Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Luar Negeri kembali menggelar Economic & Diplomacy Breakfast Meeting bertajuk “Eid al-Fitr Halal Bihalal Gathering” di Lippo Mall Nusantara Jakarta Jumat (10/04/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua Umum (WKU) Koordinator Bidang Luar Negeri Kadin Indonesia James T. Riady menyoroti dinamika global yang semakin tidak menentu dan menuntut dunia usaha untuk lebih adaptif.
“Kita selalu akan menghadapi gejolak-gejolak yang makin hari makin lebih sering. Ini sudah menjadi suatu hal yang the new normal ya, normal yang baru ya. Jadi kita harus belajar bagaimana pintar untuk merespons dan pintar untuk menyesuaikan diri dengan situasi global yang ada,” kata James usai acara.
James menambahkan, di tengah tantangan jangka pendek, prospek Indonesia dalam jangka menengah dan panjang tetap sangat kuat, terutama dalam konteks pergeseran pusat ekonomi global dari Atlantik ke Pasifik.
“Di mana di Pasifik ini berarti Amerika (Serikat), China dan juga Indonesia,” terang James.
Menurutnya, posisi geografis Indonesia menjadi keunggulan strategis dalam perdagangan internasional.
“Dan (Indonesia) memiliki strategi geografik yang luar biasa. Bentangan itu dari Barat sampai Timur itu kan naik pesawat itu 7 jam ya. Jadi perdagangan internasional banyak yang harus melalui Indonesia,” jelas James.
James juga menegaskan bahwa meskipun kondisi global dalam jangka pendek masih fluktuatif, langkah pemerintah dinilai cukup tepat dalam menjaga stabilitas.
“Jadi kita melihat Indonesia ini tetap jangka panjang, jangka menengah luar biasa bagus. Jangka pendek ya kita melihat saja perkembangan di dunia seperti apa, kita menyesuaikan diri dan pemerintah telah mengambil sikap-sikap yang saya kira cukup bagus ya untuk menstabilkan situasi yang ada,” ungkapnya.
James juga menekankan pentingnya kemampuan adaptasi pelaku usaha terhadap dinamika global yang terus berkembang.
“Jadi satu hal yang penting sekali untuk perusahaan-perusahaan adalah kemampuan perusahaan-perusahaan untuk merespons terhadap situasi global yang terus berkembang secara dinamis,” kata James.
Ia juga mengingatkan bahwa tekanan global seperti inflasi dan kenaikan suku bunga menjadi tantangan yang tidak terhindarkan.
“Yaitu sudah pasti inflasi seluruh dunia ini akan naik. Sudah pasti suku bunga rendah sudah menjadi sulit,” ujarnya.
Dalam situasi tersebut, ia mendorong dunia usaha untuk mengoptimalkan sektor yang lebih tahan terhadap gejolak, terutama pasar domestik.
“Dan karena itulah harus mencari peluang-peluang yang anti-inflasi, yang anti-siklikal berarti ya pasar domestik. Jadi pasar domestik itu harus dikembangkan, konsumsi domestik itu harus dikembangkan,” jelasnya.
Ia menilai sejumlah program pemerintah yang berfokus pada konsumsi domestik merupakan langkah strategis.
“Dan beberapa inisiatif Presiden itu sangat-sangat penting. Program MBG (Makan Bergizi Gratis) umpamanya itu kan sangat penting karena adalah domestic consumption. Perumahan umpamanya itu juga sangat-sangat penting sekali kan. Pariwisata ini juga dalam negeri semua. Jadi ini beberapa inisiatif dari pemerintah dan saya kira yang sangat-sangat bagus,” pungkasnya.
Hadir dalam acara tersebut WKU Bidang Diplomasi Multilateral Kadin Indonesia Andi Anzhar Cakra Wijaya, WKU Bidang Pengembangan Infrastruktur Strategis dan Pembangunan Pedesaan serta Transmigrasi Kadin Indonesia Thomas Jusman, WKU Bidang Pemasaran, Promosi, Inovasi dan Pengembangan Produk UMKM Kadin Indonesia Rifda Ammarina, WKU Bidang Antar Lembaga dan Pemerintahan Daerah Kadin Indonesia Junaidi Elvis, jajaran Ketua Komite Bilateral Kadin Indonesia dan jajaran Ketua Komite Tetap Bidang Luar Negeri Kadin Indonesia.
Hadir pula Ketua Umum (Ketum) Kadin Provinsi Aceh Muhammad Iqbal Piyeung, Ketum Kadin Provinsi Sumatra Barat Buchari Bachter, Ketum Kadin Provinsi Bangka Belitung Ritchie Glen Yapranadi dan Ketum Kadin Provinsi Sulawesi Tengah M. Nur Rahmatu.