Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia resmi meluncurkan Nusantara Rising: Indonesia’s Collective Soft Power Movement sekaligus Indonesia Soft Power White Paper, dalam rangkaian IdeaFest 2026 di Jakarta International Convention Center, Senayan, Jakarta Pusat Kamis (04/09/2026).
Inisiatif ini disusun bersama pelaku industri dan akademisi, serta mendapat dukungan Kementerian Kebudayaan RI dan Kementerian Ekonomi Kreatif RI.
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan dan Pembangunan Berkelanjutan Kadin Indonesia sekaligus Ketua Panitia Shinta Widjaja Kamdani, membuka acara dengan memaparkan skala ekonomi yang selama ini luput dari perhatian.
Shinta mencontohkan industri drama pendek Tiongkok (duanju) yang baru berjalan tiga tahun namun sudah menghasilkan sekitar Rp156 triliun per tahun, setara nilai ekspor migas Indonesia pada 2024. Ia juga menyoroti Korea Selatan, yang investasi budaya pemerintahnya sebesar 440 juta dolar AS per tahun kini menggerakkan industri konten senilai 107 miliar dolar AS.
“Indonesia tidak kekurangan bahan baku. Yang belum ada adalah rajutan yang menyatukan semuanya secara strategis, dari pendekatan sektoral menuju ekonomi budaya sirkular, ujar Shinta.
Lebih lanjut, Wakil Ketua Umum (WKU) Bidang Kebudayaan Kadin Indonesia Rahayu Saraswati Djojohadikusumo menegaskan bahwa kekayaan budaya Indonesia, lebih dari 1.300 suku bangsa dan ratusan bahasa hidup, belum otomatis menjadi kekuatan. Ia menyampaikan bahwa tantangan struktural terbesar saat ini adalah the missing middle: banyak karya kreatif Indonesia terlalu besar untuk pembiayaan mikro, namun belum cukup bankable untuk pembiayaan korporasi atau modal ventura.
Rahayu menegaskan posisi Kadin Indonesia dalam ekosistem ini bersifat menjembatani, bukan menggantikan tugas kementerian.
“Kadin Indonesia tidak hadir untuk menggantikan peran pemerintah. Kadin Indonesia hadir untuk menjembatani kebijakan dengan industri, kreator dengan pembiayaan, dan IP lokal dengan peluang global,” ujarnya.
Sebagai perintis penyusunan White Paper, Ivan Chen dari Pengurus Kadin Indonesia Bidang Kebudayaan memaparkan riset di baliknya: pelajaran dari reklasifikasi anggaran budaya Korea Selatan pascakrisis 1997, keberpihakan yang dijamin Konvensi UNESCO 2005, hingga peran negara sebagai pembuat kebijakan. Ivan juga mengaitkan urgensi ini dengan data ketenagakerjaan: mayoritas pengangguran muda Indonesia berada di rentang usia yang sama dengan populasi yang juga mendominasi 183 juta pemain gim domestik.
“Generasi muda yang tidak berakar pada budayanya sendiri tidak akan tumbuh menjadi generasi emas. Itu bukan sekadar krisis kebudayaan. Itu krisis kedaulatan,” ujarnya.
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menyambut baik peluncuran Nusantara Rising dan menegaskan bahwa kekayaan budaya Indonesia memiliki potensi besar sebagai kekuatan ekonomi sekaligus soft power nasional.
“Indonesia memiliki mega cultural diversity. Kekayaan budaya kita bukan hanya warisan yang perlu dilestarikan, tetapi juga sumber kreativitas, nilai ekonomi, dan daya pengaruh Indonesia di dunia,” ujar Fadli.
Pada kesempatan yang sama, Kementerian Kebudayaan RI juga menyerahkan SK pembentukan Komite Nasional Soft Power Indonesia sebagai wadah kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat pengembangan soft power Indonesia.
Sementara itu, Menteri Ekonomi Kreatif RI Teuku Riefky Harsya, memaparkan keselarasan inisiatif ini dengan Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) Nasional yang telah diresmikan Presiden, dan memastikan sinergi keduanya ke depan.
Kementerian Ekonomi Kreatif RI lanjutnya, siap berkolaborasi dengan Kadin Indonesia dalam mendukung Nusantara Rising.
“Kita tidak ingin Indonesia hanya menjadi pasar bagi konten global, tetapi juga tumbuh sebagai content powerhouse yang mampu membawa budaya, karakter, dan cerita Indonesia menjadi karya kreatif anak bangsa; baik musik, film, animasi, maupun gim menuju panggung dunia,” katanya.
“Tantangan kita ke depan adalah bagaimana mengorkestrasi seluruh potensi tersebut agar tidak hanya menjadi kekuatan ekonomi, tetapi juga menjadi soft power Indonesia di tingkat global,” tambahnya.
Nusantara Rising dan Indonesia Soft Power White Paper diposisikan sebagai fondasi kolaborasi lintas hexahelix pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, media, dan mitra pembiayaan/teknologi, untuk menyatukan strategi dan program yang selama ini berjalan sektoral. Kadin Indonesia menegaskan dokumen ini bukan titik akhir, melainkan awal dari gerakan bersama menuju Indonesia Emas 2045.
Hadir dalam acara tersebut WKU Bidang Organisasi Kadin Indonesia Taufan Eko Nugroho Rotorasiko.