KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

Survei Kadin Business Pulse Q1 2026, Anindya Bakrie: Efisiensi Perlu, tapi Harus Cepat Kembali ke Growth

Jakarta – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie, menyoroti dampak ketidakpastian global terhadap dunia usaha nasional. Hal tersebut disampaikan Anin sapaan akrabnya dalam acara Press Conference Kadin Business Pulse Q1 2026: Menavigasi Ketidakpastian – Dari Sentimen Bisnis menuju Aksi Kebijakan di Menara Kadin Indonesia, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (24/04/2026).

Anin mengatakan dinamika dan konflik di Timur Tengah telah memberikan dampak signifikan bagi banyak negara, termasuk Indonesia.

“Dampak paling terasa adalah kenaikan harga BBM yang kemudian merembet ke peningkatan biaya operasional. Namun, kondisi ini tidak diimbangi dengan kenaikan daya beli, karena likuiditas saat ini juga sangat ketat,” ujar Anin.

Menurut Anin, kondisi tersebut mendorong Kadin Indonesia untuk secara rutin melakukan survei Kadin Business Pulse setiap kuartal. Survei ini dinilai penting karena berbasis pada masukan korporasi, bukan individu, sehingga mencerminkan kondisi riil dunia usaha.

“Jawaban yang kami dapatkan berasal dari perusahaan-perusahaan yang memegang langsung aspek profit and loss. Jadi ini bukan asumsi, melainkan evidence-based (berbasis bukti),” kata Anin

Anin menambahkan, di tengah perkembangan teknologi dan penggunaan data berbasis digital serta kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), pengumpulan informasi menjadi lebih komprehensif. Meski demikian, interaksi langsung dengan pelaku usaha tetap menjadi hal penting, sehingga Kadin terus aktif menjangkau daerah untuk memahami tantangan ekonomi secara nyata.

Lebih lanjut, Anin juga mengingatkan bahwa dunia usaha telah melalui berbagai krisis, seperti krisis finansial 1998, krisis global 2008, serta pandemi COVID-19 pada 2021-2022. Karena itu, pelaku usaha perlu menyiapkan model bisnis yang lebih tangguh, tidak hanya untuk bertahan, tetapi juga siap menghadapi krisis berikutnya.

“Tantangannya sekarang adalah bagaimana menyikapi situasi ini. Apakah hanya fokus pada efisiensi dengan mengencangkan ikat pinggang, atau segera kembali ke jalur pertumbuhan,” jelas Anin.

Dijelaskan Anin, berdasarkan hasil survei Kadin Business Pulse Q1 2026, mayoritas pelaku usaha memilih melakukan efisiensi secara bertahap, namun tetap berupaya secepat mungkin kembali ke strategi pertumbuhan.

“Kalau saya lihat dari sisi dunia usaha memilih untuk bisa efisiensi untuk cepat kembali kepada growth. Karena pertumbuhanlah yang memungkinkan penciptaan lapangan kerja dan menjaga perputaran ekonomi,” ujar Anin.

Anin mengingatkan bahwa dampak konflik di Timur Tengah tidak bersifat sementara. Perubahan yang terjadi berpotensi menggeser struktur rantai pasok global dalam jangka panjang.

“Nah, tentu kita tidak mengatakan atau menafikan bahwa apa yang terjadi di Timur Tengah ini dampaknya bukan hanya satu dua bulan atau satu dua kuartal, bisa lebih. Karena ini mengubah tatanan daripada supply chain atau rantai pasok,” jelas Anin.

Anin menegaskan, Business Pulse tidak hanya menjadi cermin kondisi dunia usaha, tetapi juga berfungsi sebagai early warning system serta jembatan antara kebijakan dan implementasi di lapangan. Survei ini juga memuat pandangan dunia usaha terkait kondisi ekonomi terkini, respons terhadap gejolak geopolitik dan geoekonomi, serta kebutuhan konkret dari pemerintah.

“Kadin adalah mitra strategis pemerintah, namun bukan pembuat kebijakan. Peran kami adalah menyampaikan apa yang dirasakan dan dibutuhkan pelaku usaha di lapangan, sehingga bisa menjadi pedoman dalam membaca kondisi ekonomi sekaligus memperluas ruang dialog antara dunia usaha dan negara,” terang Anin.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Kadin Indonesia Institute Mulya Amri, menjelaskan bahwa awal tahun 2026 diwarnai oleh meningkatnya ketidakpastian ekonomi global akibat dinamika geopolitik dan perubahan kebijakan antar-negara.

“Kondisi ini berdampak pada rantai pasok, fluktuasi harga komoditas, serta tekanan terhadap nilai tukar, termasuk peningkatan biaya operasional dunia usaha,” jelasnya.

Untuk itu, lanjut Mulya, survei Kadin Business Pulse Q1 2026 dilengkapi dengan pertanyaan yang lebih spesifik terkait kondisi bisnis, tantangan, serta dampak ketidakpastian global dan dinamika geopolitik terhadap pelaku usaha.

“Kami berharap hasil survei ini dapat menjadi referensi yang aktual untuk memahami apa yang sedang dialami dunia usaha saat ini,” katanya.

Lebih jauh, Direktur Insights Kadin Indonesia Institute Fakhrul Fulvian menjelaskan hasil survei Kadin Business Pulse Q1 2026 menunjukkan bahwa langkah antisipatif perusahaan terhadap dampak konflik geopolitik masih didominasi strategi internal.

“Efisiensi biaya operasional menjadi langkah utama yang dipilih 33,9% responden, menandakan bahwa pelaku usaha lebih fokus menjaga margin usaha dengan menekan biaya produksi, distribusi, dan operasional di tengah kenaikan harga input dan tingginya ketidakpastian global. Strategi ini memperlihatkan bahwa prioritas utama perusahaan saat ini bukan ekspansi, melainkan mempertahankan kesehatan arus kas dan stabilitas usaha,” terangnya.

Namun demikian lanjut Fakhrul, survei juga memperlihatkan bahwa 29,3% pelaku usaha belum atau tidak melakukan langkah khusus.

“Proporsi yang besar ini menunjukkan bahwa cukup banyak pelaku usaha masih cenderung bersikap wait and see, baik karena keterbatasan kapasitas untuk beradaptasi cepat, maupun karena belum adanya keyakinan mengenai strategi mitigasi yang paling tepat di tengah situasi yang terus berubah. Sikap ini mencerminkan kehati-hatian tinggi, tetapi sekaligus memperlihatkan bahwa sebagian dunia usaha masih rentan bila tekanan global berlangsung lebih lama,” pungkasnya.

Survei Kadin Business Pulse Q1 2026, Anindya Bakrie: Efisiensi Perlu, tapi Harus Cepat Kembali ke Growth
Pelaku Usaha Lebih Menjaga Efisiensi dan Wait and See Hadapi Ketidakpastian Global
Bertemu Dubes Republik Cile, Kadin Fokuskan Potensi Impor Ternak Hidup untuk MBG

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry

KADIN INDONESIA

Indonesian Chamber of Commerce and Industry