculture and Food, yang berfokus pada pertukaran pengetahuan, riset dan pengembangan, pertanian digital, pupuk organik, serta transfer teknologi untuk mendukung produktivitas dan ketahanan pangan.
Ketiga, Aviation Related Collaboration antara Garuda Maintenance Facility dan JAR Aviation Services, yang membuka peluang kolaborasi pengembangan dan pelaksanaan proyek-proyek aviasi di Filipina dengan nilai indikatif sebesar 80 juta dolar AS.
Keempat, Establishment of a Nickel Processing Facility in the Philippines oleh Agro Investama Group bersama RBN Solutions Inc. dan Ploutus Inc., yang mencakup pasokan nikel minimum 200.000 metrik ton per bulan mulai Juni 2026 serta rencana pembangunan fasilitas pemrosesan nikel untuk mendukung rantai pasok baterai dan kendaraan listrik.
Rangkaian kesepakatan ini menunjukkan penguatan kemitraan ekonomi Indonesia dan Filipina, yang kini bergerak dari perdagangan komoditas menuju kerja sama industri, investasi, dan integrasi rantai nilai ASEAN.
Ke depan, Kadin Indonesia akan terus mendorong tindak lanjut konkret dari setiap kesepakatan yang diumumkan, termasuk melalui dialog bisnis berkala, misi dagang, fasilitasi investasi, business matching, dan kerja sama antar-asosiasi sektoral. Dengan pendekatan ini, kemitraan Indonesia dan Filipina diharapkan dapat menjadi salah satu pilar penting bagi pertumbuhan ekonomi ASEAN yang lebih terintegrasi, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Hadir dalam acara tersebut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Airlangga Hartarto, Undersecretary of Department of Trade and Industry of the Philippines Alan Gepty dan lebih dari 40 pengusaha Indonesia dan Filipina.