KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

Sekjen International Economic Association Lili Yan Ing: Indonesia Belum Masuk Peta Semikonduktor Dunia

Jakarta – Indonesia belum masuk peta semikonduktor dunia. Jika dibandingkan dengan negara tetangga di kawasan ASEAN, posisi Indonesia masih tertinggal cukup jauh. Singapura telah masuk tahap kedua industri semikonduktor dengan kontribusi sekitar 5% terhadap produksi fabrikasi wafer global. Sementara Malaysia yang fokus pada tahap ketiga industri semikonduktor telah menguasai sekitar 11% dari total perakitan, pengujian, dan pengemasan chip global. Namun Indonesia, meski merupakan negara dengan jumlah penduduk dan wilayah terbesar di ASEAN, belum memberikan kontribusi signifikan dalam rantai industri semikonduktor global.

“Indonesia memang belum masuk ke salah satu dari tiga tahap utama industri semikonduktor, tetapi potensi negara ini sangat besar untuk mengembangkan industri semikonduktor ke depan,” kata Lili Yan Ing, Sekretaris Jenderal International Economic Association, dalam seminar Global and Domestic Economic Outlook 2026: Mendorong Peran Swasta dalam Pertumbuhan Ekonomi: Pro-growth, Pro-poor, Pro-job, dan Pro-environment, Kamis (15/1/2026).

Industri semikonduktor merupakan salah satu industri paling kompleks sekaligus paling strategis di dunia. Rantai industrinya terbagi ke dalam tiga tahap utama, yang masing-masing membutuhkan tingkat teknologi, modal, dan sumber daya manusia yang berbeda. Tidak semua negara mampu menguasai seluruh tahapan tersebut secara utuh.

Tahap pertama adalah riset dan desain chip. Pada fase ini, para insinyur merancang arsitektur chip, mulai dari fungsi, performa, efisiensi energi, hingga ukuran transistor. Proses desain dilakukan menggunakan perangkat lunak khusus electronic design automation (EDA) dan membutuhkan tenaga ahli dengan keterampilan tinggi.

Tahap riset dan desain bersifat knowledge intensive atau padat pengetahuan, namun relatif tidak memerlukan investasi fisik sebesar pabrik wafer. Karena itu, banyak negara dan perusahaan global memilih fokus pada tahap desain meskipun tidak memiliki fasilitas produksi chip. Nilai tambah tahap ini sangat tinggi karena desain menentukan kinerja dan diferensiasi sebuah chip.

Tahap kedua adalah fabrikasi wafer, yaitu proses mencetak desain chip ke atas wafer silikon. Ini merupakan tahap paling kompleks, mahal, dan strategis dalam industri semikonduktor. Fabrikasi wafer dilakukan di fasilitas khusus yang disebut fab, dengan kebutuhan investasi yang dapat mencapai puluhan miliar dolar AS.

Proses fabrikasi melibatkan ratusan langkah presisi tinggi—mulai dari litografi, etsa, deposisi, hingga doping—yang harus dilakukan dalam ruang bersih dengan tingkat sterilitas sangat tinggi. Hanya sedikit negara yang mampu menguasai tahap ini secara kompetitif, salah satunya Singapura yang kini menyumbang sekitar 5% dari produksi wafer global.

Setelah wafer selesai diproses dan dipotong menjadi chip-chip kecil, industri masuk ke tahap ketiga, yakni assembly, testing, and packaging (ATP). Pada tahap ini, chip dirakit ke dalam kemasan, diuji kinerjanya, dan disiapkan untuk digunakan di berbagai perangkat elektronik.

Tahap ATP relatif lebih padat karya dan membutuhkan modal yang lebih rendah dibandingkan fabrikasi wafer. Karena itu, banyak negara berkembang masuk ke industri semikonduktor melalui segmen ini. Malaysia menjadi salah satu contoh sukses dengan kontribusi sekitar 11% terhadap total aktivitas ATP global.

Dalam lima tahun terakhir, lanjut Lili, industri semikonduktor China meningkat dua kali lipat. ASEAN juga mencatat pertumbuhan yang signifikan. Nilai ekspor semikonduktor ASEAN meningkat dari sekitar US$52 miliar menjadi US$165 miliar atau melonjak tiga kali lipat. “Angkanya memang tiga kali lipat, dan itu menunjukkan potensi yang sangat besar,” ujarnya.

Negara yang menguasai fabrikasi wafer pada dasarnya menguasai jantung industri semikonduktor. Tanpa wafer, tidak ada chip. Tanpa chip, rantai industri digital—mulai dari kecerdasan buatan (AI), kendaraan listrik, hingga sistem pertahanan—tidak dapat berjalan.

Semikonduktor, Komoditas Strategis

Di tengah percepatan transformasi digital global, semikonduktor telah menjadi salah satu komoditas paling strategis dalam perekonomian modern. Komponen berukuran mikroskopis ini berperan krusial dalam hampir seluruh perangkat elektronik, mulai dari ponsel pintar, komputer, kendaraan listrik, hingga panel surya.

Semikonduktor merupakan material dengan kemampuan menghantarkan listrik yang berada di antara konduktor dan isolator. Sifat unik ini memungkinkan semikonduktor direkayasa untuk mengatur aliran listrik secara presisi sesuai kebutuhan teknologi.

