Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bidang Transformasi Teknologi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), dan Digitalisasi bersama Asosiasi Logistik Forwarder Indonesia /Indonesian Logistics Freight Forwarding Association dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI menggelar Coffee Morning: Strategic Policy Leaders Dialog dengan tajuk “Building Indonesia’s Sovereign Artificial Intelligence Future: From Energy Infrastructure and Industrial Logistics Nodes to Economic Impact” di Menara Kadin Indonesia, Jakarta Selatan, Rabu (02/09/2026).
Dialog ini menjadi wadah untuk membahas perkembangan dan pemanfaatan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dalam mendukung transformasi industri, termasuk sektor energi dan logistik, serta melihat dampaknya terhadap perekonomian nasional.
Wakil Ketua Umum (WKU) Kadin Indonesia Bidang Transformasi, Teknologi, UMKM, dan Digitalisasi Teguh Anantawikrama, mengatakan kualitas data menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan AI. Menurutnya, AI membutuhkan data yang baik agar dapat digunakan secara efektif, baik oleh pemerintah maupun dunia usaha.
“AI ini tidak mungkin menjadi pandai kalau kita tidak feeding dengan informasi. Kita harus educate mesin kita sehingga dia menjadi efektif untuk kita sendiri,” ujar Teguh.
Teguh menjelaskan, pemerintah saat ini tengah mendorong pembahasan Undang-Undang Satu Data untuk memperkuat integrasi data antarkementerian dan lembaga. Menurutnya, integrasi tersebut diperlukan untuk memastikan data yang digunakan memiliki data integrity, data security, dan data sovereignty.
“Data integrity, data security dan data sovereignty menjadi hal yang penting,” kata Teguh.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Pengembangan Hilirisasi Komoditas Besi dan Baja Kadin Indonesia Akbar Djohan, mengatakan perkembangan AI dan digitalisasi perlu diikuti dengan kesiapan sumber daya manusia serta konektivitas dalam ekosistem logistik. Menurutnya, sektor logistik memiliki keterkaitan yang luas sehingga transformasi teknologi harus melihat keseluruhan ekosistem, baik infrastruktur fisik maupun sumber daya manusia.
“Logistik itu tidak bisa stand alone, ada ekosistemnya. Kita membahas bagaimana connectivity antara seluruh ekosistem supply chain, mulai daripada hard infrastructure dengan soft infrastructure,” ujar Akbar.
Akbar menilai efisiensi menjadi salah satu kunci dalam meningkatkan daya saing industri logistik nasional. Untuk itu, upaya transformasi digital perlu berjalan bersama dengan kepastian usaha dan kepastian hukum agar perkembangan teknologi dapat memberikan dampak nyata bagi dunia usaha.
Ia juga menyoroti perubahan regulasi yang dinilai perlu mempertimbangkan karakteristik masing-masing industri. Menurutnya, tidak seluruh proses bisnis harus diatur secara ketat karena terdapat sektor yang dapat menerapkan mekanisme self-regulation.
“Tidak semua industri itu harus diregulatif. Tidak semua, ada self-regulatif yang disampaikan Pak Teguh tadi,” kata Akbar.
Akbar menambahkan, harmonisasi regulasi perlu dilakukan dengan melibatkan pelaku industri agar kebijakan yang diterapkan tidak menimbulkan biaya ekonomi tinggi dan menghambat daya saing.
“Kami berharap, Kadin Indonesia dapat terus menyampaikan masukan dunia usaha kepada pemerintah, khususnya terkait dampak regulasi terhadap kondisi di lapangan,” pungkasnya.