Material semikonduktor yang paling umum digunakan adalah silikon, disusul germanium dan galium arsenida. Melalui proses doping, sifat listrik material tersebut dapat diubah sehingga menghasilkan semikonduktor tipe-N dan tipe-P yang menjadi dasar kerja transistor dan sirkuit terpadu (integrated circuit).

Karena perannya yang sangat luas, semikonduktor kini dipandang bukan sekadar komponen teknologi, tetapi juga aset strategis ekonomi dan geopolitik. Gangguan pasokan chip dapat melumpuhkan industri manufaktur, menahan produksi kendaraan, hingga memperlambat transformasi digital global.

Indonesia belum masuk jajaran produsen utama chip semikonduktor dunia. Namun, Indonesia tidak sepenuhnya berada di luar rantai pasok global. Saat ini, peran Indonesia masih berada di segmen hilir, khususnya pada assembly, testing, and packaging.

Salah satu contoh adalah keberadaan fasilitas Infineon di Batam, Kepulauan Riau, yang beroperasi sebagai pusat perakitan dan pengujian chip untuk pasar global. Segmen ini menjadi pintu masuk Indonesia ke industri semikonduktor, meskipun belum menyentuh tahap bernilai tambah tertinggi.

Di sisi hulu, Indonesia juga mulai menunjukkan potensi sebagai pemasok bahan baku strategis. Smelter PT Freeport Indonesia di Gresik telah memproduksi selenium, salah satu material penting bagi industri semikonduktor. Selain itu, Indonesia memiliki cadangan silika dan timah yang melimpah.

Tantangan Investasi dan Reformasi Struktural

Menurut Lili, ketertinggalan Indonesia tidak terlepas dari lemahnya daya tarik investasi asing langsung (FDI). Rasio FDI terhadap PDB Indonesia saat ini hanya sekitar 1,2%, terendah di antara negara-negara ASEAN. Sebagai perbandingan, Singapura mencatat rasio FDI terhadap PDB sekitar 27%, sementara Vietnam mencapai 4,2%.

“Dalam kondisi global saat ini, kita benar-benar bersaing memperebutkan investasi. Pemerintah tidak bisa lagi menjalankan bisnis seperti biasa. Reformasi struktural dan perbaikan iklim usaha menjadi keharusan,” tegasnya.

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan China justru membuka peluang bagi ASEAN melalui relokasi rantai nilai global. Arus FDI ke ASEAN meningkat sekitar 47% dibandingkan sebelum perang dagang. Namun, aliran investasi tersebut sebagian besar masuk ke Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam, sementara Indonesia masih tertinggal.

Digital, AI, dan Energi

Selain semikonduktor, Lili menilai ekonomi digital akan menjadi motor pertumbuhan utama ASEAN. Dengan 692 juta penduduk dan tingkat penetrasi internet sekitar 70%, nilai ekonomi digital ASEAN diperkirakan mencapai US$300 miliar pada 2025 dan berpotensi melonjak menjadi US$1 triliun pada 2030.

Namun Indonesia dinilai masih terlalu bertumpu pada e-commerce dan sistem pembayaran digital. Ke depan, adopsi digital dan AI harus diperluas ke sektor produktif seperti pertanian, manufaktur, kesehatan, dan pendidikan.

Transformasi digital tersebut, lanjut Lili, sangat bergantung pada keandalan pasokan energi. Saat ini, porsi energi terbarukan di ASEAN baru sekitar 26%, jauh di bawah rata-rata global sebesar 40%. “Transisi energi hijau bukan pilihan, tetapi keharusan untuk menurunkan biaya dan meningkatkan efisiensi,” ujarnya.

Kritik MBG dan Apresiasi pada Program Prabowo

Dalam konteks kebijakan domestik, Lili mengapresiasi gagasan Presiden Prabowo Subianto terkait penguatan sumber daya manusia, termasuk konsep Sekolah Rakyat. Namun ia menilai pendekatannya perlu bersifat universal, dengan fokus pada peningkatan kualitas guru, kurikulum, dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha.

Sementara itu, terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG), Lili menyampaikan kritik tegas. Berdasarkan hasil survei, kurang dari 4% siswa menyatakan membutuhkan program makan siang gratis. “Tidak masuk akal jika negara menyediakan makan siang gratis untuk kelompok menengah atas,” ujarnya.

Ia menilai program MBG seharusnya bersifat sangat terarah dan hanya diberikan kepada siswa dari keluarga miskin, dengan alokasi anggaran yang terbatas. “Anggarannya seharusnya tidak lebih dari Rp8 triliun dan benar-benar tepat sasaran,” kata Lili.

Menutup paparannya, Lili menegaskan bahwa jika Indonesia ingin mengejar ketertinggalan di industri strategis seperti semikonduktor, pemerintah harus berperan sebagai fasilitator, sementara sektor swasta menjadi aktor utama pertumbuhan. “Tanpa reformasi nyata dan konsistensi kebijakan, potensi besar Indonesia hanya akan tetap menjadi potensi,” ujarnya.

Sumber: investortrust.id

Anindya Bakrie: ABAC Meeting I 2026 Jadi Momentum Awal Integrasi kawasan Asia – Pasifik Guna Meningkatkan Arus Investasi dan Perdagangan
Kadin dan ABAC Gelar ABAC Meeting I 2026, Dorong Penguatan Konektivitas Kawasan Asia-Pasifik
APF Canada Hadirkan Pemimpin APEC di Jakarta untuk Perkuat Keuangan Digital UMKM Perempuan

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry